luka danperawatannya
Tanda-tanda dan gejala :
1. Nyeri di bagian luka.
2. Darah mengalir dari luka.
3. Lidah kebiru-biruan.
4. Semakin sulit bernapas.
5. Pingsan.
Tindakan
1. Jika korban pingsan, baringkan dalam posisi miring, bagian luka
di atas. Periksa saluran pernapasan, pernapasan, dan denyut nadi. Mulailah
pernapasan buatan dari mulut menekan dada.
2. Istirahatkan korban dalam posisi setengah duduk, sandarkan ke
bawah di bagian yang luka.
3. Segera lepaskan baju di sekitar luka. Letakkan tangan Anda di
atas luka.
4. Tutupi luka dengan perban steril atau gunakan pembalut dari
plastik atau aluminium foil. Plester kain penutup di dada yang terluka di tiga
sisi (atas, kanan, dan kiri) untuk mencegah udara masuk ke rongga dada. Jangan
memplester bagian bawah kain penutup. Biarkan terbuka sehingga udara yang
tertekan dapat keluar.
5. Segera mencari bantuan medis.
Perawatan Luka
March 3rd, 2008 by admin
DEFINISI
Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik
terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang.
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel
Mekanisme terjadinya luka :
1. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang
tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya
tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan
dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda
lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru
atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh
kaca atau oleh kawat.
6. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh
biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung
biasanya lukanya akan melebar.
7. Luka Bakar (Combustio)
Menurut tingkat Kontaminasi terhadap luka :
1. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak
terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan,
pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya
menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup
(misal; Jackson – Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
2. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka
pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam
kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya
infeksi luka adalah 3% - 11%.
3. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka
akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau
kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut,
inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.
4. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya
mikroorganisme pada luka.
Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka, dibagi menjadi :
Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang
terjadi pada lapisan epidermis kulit.
Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada
lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan
adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan
meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai
bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada
lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul
secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak
jaringan sekitarnya.
Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan
tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.
Menurut waktu penyembuhan luka dibagi menjadi :
1. Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep
penyembuhan yang telah disepakati.
2. Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan,
dapat karena faktor eksogen dan endogen.
PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan “proses peradangan”,
yang dikarakteristikkan dengan
lima
tanda utama: bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri
(pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup
beberapa fase :
1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat
perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak dicapai adalah
menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing, sel-sel
mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan. Pada awal
fase ini kerusakan pembuluh darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang
berfungsi sebagai hemostasis. Platelet akan menutupi vaskuler yang terbuka
(clot) dan juga mengeluarkan “substansi vasokonstriksi” yang mengakibatkan pembuluh
darah kapiler vasokonstriksi. Selanjutnya terjadi penempelan endotel yang akan
menutup pembuluh darah. Periode ini berlangsung 5-10 menit dan setelah itu akan
terjadi vasodilatasi kapiler akibat stimulasi saraf sensoris (Local sensory
nerve endding), local reflex action dan adanya substansi vasodilator (histamin,
bradikinin, serotonin dan sitokin). Histamin juga menyebabkan peningkatan
permeabilitas vena, sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah dan
masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi oedema jaringan dan keadaan
lingkungan tersebut menjadi asidosis.
Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada kulit,
oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4.
2. Fase Proliferatif
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan
menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat
besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan
produk struktur protein yang akan digunakan selama proses reonstruksi jaringan.
Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel fibroblas
sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan penunjang. Sesudah
terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam
daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa
substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronectin dan proteoglycans)
yang berperan dalam membangun (rekontruksi) jaringan baru. Fungsi kolagen yang
lebih spesifik adalah membentuk cikal bakal jaringan baru (connective tissue
matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat oleh fibroblas, memberikan pertanda
bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit
dapat memasuki kawasan luka. Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam
didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”.
Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah
terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth
faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.
3. Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang
lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah ; menyempurnakan terbentuknya
jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas
sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi, warna kemerahan dari jaringa mulai
berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah
banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari jaringan parut akan
mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan.
Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen
yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Kolagen yang berlebihan akan terjadi
penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, sebaliknya produksi yang
berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka.
Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan
jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktifitas normal.
Meskipun proses penyembuhanluka sama bagi setiap penderita, namun outcome atau
hasil yang dicapai sangat tergantung pada kondisi biologis masing-masing
individu, lokasi serta luasnya luka. Penderita muda dan sehat akan mencapai
proses yang cepat dibandingkan dengan kurang gizi, diserta penyakit sistemik
(diabetes mielitus).
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA
1. Usia
Semakin tua seseorang maka akan menurunkan kemampuan penyembuhan jaringan
2. Infeksi
Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat juga
menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang, sehingga akan menambah
ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun kedalaman luka.
3. Hipovolemia
Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya
ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
4. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap
diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang
besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga
menghambat proses penyembuhan luka.
5. Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya
suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum,
fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu
cairan yang kental yang disebut dengan nanah (“Pus”).
6. Iskemia
Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada
bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi
akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor
internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
7. Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah,
nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi
penurunan protein-kalori tubuh.
8. Pengobatan
• Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera
• Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
• Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri
penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan
tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.
NURSING MANAGEMENT
Dressing/Pembalutan
Tujuan :
1. memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
2. absorbsi drainase
3. menekan dan imobilisasi luka
4. mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
5. mencegah luka dari kontaminasi bakteri
6. meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
7. memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien
ALAT DAN BAHAN BALUTAN UNTUK LUKA
Bahan untuk Membersihkan Luka
• Alkohol 70%
• Aqueous and tincture of chlorhexidine gluconate (Hibitane)
• Aqueous and tincture of benzalkonium chloride (Zephiran Cloride)
• Hydrogen Peroxide
• Natrium Cloride 0.9%
Bahan untuk Menutup Luka
• Verband dengan berbagai ukuran
Bahan untuk mempertahankan balutan
• Adhesive tapes
• Bandages and binders
KOMPLIKASI DARI LUKA
a. Hematoma (Hemorrhage)
Perawat harus mengetahui lokasi insisi pada pasien, sehingga balutan dapat
diinspeksi terhadap perdarahan dalam interval 24 jam pertama setelah
pembedahan.
b. Infeksi (Wounds Sepsis)
Merupakan infeksi luka yang sering timbul akibat infeksi nosokomial di rumah
sakit. Proses peradangan biasanya muncul dalam 36 – 48 jam, denyut nadi dan
temperatur tubuh pasien biasanya meningkat, sel darah putih meningkat, luka
biasanya menjadi bengkak, hangat dan nyeri.
Jenis infeksi yang mungkin timbul antara lain :
• Cellulitis merupakan infeksi bakteri pada jaringan
• Abses, merupakan infeksi bakteri terlokalisasi yang ditandai oleh :
terkumpulnya pus (bakteri, jaringan nekrotik, Sel Darah Putih).
• Lymphangitis, yaitu infeksi lanjutan dari selulitis atau abses yang menuju ke
sistem limphatik. Hal ini dapat diatasi dengan istirahat dan antibiotik.
c. Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence adalah rusaknya luka bedah
Eviscerasi merupakan keluarnya isi dari dalam luka
d. Keloid
Merupakan jaringan ikat yang tumbuh secara berlebihan. Keloid ini biasanya
muncul tidak terduga dan tidak pada setiap orang.
Definisi
Didefinisikan sebagai kerusakan pada bagian tubuh yang
disebabkan oleh kekuatan mekanis. Beberapa pasal memiliki definisi tersendiri
tentang luka, berdasarkan kerusakan yang terjadi. Hal ini termasuk kerusakan
pada organ-organ dalam. Pasal lain juga menyebutkan tentang derajat luka, tidak
berdasarkan bentuknya namun berdasarkan akibatnya yang dapat membahayakan nyawa
korban.
Mekanisme luka
Tubuh biasanya mengabsorbsi kekuatan baik dari elastisitas
jaringan atau kekuatan rangka. Intensitas tekanan mengikuti hukum fisika. Hukum
fisika yang terkenal dimana kekuatan = ½ masa x kecepatan. Sebagai contoh, 1 kg
batu bata ditekankan ke kepala tidak akan menyebabkan luka, namun batu bata
yang sama dilemparkan ke kepala dengan kecepatan 10 m/s menyebabkan perlukaan.
Faktor lain yang penting adalah daerah yang mendapatkan
kekuatan. kekuatan dari masa dan kecepatan yang sama yang terjadi pada dareah
yang lebih kecil menyebabkan pukulan yang lebih besar pada jaringan. Pada luka
tusuk, semua energi kinetik terkonsentrasi pada ujung pisau sehingga terjadi
perlukaaan, sementara dengan energi yang sama pada pukulan oleh karena tongkat
pemukul kriket mungkin bahkan tidak menimbulkan memar.
Efek dari kekuatan mekanis yang berlebih pada jaringan tubuh
dan menyebabkan penekanan, penarikan, perputaran, luka iris. Kerusakan yang
terjadi tergantung tidak hanya pada jenis penyebab mekanisnya tetapi juga
target jaringannya. Contohnya, kekerasan penekanan pada ledakan mungkin hanya
sedikit perlukaan pada otot namun dapat menyebabkan ruptur paru atau
intestinal, sementara pada torsi mungkin tidaka memberikan efek pada jaringan
adiposa namun menyebabkan fraktur spiral pada femur.
Klasifikasi luka
- Abrasi
- Kontusi
- Laserasi
- Luka
insisi
Anatomi forensik kulit
Bagian paling atas adalah lapisan sel keratinisasi stratum
korneum yang ketebalannya bermacam-macam pada bagian-bagian tubuh tertentu.
Pada tumit dan telapak tangan adalah yang paling tebal sementara pada daerah
yang terlindungi seperti skrotum dan kelopak mata hanya pecahan dari
millimeter. Berkaitan dengan forensik pada perkiraan perlukaan penetrasi pada
kulit.
Kemudian epidermis yang tidak terdapat pembuluh darah.
Lapisan epidermis umumnya berkerut, permukaan bawahnya terdiri dari papilla
yang masuk ke dalam dermis. Demis (korium) terdiri dari jaringan ikat dengan
adneksa kulit sperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat.
Terdapat banyak pembuluh darah, saraf pembuluh limfe serta ujung saraf
taktil, tekan, panas.. bagian bawah dari dermis terdapat jaringan adiposa dan
(tergantung dari bagian tubuh) fascia, jaringan lemak, dan otot yang berurutan
di bawahnya.
Abrasi
Merupakan perlukaan paling superfisial, dengan definisi
tidak menebus lapisan epidermis. Abrasi yang sesungguhnya tidak berdarah karena
pembuluh darah terdapat pada dermis. Kontak gesekan yang mengangkat sel
keratinisasi dan sel di bawahnya akan menyebabkan daerah tersebut pucat dan
lembab oleh karena cairan eksudat jaringan.
Ketika kematian terjadi sesudahnya, abrasi menjadi kaku,
tebal, perabaan seperti kertas berwarna kecoklatan. Pada abrasi yang terjadi
sesudah kematian berwarna kekuningan jernih dan tidak ada perubahan warna.
Tangensial atau abrasi geser
Abrasi kebanyakan disebabkan gerakan lateral daripada
tekanan vertikal. Ketika tanda abrasi ini ditemui, arah kekuatan dapat
ditentukan dari sisa epidermis yang terbawa sampai ujung abrasi. Pemeriksaan
visual, bila perlu menggunakan lensa, dapat menunjukkan pergerakan dari tubuh.
Abrasi Crushing
Ketika penekanan vertikal pada permukaan kulit, tidak ada
goresan yang terjadi namun epidermis hancur dan obyek yang menghantam tercetak.
Jika hantaman tersebut kuat dan daerah permukaan kontak kecil akan terjadi luka
berlubang kecil dan abrasi hantaman terjadi. Kerusakan yang terjadi berupa
penekanan hingga depresi ringan dari permukaan atau paling tidak memar atau
tonjolan oedem lokal. Abrasi ini salah satu dari abrasi yang menunjukkan
cetakan dari obyek yang membuat luka.
Abrasi kuku jari
Sangat penting karena frekuensi pada serangan khususnya pada
penyiksaan anak, penyerangan seksual, dan penjeratan. Sering disertai memar
lokal. Abrasi kuku jari biasanya sering ditemukan pada leher, muka, lengan atas
dan lengan depan. Mungkin berupa goresan linear jika jari-jari tersebut menarik
ke bawah, tanda kurva atau garis lurus jika tangan tersebut menggenggam.
Lengan bagian depan sering merupakan lokasi untuk
penggenggaman dan menahan baik pada penyiksaan anak atau serangan pada orang
dewasa. Memar umum ditemukan, namun tanda kuku jari sdapat menumpang pada memar
tersebut. Ahli patologi harus berhati0hati dengan interpretasi yang salah.
Contohnya, memutuskan tanda kuku jari pada leher yang disebabkan oleh tangan
dari depan atau belakang leher.
Abrasi berpola
Abrasi yang terjadi mengikuti pola obyek . tidak hanya
epidermis yang rusak, kulit dapat tertekan mengikuti pola obyek, sehingga dapat
terjadi memar intradermal. Contohnya ketika ban motor melewati kulit,
meninggalkan pola pada kulit dimana kulit juga tertekan mengikuti alur
ban tersebut.
Abrasi post-mortem (sesudah kematian)
Dapat disebabkan berbagai macam, antara lain penyeretan pada
saat pemakaman, atau akibat proses otopsi. Pada saat proses pemakaman, khusunya
setelah dibersihkan dengan air panas. Pada otopsi kedua perlu diperiksa dengan
deskripsi sebelumnya atau dengan foto, jika beberapa luka yang ditemukan
diragukan.
Kontusio atau memar
Meskipun sering bersamaan dengan abrasi dan laserasi, memar
murni terjadi karena kebocoran pada pembuluh darah dengan epidermis yang utuh
oleh karena proses mekanis. Ekstravasasi darah dengan diameter lenih dari
beberapa millimeter disebut memar atau kontusio, ukuran yang lenih kecil
disebut ekimosis dan yang terkecil seukuran ujung peniti disebut petekie. Baik
ekimosis dan petekie biasanya terjadi bukan karena sebab trauma mekanis.
Kontusio disebabkan oleh kerusakan vena, venule, arteri
kecil. Perdarahan kapiler hanya dapat dilihat melalui mikroskop, bahkan petekie
berasal dari pembuluh darah yang lebih besar dari kapiler. Kata ‘memar’ mengacu
pada lesi yang dapat dilihat pada kulit atau yang terjadi pada subkutanea,
sementara ‘kontusio’ dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja seperti limpa,
mesenterium atau otot. Penggunaan kata memar lebih banyak digunakan dokter saat
memberikan laporan atau keterangan pada kalangan non-medik.
Memar Intradermal
Memar yang biasa terjadi akibat penekanan berada pada
subkutanea, sering pada jaringan adiposa. Jika dilihat, memar terjadi pada
perbatasan dermis dan epidermis. Namun kadang samara. Ketika memar terjadi
akibat penekanan dengan obyek berpola, perdarahan yang terjadi lebih dapat
dilihat, jika berada di lapisan subepidermal. Jumlah darahnya sedkiti namun
karena posisinya yang superfisial dan lapisan tipis di atasnya yang jernih
sehingga polanya dapat dibedakan. Memar ini terjadi ketika obyek yang menekan
memiliki pinggiran dan alur, sehingga kulit dipaksa mengikuti alur dan
bentuknya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Munculnya Memar
1. Kebocoran
pembuluh darah. Harus ada ruangan yang cukup untuk darah yang keluar
berakumulasi. Ini menjelaskna kenapa memar lebih mudah terjadi pada skrotum
daripada tumit dimana jaringan jaringan fibrosanya padat. Karena banyaknya
jaringan subkutanea pada orang yang gemuk, mereka lenih mudah terjadi memar
daripada orang yang kurus jika faktor lain seperti fragilitas pembuluh dan umur
sama.
2. Jumlah darah yang
keluar
3. Ruangan yang
cukup
4. Kedalaman memar
yang terjadi
5. Fragilitas
pembuluh darah
6. Pada orang yang
berbaring lama
Pergerakan dari Memar
Pada daerah superfisial memar muncul dengan cepat, sementara
pada area yang dalam membutuhkan waktu untuk muncul ke permukaan. Memar dapat
bergerak mengikuti
gaya
gravitasi. Contohnya, perdarahn subkutanea dapat turun melewati alis mata dan
muncul di orbita mata yang memberikan gambaran ‘mata hitam’ yang dapat
disalahartikan sebagai trauma langsung. Begitu juga memar pada lengan atas atau
betis, dapat turun sampai pada siku atau tumit.
Perubahan Memar oleh Waktu
Dengan berlalunya waktu, hematom yang terbentuk pecah oleh
pengaruh enzim jaringan dan infiltrasi seluler.sel darah merah menutupi ruptur
dan mengandung Hb membuat degradasi secara kimiawi yang memyebabkan perubahan
warna. Hemoglobin pecah menjadi hemosiderin, biliversin dan bilirubon yang
menyebabkan perubahan wanra memar dari ungu atau coklat kebiruan menjadi coklat
kehijauan, kemudian hijau kekuningan sebelum akhirnya samar.
Memar kecil pada deasa muda yang sehat akan menghilang dalam
waktu 1 minggu.
Namun pada memar akibat ‘gigitan
asmara
’ (cupang) akan menghilang dala waktu
beberapa hari, ini dikemukakan oleh nRoberts yang mengadakan penelitian.
Beberapa faktor yang berpengaruh antara lain:
- Besarnya
ekstravasasi - Umur
korban - Idosinkrasi
seseorang
Beberapa observasi yang ditemukan:
- Jika
ditemukan memar yang nampak baru tanpa disertai perubahan warna,
diperkirakan terjadi 2 hari sebelum kematian - Jika
memar terdapat perubahan warna kehijauan, diperkirakan terjadi tidak lebih
dari 18 jam sebelum kematian - Jika
ada beberapa memar dengan beberapa warna yang berbeda, berarti tidak
terjadi pada saat yang sama. Penting pada kasus penyiksaan anak.
Memar pada Tanda Khusus
Kumpulan memar bentuk koin kecil merupakan karakterisitik
tekanan jari baik pada pemegangan atautusukan. Sering nampak pada kasus
penyiksaan anak, dimana orang yang dewasa memegang dengan pegangan yang
nyaman. Biasa disebut ‘memar sixpenny’
Ketika permukaan kulit dilanggar oleh roda atau obyek berpola
seperti rotan, memar yang nampak mengikuti pola obyek tersebut.
Luka akibat tendangan
Telapak kaki dapat meninggalkan pola memar pada tubuh, sering pada abdomen dan
dada walaupun ini dapat dikenali pada leher dan wajah.Tendangan yang cepat
dapat menyebabkan luka lecet disertai memar, sedangkan menurut
arahnya,tendangan vertical menunjukkan memar intradermal dengan pola telapak
kaki.Kasus luka akibat tendangan menjadi hal biasa dengan meningkatnya
kekerasan pada masyarakat.Sebagian besar tendangan dilakukan pada korban yang
telah duduk atau terjatuh ketanah, yang sebelumnya disebabkan tindakan
kekerasan lainnya seperti mendorong atau memukul, sehingga setelah korban lemas
dan kaki pelaku menyerang bagian yang paling mudah seperti pinggang, paha,
leher dan area abdominal.Variasi lain tendangan yaitu pelaku menyerang
dari atas korban dengan cara loncat dan menendang dengan satu atau dua kaki,
sehinga dada paling sering terkena dan dapat menyebabkan patah tulang iga
maupun tulang dada.
Bahaya umum yang terjadi pada tendangan ke arah muka adalah patah tulang
mandibulla, maxilla, tulang hidung dan zygoma. Tendangan pada satu sisi wajah
dapat benar-benar melepas bagaian bawah dari maxilla dengan bagian lengkungan
gigi dam palatum.
Memar post mortem dan artefak lainnya
Khususnya pada kematian kongesti seperti tekanan pada leher, sistem vena dapat
tersumbat dan dapat terjadi memar. Salah satu area yang penting yang dapat
mendeskripsikan secara penuh disbanding yang lain adalah leher, dimana kumpulan
dari darah antara esophagus dan tulang belakang servikal dapat menimbulkan
memar dari stranhulasi.
Luka gores/Laserasi
Berbeda dengan luka iris dimana pada luka gores jringan yang
rusak menyobek bukan mengiris.
Laserasi dapat dibedakan dari luka iris :
- Garis
tepi memar dan kerusakan memiliki area yang sangat kecil sehingga untuk
pemeriksaanya kadang dibutuhkan bantuan kaca penbesar. - Keberadaan
rangkaian jaringan yang terkena terdapat pada daerah bagian dalam luka,
termasuk pembuluh darah dan saraf . - Tidak
adanya luka lurus yang tajam pada tulang dibawahnya,terutama jika yang
terluka daerah tulang tengkorak. - Jika
area tertutup oleh rambut seperti kulit kepala, maka rambut tersebut akan
terdapat pada luka.
Laserasi terpola
Laserasi tidak menciptakan kembali bentuk dari alat yang melukai, tendangan
dapat menyebabkan laserasi khususnya jika menggunakan sepatu boot yang besar
dengan ujung kakinya yang keras. Pukulan yang sangat keras dapat menyebabkan
laserasi linier atau stellate.
Luka akibat benda tumpul yang berpenetrasi
Luka ini merupakan luka campuran antara luka laserasi dan luka iris. Dapat
terjadi alibat dari pukulan besi atau sebilah kayu. Pada waktu alat tumpul
dipukulkan ke kulit, maka akan ada lekukan dan lecet pada sisinya, walaupun
bekas yang lebih dulu akan hilang jika alatnya telah ditarik kembali. Material
seperti karat, kotoran atau serpihan mungin tertinggal pada luka dan harus
sangat hati-hati dilindungi untuk pemeriksaan forensic, jika alat yang
digunakan belum diketahui.
Luka Iris
Adalah luka yang disebabkan oleh objek yang tajam, biasanya
mencakup seluruh luka akibat benda-benda seperti pisau, pedang, silet, kaca,
kampak tajam dll. Ciri yang paling penting dari luka iris adalah adanya
pemisahan yang rapih dari kulit dan jaringan dibawahnya, maka sudut bagian luar
biasanya bisa dikatakan bersih dari kerusakan apapun.
Luka potong
Adalah luka iris yang kedalamannya lebih panjang. Luka potong tidak lebih
berbahaya dibandingkan tikaman, sebagaimana ketidakdalaman luka tidak akan
terlalu mempengaruhi organ vital, khususnya target utama nya adalah tangan dan
muka.
Luka tikam dan luka yang berpenetrasi
Menikam biasanya dengan pisau, sering terjadi pada kasus
pembunuhan dan pembantaian.
Karakteristik dari alat tikam:
- Panjang,
lebar dan ketebalan pisau - Satu
atau dua sisi - derajat
dari ujung yang lancip - bentuk
belakang pada pisau satu sudut (bergerisi/kotak) - Bentuk
dari pelindung pangkal yang berdekatan dengan mata pisau - Adanya
alur, bergerigi atau cabang dari mata pisau - Ketajaman
dari sudut dan khususnya ujung dari mata pisau
Karakteristik luka tikam, dapat menerangkan tentang:
- Dimensi
senjata - Tipe
senjata - Kelancipan
senjata - Gerakan
pisau pada luka - Kedalaman
luka - Arah
luka - Banyaknya
tenaga yang digunakan
Petunjuk dari luka tusuk
Petunjuk dari luka tusuk sering dianggap sebagai suatu masalah pembunuhan
terutama sebagai persidangan, yang mengarah pada saat rekontruksi kejadian.
Kejadian-kejadian penusukan sering bergerak dan dinamis sehingga korban jarang
dalam keadaan statis. Penjelasan mengenai petunjuk berdasarkan gambaran luka
dan jejak benda. Saat pisau dengan mata pisau kurang cukup besar, maka luka
sering tampak terpotong bagian bawahnya mengenai jaringan subkutan. Pada
autopsy, menjelaskan seperti pada luka tusuk didada, kadang saat di autopsy
luka terletak dibawah puting. Pembedahan dari jaringan dan otot bisa
mengungkapkan bahwa kerusakan dinding dada terletak di ICS berapa . Informasi
ini menjadi petunjuk luka, mengambarkan jejak luka.
Perkiraan mengenai derajat kekuatan luka tusuk
Diberikan keterangan mengenai:
- Bagian
dari tulang atau pengerasan tulang rawan - Ketajaman
dari ujung pisau - Kecepatan
dating nya pisau - Kulit
yang elastis lebih mudah ditembus - Variasi
ketebalan kulit terhadap pisau, kulit telapak kaki lebih tebal
dari bagian tubih lain. - Luka
tembus yang disebabkan tusukan
Luka oleh senjata lain selain pisau
Pisau cukur dan pecahan gelas memiliki tepi tajam yang berbeda sehingga dapat
memberikan jejak yang berbeda pula. Pada derah luka yang berambut, maka akan
terlihat rambut akan terpotong.
Luka akibat Gunting
Sering ditemukan pada kejadian rumah tangga, dimana biasanya pelaku adalah
wanita, menggunakan senjata yang gampang, dikenal, mudah diraih. Gambaran luka
tergantung pada posisi gunting saat ditusukkan, terbuka atau tertutup. Pada
gunting yang terbuka, dengan satus sisi tertusuk, maka gambaran luka sukar
dibedakan dengan gambaran luka tusuk oleh pisau. Sedangkan untuk luka akibat
gunting yang tertutup, maka luka yang terbentuk seperti huruf Z atau seperti
kilatan cahaya.
Luka tangkis
Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan
pada umumnya ditemukan pada telapak tangan, punggung tangan, jari-jari tangan,
punggung lengan bawah dan tungkai. Bila pada keadaan tangkis dengan cara
menangkap mata pisau dengan telapak tangan, maka luka yang terjadi akan
mengiris telapak tangan, melintasi lekukan jari, mengiris kulit, jaringan
tendon atau kadang teririsnya keempat jari tangan
boy antoni putra………………. askep lo… 17 juli 2008