otitis media askep

OTITIS MEDIA

PATOFISIOLOGI

Otitis media
adalah inflamasi telinga tengah. Anak-anak yang berusia 6 tahun atau kurang
berisisko tinggi untuk ototitis media karena tuba eustachii mereka belum
ditunjang tulang rawan seperti pada anak-anak yang lebih besar dan orang
dewasa. Pada gangguan ini terjadi kolaps tuba eustachii, menimbulkan tekanan
negtaif di telinga tengah. Sebaliknya, terdapat gangguan drainase cairan
telinga tengah dan kemungkinan refluks sekresi esophagus ke daerah ini yang
secara normal bersifat steril. Otitis media adalah diagnosis yang paling sering
dijumpai pada anak-anak di bawah usia 15.

Ada

dua jenis otitis media yang umum ditemukan di klinik pediatric.

 

Otitis Media Akut

Otitis media akut adalah keadaan
terdapatnya cairan di dalam telinga tengah dengan tanda dan gejala infeksi, dan
dan dapat disebabkan pathogen. Termasuk Streptococcus
pneumoniae, catarrhalis
, virus, dan anaerob tertentu. Pada neonatus,
organisme enteric gram-negatif atau Staphyloccus
aureus
dapat pula menjadi organisme penyebab.

 

Otitis Media dengan Efusi

Otitis media dengan efusi dalah
keadaan terdapatnya cairan di dalam telinga tengah tanpa tanda dan gejala
infeksi. Pada penyakit ini tidak ada agens penyebab defenitif yang telah
diidentifikasi, meskipun otitis media dengan efusi terdapat pada anak yang
telah sembuh dari otitis media akut, selain pada mereka yang menderita alergi
dan infeksi virus pada saluran nafas atas.

 

INSIDENS

  1. Rentang usia insidens puncak otitis media adalah
         antara 5 sampai 24 bulan dan 4 sampai 6 tahun.
  2. Tujuh puluh persen anak yang menderita otitis media
         menunjukkan satu episode saat berusia 3 tahun, sedangkan sepertinganya
         memiliki lebih dari 3 episode.
  3. Anak dengan otitis media akut menunjukkan gejala
         tuli konduktif sementara selama sedikitnya 2 sampai 4 minggu setelah
         infeksi akut.
  4. Anak yang menderita otitis media dengan efusi
         mungkin menunjukkan tuli konduktif selama ada efusi.
  5. Lima

         puluh persen anak-anak dengan palatoskisis menderita otitis media kronik
         sebelum dilakukan koreksi pembedahan.

  6. Anak-anak yang terpajan asap rokok pasif memiliki
         angka insidens otitis media yang lebih tinggi secara signifikan.

 

MANIFESTASI KLINIS

Otitis Media Akut 

  1. Membran timpani merah, sering menonjol tanpa
         tonjolan tulang yang dapat dilihat, tidak bergerak pada otoskopi pneumatic
         (pemberian tekanan positif atau negative pada telinga tengah dengan
         insuflator balon yang dikaitkan ke otoskop)
  2. Keluhan nyeri telinga (otalgia), atau rewel dan
         menarik-narik telinga pada anak yang belum dapat bicara
  3. Demam (pada kira-kira setengah jumlah anak yang
         terkena)
  4. Anoreksia (umum)
  5. Limfadenopati servikal anterior

 

Otitis Media dengan Efusi

  1. Membran timpani kuning redup sampai abu-abu, sering
         terdapat retraksi, dengan mobilitas buruk pada otoskopi pneumatic
  2. Rasa penuh atau gatal di dalam telinga
  3. Tuli konduktif ringan sampai sedang

 

KOMPLIKASI

Hal yang Umum Terjadi

  1. Ruptur membrane timpani dengan otorea
  2. Tuli konduktif jangka pendek

 

Hal yang Jarang Terjadi

  1. Tuli permanen atau jangka panjang
  2. Meningitis
  3. Mastoiditis
  4. Abses Otak
  5. Kolesteatoma yang didapat (sakus telinga tengah
         terisi epitel atau keratin)

 

UJI LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK

  1. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan
         membrane timpani
  2. Kultur dan uji sensitivitas hanya dapat dilakukan
         bila dilakukan timpanosentesis (aspirasi jarum dari telinga tengah melalui
         membrane timpani)

 

PENATALAKSANAAN MEDIS

Dekongestan dan
antihistamin ternyata tidak membantu dalam mengatasi otitis media karena itu
penggunaannya tidak dianjurkan.

Antibiotik dapat digunakan untuk
otitis media akut. Pilihan pertama adalah amoksilin; pilihan kedua-digunakan
bila diperkirakan organismenya resisten terhadap amoksilin-adalah amoksilin
dengan klavulanat (Augementin; sefalosporin generasi kedua), atau trimetoprim
suliametoksazol. Pada anak yang alergi penisilin, dapat diberikan aritromisin
dan sulfonamide atau trimetropin-sulfa.Alergi silang terdapat sefalospirin
terjadi pada 8% anak-anak ini.

Untuk media dengan efusi, terapi
umum yang dilakukan adalah menunggu. Keadaan ini umumnya sembuh dalam 2 bulan.

Untuk otitis media dengan efusi yang persisten, dianjurkan untuk
meringotomi. Miringotomi adalah prosedur bedah memasukkan sedang
penyeimbang-tekanan ked ala membrane timpani. Hal ini memungkinkan ventilasi
dari telinga tengah, mengurangi tekanan negative dan memungkinkan drainase
cairan. Sedang itu, umumnya lepas sendiri setelah 6 sampai 12 bulan.
Kemungkinan komplikasinya adalah atrofi membrane timpani, timpanosklerosis
(parut pada membrane timpani), perforasi kronik, dan kolesteatoma.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

  1. Kaji adanya perilaku nyeri verbal dan non-verbal
  2. Kaji adanya peningkatan suhu
  3. Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di daerah
         leher
  4. Kaji status nutrisi dan keadekuatan asupan cairan
         berkalori
  5. Kaji kemungkinan tuli

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

· Nyeri

· Perubahan rasa aman

· Perubahan sensoris / persepsi : auditorius

 

INTERVENSI KEPERAWATAN

Otitis Media Akut

  1. Obati atau ajarkan keluarga untuk mengobati anak
         dengan analgesic dan antiperetik sesuai kebutuhan.

a. Demam

b. Nyeri Telinga

  1. Berikan cairan sedikit tapi sering dengan gelas
         atau sendok jika anak itu menolak menyusu dari ibunya atau dari botol
         (mengisap dapat menambah nyeri telinga pada anak kecil)
  2. Baeritahukan bahwa minum banyak air merupakan hal
         penting untuk anak yang menderita demam atau penyakit
  3. Ajarkan pada keluarga cara-cara pemberian
         antibiotic yang aman dan efektif
  4. Observasi atau ajarkan pada keluarga untuk
         mengobservasi adanya tanda komplikasi pada otitis akut

a. Draenase telinga

b. Tidak adanya perbaikan pada baik tanda maupun gejala
setelah diobati, terutama setelah 48 jam pemberian antibiotic yang sesuai

c. Kaku kuduk, rewel dan iritabilitas

 

Otitis Media dengan Efusi

1. Ajarkan pada keluarga tentang perjalanan penyakit ini
dan tidak diketahuinya etiologi dan pengobatan sebenarnya

2. Dukung anak dan keluarga jika terdapat tuli konduktif;
tenangkan mereka dengan memberitahu bahwa hal ini cenderung dapat sembuh
sendiri.

3. Jika diperlukan miringotomi, jelaskan prosedurnya
kepada anak dan orang tua dengan cara-cara yang sesuia usia.

 

Perawatan Pascabedah

Pantau respons
anak terhadap intervensi bedah (miringotomi dengan pemasangan selang
timpanostomi)

  1. Tanda-tanda vital (peningkatan suhu menandakan
         adanya infeksi)
  2. Otorea dari telinga (pemasangan selang)
  3. Adanya pendarahan
  4. Nyeri (lakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi
         nyeri dan beri obat bila perlu)
  5. Pendengaran

 

Perencanaan Pulang dan Perawatan di Rumah

1. Ajarkan pada anak dan orang tua tentang cara-cara
memelihara kepatenan selang timponostomi (mis; bila anak berenang, tutup
telinganya denga penutup telinga, jeli petroleum)

2. Instruksikan tentang pembatasan aktivitas anak sampai
anak sembuh betul

3. Ajarkan tentang pentingnya menghindarkan anak-anak dari
pemajanan asap rokok pasif, jika anggota keluarga tidak dapat atau enggan
berhenti merokok, hendaknya merokok di luar gedung

 

HASIL YANG DIHARAPKAN

  1. Anak bebas dari nyeri yang tercermin baik dari
         perilaku verbal maupun nonverbal
  2. Tingkat aktivitas dan nafsu makan anak kembali
         normal
  3. Anak tidak menunjukkan adanya gangguan pendengaran

REFERENSI

Berhman R et al: Disorders of the ear. In Nelson’s textbook of pediatrics,
Philadelpia. 1992. WB Saunders.

Berman S, Schmitt B: The ear; diseases and
disorders. In Hay W. et al, editors: Current
pediatric diagnosis and treatment
.1994.

Clark J, Queener S, Karb V: Antiinfective and
chiemotherapeutic agents. In
Pharmacologis basis of nursing practice
, St Louis.1993. Mosby.

The Otitis Media Guildeline Panel : Managing otitis
media with effusion in young children, Pediatrics 94 (5) : 766,1994.

 

 

BOY ANONI PUTRA

STIKES

FORT

DE

COCK BUKITTINGGI

17 juni 2008

Leave a Reply