askep waham???? tapi dire he.he.

CURRENT
ISSUE KEMATIAN ANAK( PENYAKIT DIARE )
 

 ABSTRAK

Diare adalah penyakit yang ditandai dengan
bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang
disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita.
Penyakit ini disebabkan
oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti
jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri
Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC). Secara klinis
penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi,
malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi
yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan
infeksi dan keracunan.

B A B  IPENDAHULUAN A.  Latar Belakang

Penyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita (bayi dibawah

lima

tahun) terbesar di
dunia. Menurut catatan Unicef, setiap detik satu balita meninggal karena diare
(Inisiatif Kemitraan Pemerintah-Swasta Untuk Cuci Tangan Pakai Sabun;
Available from : www.ampl.or.id
).
Diare seringkali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global
dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut catatan WHO, diare membunuh
dua juta anak di dunia setiap tahun, sedangkan di Indonesia, menurut Surkesnas
(2001) diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita
(Jangan Anggap Remeh Diare; Available from : www.medicastore.com).
Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460
balita setiap harinya.Penyakit Diare di negara maju walaupun sudah
terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi
tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang
menderita diare infeksi setiap tahunnya dan  1 dari 6 orang pasien yang
berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di
negara Barat ini oleh karena foodborne
infections
dan waterborne
infections
yang disebabkan bakteri Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus
cereus, Clostridium perfringens
dan Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC). Diare infeksi di
negara berkembang, menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun.
Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding
di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare     3
kali setiap tahun. (Diare Akut Disebabkan
Bakteri; Available from : www.library.usu.ac.id
).Diare
merupakan penyebab kematian nomor 2 pada Balita dan nomor 3 bagi bayi serta
nomor 5 bagi semua umur.
Setiap anak di

Indonesia

mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali per tahun. Dari hasil Survey
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di

Indonesia

, diare menempati urutan
ke ketiga penyebab kematian bayi (Elemen Seng Mampu Atasi Penyakit Diare;
Available from :  www.mediaindonesiaonline.com).
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi
berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan
bentuk dan konsistensi tinja dari penderita. (
Depkes R I,

Kepmenkes

RI

Tentang Pedoman P2D, Jkt, 2002). Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6
besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi,
dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis
adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. (

Depkes

RI

,

Kepmenkes

RI

Tentang Pedoman P2D , Jkt ,
2002
). Adapun penyebab-penyebab tersebut sangat
dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya keadaan gizi, kebiasaan atau
perilaku, sanitasi lingkungan, dan sebagainya.
Pada tahun 2004, Diare
merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kelima terbanyak setelah DBD, Campak,
Tetanus Neonatorium dan keracunan makanan.B. Rumusan MasalahBerdasarkan
latar belakang tersebut maka yang menjadi rumusan masalah dari makalah ini
adalah bagaimanakah gambaran epidemiologi, distribusi, frekuensi, determinant,
isu, dan program nasional dalam penanganan Penyakit Diare.C. TujuanUntuk
mendapatkan gambaran epidemiologi, distribusi, frekuensi, determinant, isu, dan
program nasional dalam penanganan Penyakit
Diare.        B A B
IITINJAUAN PUSTAKA A.
  Kematian AnakAnak merupakan  salah satu golongan
penduduk yang berada dalam situasi rentan, dalam kehidupannya di tengah
masyarakat. Kehidupan anak dipandang rentan karena memiliki ketergantungan
tinggi terhadap orangtua. Jika orangtua lalai menjalankan tanggung jawabnya,
maka anak akan menghadapi masalah. Angka  kematian bayi di Indonesia
sebenarnya telah menurun secara signifikan dari sebanyak 147 orang dari setiap 1000
kelahiran pada tahun 1967 menjadi 41 orang pada tahun 1997. Namun meningkat
kembali secara drastis pada tahun 1999 menjadi sebanyak 114 orang seiring
terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997.  (Dep. Kes. dikutip oleh
Baharsjah, 1999: 30)
                                                             
Tabel 1Proporsi Dan Peringkat Penyakit Diare Sebagai Penyebab Kematian Bayi Dan
Balita Tahun 1986, 1992, 1995, Dan 2001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun
  Survei

 

 

Penyebab
  Kematian Bayi

 

 

Penyebab
  Kematian Balita

 

 

Proporsi

 

 

Peringkat

 

 

Proporsi

 

 

Peringkat

 

 

SKRT
  1986

 

 

15,5%

 

 

3

 

 

-

 

 

-

 

 

SKRT
  1992

 

 

11%

 

 

2

 

 

-

 

 

-

 

 

SKRT
  1995

 

 

13,9%

 

 

3

 

 

15,3%

 

 

3

 

 

Surkesnas
  2001

 

 

9,4%

 

 

3

 

 

13,2%

 

 

2

 

 Sumber: SKRT dan
Surkesnas 2001
Berdasarkan pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa penyebab
kematian bayi akibat diare menurut SKRT yang paling tinggi terdapat pada tahun
1986 dengan proporsi sebesar 15,5% sedangkan pada tahun 2001 berdasarkan pada
data Sukenas diketahui bahwa proporsi diare mengalami penurunan sebesar 9,4%.B. Defenisi DiareDiare
adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri,
virus dan parasit lainnya seperti jamur, cacing dan protozoa. Salah satu
bakteri penyebab diare adalah bakteri Escherichia Coli Enteropatogenik (EPEC).
Budiarti (1997) melaporkan bahwa sekitar 55% anak-anak di Indonesia terkena
diare akibat infeksi EPEC. Gejala klinis diare yang disebabkan infeksi EPEC
adalah diare yang berair sangat banyak yang disertai muntah dan badan sedikit
demam (Cary dan Bhatnager, 2000 mengacu pada Donnenberg, 2001).Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi
berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan
bentuk dan konsistensi tinja dari penderita.
(

Depkes

RI

,

Kepmenkes

RI

Tentang Pedoman P2D,Jkt,2002). Secara klinis penyebab diare dapat
dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi,
keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan
di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan.
(

Depkes

RI

,

Kepmenkes

RI

Tentang Pedoman P2D , Jkt , 2002). Adapun
penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya
keadaan gizi, kebiasaan atau perilaku, sanitasi lingkungan, dan sebagainya.
C. Etiologi Penyakit Diare1.    
Infeksi BakteriBeberapa jenis bakteri dapat termakan melalui makanan atau
minuman yang terkontaminasi dan menyebabkan diare, contohnya Campylobacter,
Salmonella, Shigella dan Escherichia coli.2.    
Infeksi VirusBeberapa virus yang menyebabkan diare yaitu rotavirus,

Norwalk

virus, cytomegalovirus,
virus herpes simplex dan virus hepatitis. 3.    
Intoleransi MakananContohnya pada orang yang tidak dapat mencerna komponen
makanan seperti laktosa ( gula dalam susu).4.    
ParasitParasit, yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman dan
menetap dalam sistem pencernaan. Contohnya Giardia lamblia, Entamoeba
histolytica dan Cryptosporidium.5.      Reaksi
ObatContoh antibiotik, obat-obat tekanan darah dan antasida yang mengandung
magnesium.6.      Penyakit IntestinalPenyakit inflamasi
usus atau penyakit abdominal. Gangguan fungsi usus, seperti sindroma iritasi
usus dimana usus tidak dapat bekerja secara normal (Availble from : www.pom-obat.go.id)D. Gejala Penyakit DiareGejala
diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih
dalam sehari, yang kadang disertai :1.    
Muntah2.      Badan lesu atau
lemah3.      Panas4.    
Tidak nafsu makan5.      Darah dan lendir dalam
kotoranRasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh
infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja
berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula
mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala- gejala lain seperti flu
misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri
dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.F. Jenis- Jenis Diare1.      Diare akut : merupakan diare
yang disebabkan oleh virus yang disebut Rotavirus yang ditandai dengan buang
air besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya biasanya
(3 kali atau lebih dalam sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari. Diare
rotavirus ini merupakan virus usus patogen yang menduduki urutan pertama
sebagai penyebab diare akut pada anak2.      Diare
bermasalah: merupakan diare yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri,
parasit, intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi. Penularan secara fecal-
oral, kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga.
diare ini umumnya diawali oleh diare cair kemudian pada hari kedua atau ketiga
bar muncul darah, dengan maupun tanpa lendir, sakit perut yang diikuti
munculnya tenesmus panas disertai hilangnya nafsu makan dan badan terasa
lemah.3.      Diare persisten: merupakan diare akut
yang menetap, dimana titik sentral patogenesis diare persisten adalah kerusakan
mukosa usus. penyebab diare persisten sama dengan diare akut.(
Pedoman
Pemberantasan Penyakit Diare edisi ke 3 depkes RI Direktorat Jenderal PPM&
PL tahun 2007)
G. Proses Penularan Penyakit DiareAgent infeksius yang menyababkan
penyakit diare biasanya ditularkan melalui jalur fekaloral terutama karena :
1.      Menelan makanan yang terkontaminasi (terutama
makanan sapihan) atau air.2.      Kontak dengan tangan
yamg terkontaminasi.Beberapa faktor yang dikaitkan dengan bertambahnya
penularan kuman entero patogen perut termasuk :1.    
Tidak memadainya penyediaan air bersih.2.    
Pembuangan tinja yang tidak higienis3.    
Vektor4.      Aspek sosial ekonomi.H. Pencegahan Terjadinya
Diare
Untuk menurunkan angka kejadian kematian akibat diare maka
diperlukan upaya- upaya pencegahan sebagai
berikut:1.      Menggunakan air
bersih2.      Selalu mencuci tangan sebelum dan
sesudah makan3.      Penggunaan jamban untuk pembuagan
tinja4.      Memberikan
ASI5.      Memperbaiki makanan pendamping
ASI6.      Memberikan imunisasi campak.I. Pengobatan
Terhadap Penyakit Diare
Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi
maka penanggulangannya dengan cara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi
intensif bila telah terjadi dehidrasi. Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh
masyarakat adalah air kelapa, air tajin, ASI, air teh encer, sup wortel, air
perasan buah, dan larutan gula garam    (LGG). pemakaian cairan
ini lebih dititik beratkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi, sedangkan bila
terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaiknya diberi minum oralit.Oralit
merupakan salah satu cairan pilihan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi.
Oralit sudah dilengkapi dengan elektrolit, sehingga dapat menggantikan
elektrolityang ikut hilang bersama cairan (Menangani Diare Pada Anak Dengan
Tepat; Available from : www.medicastore.com)   
                                                         
Tabel 2Takaran Pemberian Oralit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Umur

 

 

Jumlah Cairan

 

 

Di
  bawah 1 thn

 

 

3
  jam pertama 1,5 gelas selanjutnya 0.5 gelas setiap kali mencret

 

 

Di
  bawah 5 thn (anak balita)

 

 

3
  jam pertama 3 gelas, selanjutnya 1 gelas setiap kali mencret

 

 

Anak
  diatas 5 thn

 

 

3
  jam pertama 6 gelas, selanjutnya 1,5 gelas setiap kali mencret

 

 

Anak
  diatas 12 thn & dewasa

 

 

3
  jam pertama 12 gelas, selanjutnya 2 gelas setiap kali mencret (1 gelas : 200
  cc)

 

Sumber: www.dinkesjakarta.comKarena penyebab Diare
akut / diare mendadak  tersering adalah Virus,  maka tidak ada
pengobatan yang dapat menyembuhkan, karena biasanya akan sembuh dengan
sendirinya setelah beberapa hari.  Maka pengobatan diare ini
ditujukan untuk mengobati gejala yang ada dan mencegah terjadinya
dehidrasi atau kurang cairan.  Diare akut dapat  disembuhkan hanya dengan meneruskan pemberian makanan seperti biasa dan minuman / cairan
yang cukup saja.Dalam hal ini yang perlu diingat pengobatan bukan memberi obat
untuk menghentikan diare, karena diare sendiri adalah suatu mekanisme
pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kontaminasi makanan dari usus. Mencoba
menghentikan diare dengan obat seperti menyumbat saluran pipa yang akan keluar
dan menyebabkan aliran balik dan akan memperburuk saluran tersebut. 
  BAB IIIGAMBARAN EPIDEMIOLOGI  A. Epidemiologi DiareKejadian
diare di negara berkembang antara 3,5- 7 episode setiap anak pertahun dalam dua
tahun pertama dan 2-5 episode pertahun dalam 5 tahun pertama kehidupan.
Departemen kesehatan RI dalam surveinya tahun 2000 mendapatkan angka kesakitan
diare sebesar 301/ 1000 penduduk, berarti meningkat dibanding survei tahun 1996
sebesar 280/ 1000 penduduk, diare masih merupakan penyebab kematian utama bayi
dan balita. Hasil Surkesnas 2001 mendapatkan angka kematian bayi 9,4% dan
kematian balita 13,2%. (Journal Medica Nusantara vol.27 no.2 april- juni
2006.” diare akut pada anak., Setia Budi S., Departemen ilmu kesehatan anak FK
UH/ RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo- Makassar”).
B. Distribusi Penyakit
Diare
1.      Distribusi Penyakit Diare
Berdasarkan Orang (umur)Sekitar 80% kematian diare tersebut terjadi pada anak
dibawah usia    2 tahun. data terakhir menunjukkan bahwa dari
sekitar 125 juta anak usia      0- 11 bulan, dan 450
juta anak usia 1-4 tahun yang tinggal di negara berkembang, total episode diare
pada balita sekitar 1,4 milyar kali pertahun. dari jumlah tersebut total
episode diare pada bayi usia di bawah 0-11 bulan sebanyak 475 juta kali dan
anak usia 1-4 tahun sekitar 925 juta kali pertahun. (Tinjauan Pustaka
“Diare Akut Pada Anak” oleh Setia Budi S, Departemen Ilmu Kesehatan Anak
FKUH/RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo-Makassar)
                                                         
Tabel 3Jumlah Kasus Penyakit Diare Di Kabupaten/

Kota

Sulawesi

Selatan Berdasarkan Umur Tahun
2004

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Umur
  (tahun)

 

 

Jumlah
  Kasus

 

 

Kematian
  (orang)

 

 

<
  1 tahun

 

 

28.946
  kasus

 

 

20
  orang

 

 

1
  – 4 tahun

 

 

57.087
  kasus

 

 

17
  orang

 

 

>
  5 tahun

 

 

91.379
  kasus

 

 

29
  orang

 

         Sumber:
Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PL
Berdasarkan pada tabel 3 dapat kita
lihat bahwa jumlah kasus diare yang terjadi di Sulawesi Selatan menurut umur
paling banyak terjadi pada usia > 5 tahun ini karena pada usia tersebut
memiliki imun yang rentan terhadap penyakit.Kematian akibat diare yang paling
tinggi terjadi pada umur >5 tahun yakni sebesar 29 orang, tingginya angka
kematian pada usia demikian karena pada balita jumlah makanan yang dikonsumsi
bertambah banyak berupa PMT dan aktivitas  bermain anak yang dapat
menyebabkan imunitas tubuh rendah.                                                             
Tabel 4Jumlah Kasus Penyakit Diare Di Kabupaten/

Kota

Sulawesi

Selatan Berdasarkan Umur Tahun
2005

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Umur
  (tahun)

 

 

Jumlah
  Kasus

 

 

Kematian
  (orang)

 

 

<
  1 tahun

 

 

27.029
  kasus

 

 

25
  orang

 

 

1
  – 4 tahun

 

 

60.794
  kasus

 

 

13
  orang

 

 

>
  5 tahun

 

 

100.347
  kasus

 

 

19
  orang

 

         Sumber:
Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PL
Berdasarkan pada tabel diatas dapat kita
lihat bahwa jumlah kasus diare pada tahun 2005 di Sulawesi Selatan berdasarkan
umur yang paling tinggi terjadi pada usia >5 tahun sebesar 100.347 kasus
sedangkan kematian yang paling banyak terjadi berada pada usia <1 tahun
yakni sebanyak 25 kematian.2.      Distribusi Penyakit
Diare Berdasarkan TempatBerdasarkan tempat maka distribusi penyakit diare di

Indonesia

banyak ditemukan di propinsi Nusa Tenggara Timur dengan CFR
1,28%.                                                    
Tabel
5                
        KLB Diare Per Propinsi Tahun
2005

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No

 

 

Propinsi

 

 

JumlahKab
  KLB

 

 

JumlahLetusan
  KLB

 

 

JumlahPenderita

 

 

JumlahMeninggal

 

 

CFR (%)

 

 

1.

 

 

NTT

 

 

3

 

 

15

 

 

2194

 

 

28

 

 

1,28

 

 

2.

 

 

Sulawesi

Tengah

 

 

1

 

 

1

 

 

69

 

 

13

 

 

18,84

 

 

3.

 

 

Lampung

 

 

1

 

 

2

 

 

95

 

 

2

 

 

2,11

 

 

4.

 

 

Sumatera
  Utara

 

 

2

 

 

2

 

 

145

 

 

6

 

 

8,38

 

 

5.

 

 

Maluku
  Utara

 

 

2

 

 

2

 

 

133

 

 

7

 

 

5,26

 

 

6.

 

 

Banten

 

 

2

 

 

5

 

 

1371

 

 

26

 

 

1,90

 

 

7.

 

 

Sumatera
  Selatan

 

 

1

 

 

1

 

 

95

 

 

1

 

 

1,05

 

 

8.

 

 

Jawa
  Timur

 

 

1

 

 

1

 

 

48

 

 

0

 

 

0,00

 

 

9.

 

 

Papua

 

 

1

 

 

1

 

 

486

 

 

37

 

 

7,61

 

 

10.

 

 

Jawa
  Barat

 

 

1

 

 

1

 

 

148

 

 

1

 

 

0,68

 

 

11.

 

 

NAD

 

 

5

 

 

8

 

 

267

 

 

6

 

 

2,25

 

   Sumber: Profil PP & PL 2005Berdasarkan pada tabel
diatas bahwa KLB diare yang palin tinggi yang paling besar terjadi pada daerah NTT
dengan CFR sebesar 1,28%. Hali ini di sebabakan tingkat sanitasi masyarakat
yang msih rendah, dimana pada daerah NTT tersebut terjadi kekurangan air,
sehingga aktivitas mereka terbatasi dengan minimnya persediaan air.Tabel
6Cakupan Penemuan Penderita DiareDi Propinsi

Sulawesi

Selatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kabupaten/Kota

 

 

Jumlah
  CakupanPenemuan Penderita Diare

 

 

Palopo

 

 

146,74
  %

 

 

Makassar

 

 

115,04%

 

 

Soppeng

 

 

112,63%

 

 

Enrekang

 

 

111,67%

 

   Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PLBerdasarkan pada tabel
diatas dapat kita lihat bahwa cakupan penemuan penderita diare lebih banyak
terdapat di daerah Palopo sebesar 146,74%. Hal ini karena petugas kesehatan
yang aktiv untuk menurunkan angka kejadia diare.3. Distribusi Penyakit Diare
Berdasarkan WaktuTabel 7Cakupan Penderita DiareDalam

Lima

Tahun Terakhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun

 

 

Jumlah
  Penderita Yang Dilaporkan

 

 

2000

 

 

4.771.340
  penderita

 

 

2001

 

 

2.873.414
  penderita

 

 

2002

 

 

1.788.492
  penderita

 

 

2003

 

 

1.950.745
  penderita

 

 

2004

 

 

596.050
  penderita

 

 Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PLBerdasarkan waktu maka distribusi
penyakit diare di Indonesia sering ditemukan pada musim pancaroba (perubahan
iklim dari musim hujan ke kemarau), sedangkan trend kejadian penyakit diare
terjadi pada tahun 2000 yakni sebanyak 4.771.340
penderita.                                                       
Tabel 8         Jumlah Penderita Diare
Dalam Tiga Tahun Terakhir di Sulawesi Selatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun

 

 

Jumlah
  Kasus (orang)

 

 

Jumlah
  Meninggal (orang)

 

 

CFR
  (%)

 

 

2003

 

 

172.742
  kasus

 

 

73
  orang

 

 

0,04%

 

 

2004

 

 

177.409
  kasus

 

 

66
  orang

 

 

0,04%

 

 

2005

 

 

188,168
  kasus

 

 

57
  orang

 

 

0,03%

 

Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PL Berdasarkan pada tabel
diatas dapat kita lihat bahwa  jumlah penderita diare yang terbanyak dalam
3 tahun terakhir yakni pada  tahun 2005, sedangkan jumlah penderita yang
meninggal yakni pada tahun 2003 sebesar 73 orang. D. Frekuensi Penyakit DiareAngka
kesakitan Diare tahun 2000 (survei oleh Subdit Diare, Ditjen PPM-PL) adalah 301
per 1.000 penduduk dan episode pada balita 1,3 kali per tahun. Pada tahun 2003
angka kesakitan Diare meningkat menjadi 374 per 1.000 penduduk dan episode pada
balita 1,08 kali per tahun. Cakupan penderita Diare yang dilayani dan
dilaporkan selama lima tahun terakhir cenderung menurun.Sementara itu jumlah
penderita diare yang dapat dihimpun melalui laporan Survei Subdit Diare,
Ditjen PPM-PL
cakupan penderita Diare dalam lima tahun terakhir ditemukan
bahwa jumlah penderita yang dilaporkan paling tinggi yakni pada tahun 2000
sebesar 4.771.340 penderita, sedangkan jumlah penderita yang dilaporkan paling
rendah yakni pada tahun 2004 sebesar 596.050
penderita.                                                    
Tabel
9             
Cakupan Penderita Diare Dalam

Lima

Tahun Terakhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun

 

 

Jumlah
  Penderita Yang Dilaporkan

 

 

2000

 

 

4.771.340
  penderita

 

 

2001

 

 

2.873.414
  penderita

 

 

2002

 

 

1.788.492
  penderita

 

 

2003

 

 

1.950.745
  penderita

 

 

2004

 

 


  596.050 penderita

 

 Sumber: Survei Subdit
Diare, Ditjen PPM-PL
Berdasarkan pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa cakupan
E. Isu Terbaru Penyakit Diare1. Produksi Telur Anti
Diare      
Diare merupakan penyakit infeksi
yang saat ini masih menjadi permasalahan di negara-negara berkembang, khususnya

Indonesia

.
Dengan tingkat kejadian yang masih tinggi tersebut, maka dilakukan
penelitian-penelitian dalam rangka menurunkan angka kejadian penyakit tersebut
terutama pada saat musim pancaroba. Telur anti-diare dapat diproduksi dengan
cara menyuntik ayam petelur dengan suspensi Escherichia coli Enteropatogenik
(EPEC) pada vena axilaris. Kemudian dilakukan pengulangan dua minggu berikutnya
masing-masing 3 kali. Antibodi akan ditransfer ke kuning telur sebagai
kekebalan yang diperoleh dari induk (kekebalan maternal) untuk anaknya.
Antibodi yang telah terbentuk pada serum, akan terbentuk pula pada kuning
telur. Antibodi dalam telur tersebut spesifik terhadap antigen yang disuntikan.
Misalnya penyuntikan ayam petelur dengan suspensi EPEC maka antibodi yang
dihasilkan spesifik terhadap EPEC.
Antibodi dalam telur selanjutnya diisolasi. Isolasi antibodi meliputi pemisahan
telur dari kuningnya, kemudian memurnikan antibodi dari lemak dan bahan lain.
Beberapa metode telah digunakan yaitu presipitasi PEG (Polyethylene Glycol),
Fraksinasi DEAE (dietilaminoetil) , ektraksi kloroform, water
dilution,presifitasi dengan dekstran sulfat atau dekstran blue dan lain-lain.
Antibodi yang telah dimurnikan dapat digunakan pada imunisasi pasif (pemberian
antibodi aktif secara oral) dan sebagai reagen uji diagnostik.Saat ini berbagai
riset produksi antibodi pada telur sedang dilakukan secara intensif oleh
beberapa peneliti, baik peneliti luar maupun di dalam negeri. Aplikasi
telur-anti diare yaitu memakan telur yang telah mengandung zat kebal yang bisa
menangkal wabah diare. Harapannya dengan memakan telur anti-diare matang selain
mengandung nutrisi tinggi, juga mengandung zat kebal. Dengan berhasilnya
produksi telur anti-diare, maka wabah penyakit diare dapat dicegah dengan
memakan telur anti-diare “Telur Anti Diare, A. Zaenal mustopa, Msi, 6 Maret
2007”; Available from : http://www.agrotek.agritechno.com/opini.html).
2. Elemen Seng
Mampu Mengatasi Penyakit
Diare            
Elemen
seng dinilai mampu mengatasi berbagai jenis penyakit infeksi, khususnya diare
yang sering ditemukan dinegara berkembang. Karena selain memberikan imunitas
pada tubuh, elemen seng juga mudah didapat dengan harga yang relatif murah.
Pengobatan penyakit infeksi seperti diare dengan elemen seng dinilai tidak akan
menimbulkan banyak masalah dibandingkan dengan menggunakan antibiotika yang
sering menimbulkan suatu masalah. Elemen seng mampu membunuh kuman-kuman
penyebab diare dan bisa didapat melalui metalloenzym pada tubuh dalam keadaan
normal sebagai imunitas dalam tubuh.Pengobatan dengan seng cocok diterapkan di
negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki banyak masalah
terjadinya kekurangan elemen seng di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan
yang rendah dan daya imunitas yang kurang memadai.Dari hasil penelitian Bhutta
ZA terhadap 900 anak-anak berusia di bawah lima tahun di negara-negara
berkembang, dengan memberikan sediaan elemen seng sebanyak 5 mg/hari pada bayi
dan 10 mg/hari pada anak berusia 1 – 4 tahun diperoleh sediaan elemen seng
yakni berupa seng asetat, glukonat atau sulfat yang diberikan selama 5 – 7 hari
seminggu, terbukti telah berhasil menurunkan angka kesakitan diare secara
signifikan (“Elemen Seng Mampu Atasi Penyakit Diar, Prof.Julius Effendi
Surjawidjaja,24 Juli 2007”; Available from : www.mediaindonesiaonline.com)
F. Program
Penanggulangan Penyakit Diare
Untuk menurunkan
angka kesakitan dan kematian diare Pemerintah dalam hal ini Departemen
Kesehatan R I, melalui Dinas Kesehatan melakukan beberapa upaya sebagai berikut
:1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas Tatalaksana Penderita diare melalui
pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), dan Pelembagaan Pojok
Oralit.2.  Mengupayakan Tatalaksana Penderita diare di Rumah Tangga secara
tepat dan  benar.3. Meningkatkan Upaya Pencegahan melalui kegiatan KIE,
dan meningkatkan upaya kesehatan bersumber masyarakat.4.  Meningkatkan
sanitasi lingkungan.5. Peningkatan Kewaspadaan Dini dan Penanggulangan Kejadian
Luar Biasa Diare
            BAB
IVP E N U T U P A.
 Kesimpulan 1.      Sekitar 80%
kematian diare tersebut terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Diare merupakan
salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita, nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. 2.    
Jumlah kasus tertinggi penyakit diare di Kabupaten/Kota Sulawesi Selatan
berdasarkan orang (umur) pada tahun 2004 yakni pada kelompok
umur          > 5 tahun
sebanyak 91.379 kasus. Pada tahun 2005 kasus tertinggi juga ditemukan pada
kelompok umur > 5 tahun sebanyak 100.347
kasus.3.      Berdasarkan tempat maka distribusi
penyakit diare di

Indonesia

pada tahun 2005 banyak ditemukan di propinsi Nusa Tenggara Timur dengan CFR
sebesar 1,28%.

  1. Berdasarkan waktu maka
         distribusi cakupan penderita  diare yang dilaporkan dalam

    lima

    tahun terakhir
         terjadi pada tahun 2000 dengan jumlah penderita yang dilaporkan 4.771.340
         penderita.

B. Saran    
Berdasarkan
data-data tersebut maka dianggap perlu untuk membahas mengenai persoalan
penyakit diare sebagai penyumbang penyebab tertinggi ke dua kematian anak,
sehingga semua pihak dapat mengupayakan strategi dalam rangka mengurangi
kematian anak akibat diare demi peningkatan kualitas anak.
DAFTAR PUSTAKA Candra Segeren, Mohammad Djuffrie, Sri
Suparyati Soenarto, Berkala Ilmu Kedokteran vol.37, No.4/2005, Faktor
Risiko Kejadian Hipernatremia Pada Anak Balita Dengan Diare Cair Akut
;
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta. Depkes R I, Kepmenkes RI Tentang
Pedoman P2D, Jkt, 2002
Diare Akut Disebabkan
Bakteri Available from : www.library.usu.ac.id)
Diare, Available from : www.dinkesjakarta.comElemen
Seng Mampu Atasi Penyakit Diare        Available
from :www.mediaindonesiaonline.com Inisiatif
Kemitraan Pemerintah-Swasta Untuk Cuci Tangan Pakai
Sabun       Available from : www.ampl.or.id Jangan
Anggap Remeh Diare      Available from : www.medicastore.comMenangani
Diare Pada Anak Dengan Tepat       Available from
: www.medicastore.com Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare edisi ke 3 depkes RI
Direktorat Jenderal PPM & PL Tahun 2007
Setia Budi S, Journal
Medica Nusantara vol.27 no.2 April- Juni 2006, Diare Akut Pada Anak;
Departemen ilmu kesehatan anak FK UH/ RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo- Makassar Tinjauan Pustaka “Diare Akut Pada Anak” oleh Setia
Budi S, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUH/RSUP Dr. Wahidin
Sudirohusodo-Makassar Telur Anti Diare, A.
Zaenal mustopa, Msi         Available
from : http://www.agrotek.agritechno.com/opini.html
  
 

kamis, 18 Januari 2007 15:16

Angka Kejadian Diare di Indonesia Masih Tinggi

Kapanlagi.com - Angka kejadian diare, penyakit yang ditandai perubahan
konsistensi tinja dan peningkatan frekuensi berak, di sebagian besar wilayah

Indonesia

hingga saat ini masih tinggi.

Kepala
Subdit Diare dan Kecacingan Departemen Kesehatan I Wayan Widaya di Jakarta,
Kamis, mengatakan, angka kejadian diare Indonesia menurut survei morbiditas
yang dilakukan Departemen Kesehatan tahun 2003 berkisar antara 200-374 per 1000
penduduk.

"Sedangkan
pada balita, setiap balita rata-rata menderita diare satu sampai dua kali dalam
satu tahun," katanya serta menambahkan bahwa tingkat kematian akibat diare
pun masih cukup tinggi.

Menurut
hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 angka kematian akibat
diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita.

Selama
2006, kata Wayan, sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan Kejadian Luar
Biasa (KLB) diare di wilayahnya.

Jumlah
kasus diare yang dilaporkan, kata dia, sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya
menyebabkan kematian (Case Fatality Rate/CFR=2,5 persen).

Hal
tersebut, kata dia, utamanya disebabkan oleh rendahnya ketersediaan air bersih,
sanitasi yang buruk dan perilaku hidup tidak bersih.

Ia
menyebutkan menurut laporan dari 119 dinas kesehatan kabupaten/kota tahun 2004
air bersih yang memenuhi syarat kesehatan hanya 57,09 persen.

Sementara
persentase keluarga yang menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan baru
sekitar 67,12 %.

Lebih
lanjut Wayan menjelaskan, guna menurunkan angka kejadian dan kematian akibat
diare pihaknya memfokuskan strategi penanganan pada penatalaksanaan diare pada
tingkat rumah tangga, sarana kesehatan dan KLB diare.

Penatalaksanaan
kasus diare yang tepat pada ketiga hal tersebut diharapkan dapat menurunkan
fatalitas akibat penyakit.

Selain
itu, ia melanjutkan, dilakukan pula upaya pencegahan melalui promosi pemberian
ASI dan Makanan Pendampingan ASI, penggunaan air bersih, penggunaan jamban,
cuci tangan dan pembuangan tinja pada tempat yang tepat. (*/rsd)

DIARE

Penyakit
diare masih sering menimbulkan KLB ( Kejadian Luar Biasa ) seperti halnya
Kolera dengan jumlah penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.Namun
dengan tatalaksana diare yang cepat, tepat dan bermutu kematian dpt ditekan
seminimal mungkin. Pada bulan Oktober 1992 ditemukan strain baru yaitu Vibrio
Cholera 0139 yang kemudian digantikan Vibrio cholera strain El Tor di tahun
1993 dan kemudian menghilang dalam tahun 1995-1996, kecuali di India dan
Bangladesh yang masih ditemukan. Sedangkan E. Coli 0157 sebagai penyebab diare
berdarah dan HUS ( Haemolytic Uremia Syndrome ). KLB pernah terjadi di

USA

, Jepang, Afrika selatan dan

Australia

. Dan
untuk

Indonesia

sendiri kedua strain diatas belum pernah terdeksi.

Defenisi
Suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari
tinja , yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih
dari biasanya. (3 kali atau lebih dalam 1 hari.

Faktor yang mempengaruhi diare :
Lingkungan Gizi Kependudukan
Pendidikan Sosial Ekonomi dan Prilaku Masyarakat
Penyebab terjadinya diare :
Peradangan usus oleh agen penyebab :

1. Bakteri , virus, parasit ( jamur, cacing , protozoa)
2. Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia
3. Kurang gizi
4. Alergi terhadap susu
5. Immuno defesiensi

Cara penularan :
Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makan makanan / air minum yang
terkontaminasi tinja / muntahan penderita diare. Penularan langsung juga dapat
terjadi bila tangan tercemar dipergunakan untuk menyuap makanan.

Istilah diare :
Diare akut = kurang dari 2 minggu
Diare Persisten = lebih dari 2 minggu
Disentri = diare disertai darah dengan ataupun tanpa lendir
Kholera = diare dimana tinjanya terdapat bakteri Cholera
Tatalaksana penderita diare yang tepat dan efektif :
Tatalaksana penderita diare di rumah
Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga (kuah sayur, air tajin, larutan gula
garam, bila ada berikan oralit)
Meneruskan pemberian makanan yang lunak dan tidak merangsang serta makanan
ekstra sesudah diare.
Membawa penderita diare ke sarana kesehatan bila dalam 3 hari tidak membaik
atau :
1. buang air besar makin sering dan banyak sekali
2. muntah terus menerus
3. rasa haus yang nyata
4. tidak dapat minum atau makan
5. demam tinggi
6. ada darah dalam tinja

Kriteria KLB/Diare :
Peningkatan kejadian kesakitan/kematian karena diare secara terus menerus
selama 3 kurun waktu berturut-turut (jam, hari, minggu). - Peningkatan
kejadian/kematian kasus diare 2 kali /lebih dibandingkan jumlah
kesakitan/kematian karena diare yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya
(jam, hari, minggu). - CFR karena diare dalam kurun waktu tertentu menunjukkan
kenaikan 50% atau lebih dibandingkan priode sebelumnya.

Prosedur Penanggulangan KLB/Wabah.

1. Masa pra KLB
Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan
Sistem Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu melakukakukan langkah-langkh
lainnya :
1. Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistik.
2. Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas.
3. Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
4. Memperbaiki kerja laboratorium
5. Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain

Tim Gerak Cepat (TGC) :
Sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan pengamatan dan
penanggulangan wabah di lapangan sesuai dengan data penderita puskesmas atau
data penyelidikan epideomologis. Tugas /kegiatan :

Pengamatan :
Pencarian penderita lain yang tidak datang berobat.
Pengambilan usap dubur terhadap orang yang dicurigai terutama anggota keluarga
Pengambilan contoh air sumur, sungai, air pabrik dll yang diduga tercemari dan
sebagai sumber penularan.
Pelacakan kasus untuk mencari asal usul penularan dan mengantisipasi
penyebarannya
Pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang
ditemukan di lapangan.
Penyuluhahn baik perorang maupun keluarga
Membuat laporan tentang kejadian wabah dan cara penanggulangan secara lengkap

2. Pembentukan Pusat Rehidrasi
Untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan.
Tugas pusat rehidrasi :
Merawat dan memberikan pengobatan penderita diare yang berkunjung.
Melakukan pencatatan nama , umur, alamat lengkap, masa inkubasi, gejala
diagnosa dsb.
Memberikan data penderita ke Petugas TGC
Mengatur logistik
Mengambil usap dubur penderita sebelum diterapi.
Penyuluhan bagi penderita dan keluarga
Menjaga pusat rehidrasi tidak menjadi sumber penularan (lisolisasi).
Membuat laporan harian, mingguan penderita diare yang dirawat.(yang diinfus,
tdk diinfus, rawat jalan, obat yang digunakan dsb.


Tanggal dibuat : 09/02/2005 @ 19:44
Revisi terakhir : 03/02/2007

Selasa, 08 Agustus 2006

Biasakan Cuci Tangan Karena Menyehatkan

Mungkin Anda masih ingat syair lagu anak-anak
berikut ini, ”Sebelum kita makan dik, cuci tanganmu dulu”. Ya, cuci tangan
memang penting tapi masih dianggap hal yang sepele. Padahal dari kebiasaan
inilah kesehatan manusia bisa terbentuk.

Cuci tangan adalah awal penting untuk mencegah
terjadinya berbagai penyakit. Sebab dengan tangan yang bersih, maka kemungkinan
tertularnya virus atau bakteri yang menempel pada tangan akan semakin mengecil.
Apalagi bila cuci tangan dilakukan dengan menggunakan sabun.

Tangan manusia, kata dr Titis Iramawati, dari
Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, seringkali bersentuhan dengan
benda-benda kotor yang mengandung bakteri atau kuman penyakit. Karena itu,
bakteri atau virus yang menempel pada tangan perlu dibersihkan dengan cara
dicuci menggunakan sabun.

”Sabun bisa meluruhkan kuman atau bakteri yang
menempel pada tangan. Sedangkan di rumah sakit, sabun yang digunakan untuk cuci
tangan para dokter dan perawat biasanya mengandung antiseptik,” ungkapnya
kepada wartawan, pekan lalu.

Tindakan preventif
Cuci tangan dengan sabun adalah langkah penting untuk mencegah timbulnya
penyakit atau preventif. Tindakan ini lebih efektif dan murah dibandingkan
dengan tindakan kuratif atau pengobatan.

Beberapa jenis penyakit yang bisa dicegah dengan
cuci tangan antara lain diare, tipus, disentri, dan penyakit lain yang terkait
dengan perut atau usus (thypoid). ”Cuci tangan pakai sabun adalah cara efektif
untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit tersebut,” ujar Titis menambahkan.

Lalu kapan sebaiknya cuci tangan dilakukan?
Menurut Titis, ketika habis bepergian, sebaiknya cuci tangan dengan sabun.
Sebab saat bepergian, tangan seringkali menyentuh benda-benda kotor yang
mengandung bakteri atau virus.

Selain itu, juga ketika hendak makan dan
sesudahnya. Yang tak kalah penting adalah sesudah buang air kecil atau besar.
”Bagi para dokter atau tenaga medis, cuci tangan sebaiknya dilakukan ketika
akan memegang pasien dan sesudahnya. Juga setelah operasi. Ini penting untuk
mencegah penularan infeksi,” jelas Titis.

Penelitian
Sejumlah penelitian di berbagai negara telah membuktikan pentingnya cuci tangan
untuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Berbagai literatur menyebutkan, ada
korelasi yang signifikan antara kebiasaan cuci tangan memakai sabun dengan
turunnya angka terkena penyakit.

Sebuah penelitian yang dilakuklan di Kota
Karachi Pakistan dan hasilnya dilaporkan dalam Jurnal Lancet, menemukan fakta
bahwa mereka yang memiliki kebiasaan cuci tangan dengan sabun memiliki risiko
kecil terkena berbagai jenis penyakit, seperti radang paru (pneumonia), diare,
dan infeksi kulit (impetigo).

Dalam penelitian tersebut, para peneliti membagi
responden menjadi tiga grup. Grup pertama diberi sabun antibakteri. Grup kedua
diberi sabun biasa.Sedangkan grup ketiga sebagai kelompok kontrol, tidak diberi
sabun apapun.

Untuk memastikan sabun tersebut digunakan secara
rutin, maka para petugas mengunjungi grup yang diberi sabun secara rutin dalam
satu tahun. Sedangkan grup responden yang tidak diberi sabun tidak mendapat
kunjungan.

Hasilnya, pada grup responden yang diberi sabun,
angka kejadian radang paru (pneumonia) turun sebesar 54 persen. Angka kejadian
diare juga turun sebesar 53 persen serta angka prevalensi penyakit kulit
(impetigo) turun menjadi 34 persen pada anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Penelitian tersebut membuktikan pentingnya cuci tangan dengan sabun untuk
menjaga kesehatan tubuh.

Kesadaran rendah
Sementara itu, Senior Brand Manager Lifebuoy, Elfi Emilia, menyatakan,
fakta membuktikan bahwa kebiasaan mencuci tangan dengan sabun ternyata dapat
mengurangi insiden diare sampai dengan 50 persen atau sama dengan menyelamatkan
sekitar satu juta anak di dunia dari penyakit tersebut setiap tahunnya.

Namun, kesadaran masyarakat

Indonesia

untuk mencuci tangan
dengan sabun masih rendah. Hasil riset yang diadakan oleh Koalisi untuk
Indonesia Sehat (KuIS) dan Lifebuoy Berbagi Sehat mengenai kebiasaan mencuci
tangan dengan sabun di beberapa daerah di

Indonesia

, terungkap fakta yang
mengejutkan. Hampir 80 persen responden, termasuk para ibu yang memiliki
balita, ternyata tidak mencuci tangan dengan sabun, baik sebelum makan, setelah
melakukan pekerjaan di luar rumah dan bahkan setelah buang air besar maupun
buang air kecil.

”Karena itu perlu adanya kampanye tentang
kebiasaan mencuci tangan yang baik dan benar, yakni dengan menggunakan sabun,”
katanya.

Praktisi kedokteran, Dr Handrawan Nadesul juga
menengarai masih rendahnya kebiasaan masyarakat

Indonesia

mencuci tangan dengan
sabun. Indikasi ini dapat dilihat antara lain pada masih tingginya tingkat
penyakit diare, tifus, dan cacing terutama pada anak-anak. Orang yang tidak
memiliki kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah
melakukan aktivitas akan mengalami kerugian secara medis dan ekonomis, sehingga
harus mengeluarkan biaya besar untuk pengobatan.

Di Indonesia, lanjutnya, penyakit diare termasuk
memprihatinkan karena bisa berakibat kematian. ”Padahal penyakit diare, tifus,
dan cacing dapat dicegah dengan satu kebiasaan sederhana yaitu cuci tangan
dengan sabun sebelum makan dan sesudah melakukan aktivitas. Bahkan cuci tangan
dengan sabun juga dapat mencegah penularan virus flu burung dari hewan ke
manusia,” terangnya.

Mencermati kondisi ini, kata dr Titis, sangat
penting untuk membiasakan cuci tangan dengan sabun menjadi perilaku
sehari-hari. Terutama adalah untuk anak-anak. Sebab mereka sangat rentan
terkena berbagai jenis penyakit.

”Perlu ditanamkan kepada anak-anak tentang
kebiasaan cuci tangan menggunakan sabun. Anak-anak memiliki kebiasaan menyentuh
muka dan memasukkan jari-jari ke mulut atau hidung. Ini bisa menyebabkan risiko
terkena flu atau diare. Jika sejak kecil kebiasaan cuci tangan dengan sabun sudah
tertanam dengan baik, maka ketika dewasa mereka akan memiliki pola hidup dan
kebiasaan yang baik dan sehat,” ujarnya menjelaskan.

Penanaman kebiasaan cuci tangan tersebut,
menurut Titis, bisa dilakukan di sekolah. Misalnya, sebelum masuk ke kelas, anak-anak
diminta untuk cuci tangan terlebih dahulu.

”Kebiasaan mencuci tangan sebaiknya dipandang
sebagai bagian dari penegakkan disiplin dalam keluarga.

Gaya

hidup dan kebiasaan mencuci tangan
setelah dari kamar mandi, sebelum dan sesudah makan, serta sehabis bepergian,
sebaiknya diterapkan sebagai kebiasaan hidup sehari-hari, khsusunya kepada
anak-anak,” kata Titis menegaskan.

( jar )
P2M Garut Lacak Indikasi Wabah Diare

Kepala
Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan kabupaten Garut,
Drg Iman Firmanullah menyatakan, Kamis (2/6), pihaknya kini tengah melacak
andanya indikasi wabah jenis penyakit diare, menyusul sekurang-kurangnya 20
warga setempat masih dirawat di RSU Dr Slamet bahkan telah empat orang
penderita meninggal dunia.

Keempat orang yang meninggal dunia itu berusia mulai empat tahun kebawah antara
lain berasal dari kecamatan Bungbulang, Cinisti dan dari Pasir kiamis, yang
sementara diprediksikan sebagai individual kasuistik meski tidak mustahil bisa
menjadi ancaman tejadinya kejadian luar biasa (KLB), ujar Firmanullah.

Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Kesehatan Garut, Dr H. Hendy Budiman MKes
mengatakan, dirinya- pun akan langsung melakukan pelacakan termasuk
inventarisasi biodata penderita diare yang masih dirawat di rumah sakit,
sekaligus mengidentifikasi daerah-daerah endemis diare untuk secepatnya
dilakukan lanjutan penanganannya.

Pada bagian lain keterangannya Kepala Bidang P2M, Iman Firmanullah
mengingatkan, penyakit diare di

Indonesia

merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, akibat masih
tingginya angka kesakitan karena diare menimbulkan banyak kematian terutama
pada bayi dan anak balita.

Berdasarkan survey

Depkes

RI

menunjukkan, angka kesakitan akibat diare
untuk seluruh golongan umur berkisar 120-360 per 1.000 penduduk, balita
menderita satu atau dua kali episode diare setiap tahun sebagian besar
menyebabkan kematian pada anak balita 76 persen, sedangkan kematian pada anak
bayi diperkirakan 15,5 persen. 

Penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 220 juta orang, diperkirakan masih
terdapat kematian balita karena diare sebesar 5/1.000 balita atau
sekurang-kurangnya 135.000 kematian bayi dan balita setiap tahun akibat diare,
msih tingginya angka kesakitan dan kematian akibat jenis penyakit ini dikarnakan
tidak memadainya kondisi kesehatan lingkungan.

Selain itu pengaruh faktor-faktor lainnya berupa kondisi sosial ekonomi
masyarakat, keadaan gizi, kependudukan, pendidikan serta perilaku masyarakat
yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi penyakit itu.

Disebutkan, diare yakni penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan
konsistensi tinja melembek sampai cair serta bertambah frekuensi buang air
besar lebih dari biasanya, diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali
sehari dengan/tanpa darah maupun lendir dalam tinja, sementara itu diare akut
yakni diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari tujuh
hari.

Disusul diare persisten, diare yang berlangsung lebih dari dua minggu kemudian
disentri adalah diare yang disertai oleh darah atau lendir, penyebabnya berupa
bakteri vibrio cholera, shigela, salmonella, E. Coli, Bacillus cereus,
Clostridium, Perfingens, Staphylococcus juga disebabkan virus serta
varasit. 

Therafi bisa dilakukan dengan mengatasi diare tanpa dehidrasi, meneruskan
therapi diare di rumah serta memberikan therapi awal jika anak kembali terkena
diare, berikan anak lebih banyak cairan dibandingkan biasanya untuk mencegah
dehidrasi, berikan anak makanan untuk mencegah kurang gizi, selain itu juga
memberikan oralit sesuai dengan aturan, ujar Firmanullah.

sumber: John DH, garut.go.id,

Merindukan Air Bersih, Melawan Bakteri

by : Fransiskus Saverius Herdiman

Kerugian yang diderita

Indonesia

akibat kondisi sanitasi
buruk mencapai Rp 58 triliun per tahun.

Tanggal 22 Maret diperingati sebagai Hari Air Internasional.
Pada tahun 2008 peringatan hari air telah memasuki tahun ke-16. Tema yang
dipilih Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk tahun ini adalah sanitasi. Tema
itu dipilih sejalan dengan ditetapkannya 2008 sebagai Tahun Sanitasi
Internasional.

Bagaimana
hubungan antara air dan sanitasi? Seberapa penting sanitasi memengaruhi air dan
kualitas kehidupan manusia? Dan dimanakah posisi

Indonesia

saat ini dibandingkan
negara tetangga lainnya?

Direktur
Amrta Institute for Water Literacy Nila Ardhianie mengatakan, layanan sanitasi
di

Indonesia

sampai saat ini termasuk yang terburuk di dunia. Tidak ada satu pun

kota

di

Indonesia

yang memiliki layanan limbah terintegrasi dan menyeluruh. Hingga saat ini hanya
terdapat 11

kota

di

Indonesia

yang memiliki layanan
limbah, tetapi layanannya masih sangat terbatas dan belum menyeluruh.

"Pembuangan
limbah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik tentu saja menimbulkan
banyak masalah di antaranya yang paling penting adalah tercemarnya sumber air
penduduk dengan bakteri yang dibawa oleh limbah manusia seperti e- coli,"
ujarnya.

E-coli
adalah bakteri penyebab utama penyakit diare, tifus, penyakit perut, dan
hepatitis. Bakteri ini menyebar karena buruknya sistem sanitasi dan bocornya
penampung tinja.

Hasil
penelitian Bappenas tahun 2007 menunjukkan, 70 persen air tanah di

Jakarta

telah tercemar
e-coli. Hasil penelitian Amrta Institute di beberapa desa di Kabupaten Bantul
Jawa Tengah juga menunjukkan hal serupa. Di Bantul misalnya, ditemukan fakta
bahwa seluruh sample sumber air bersih penduduk tercemar bakteri e-coli dengan
kadar sampai 32 kali standar yang ditentukan Departemen Kesehatan.

Hal
ini kata Nila, terjadi karena sebagian besar sumur atau sumber air penduduk
berdekatan dengan kandang hewan, toilet dan tempat saluran pembuangan limbah.
Kedekatan lokasi ini membuat sumber air bersih penduduk terkontaminasi limbah
manusia dan hewan.

Peneliti pada Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera
Utara (UISU) Ayu Lathifah mengungkapkan, pada skala nasional ketersediaan air
bersih baru mencapai sekitar 60 persen. Artinya masih terdapat 40 persen atau
sekitar 90 juta rakyat

Indonesia

terpaksa mempergunakan air yang tak layak. Hingga tahun 2000, akses daerah
perdesaan di

Indonesia

terhadap sumber air baru mencapai 69%, dan

Vietnam

mencapai 72%. Sedangkan

Malaysia

sebagai negara di Asia Tenggara yang memiliki akses tertinggi terhadap sumber
daya air telah mencapai 94%.

Persoalan
pencemaran air

baku

juga mencemaskan. Sungai-sungai di Pulau Jawa yang merupakan sumber air bagi
masyarakat untuk berbagai keperluan umum, berada pada kondisi memprihatinkan
akibat pencemaran limbah industri dan limbah domestik.

Penelitian
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta pada
2006 menyatakan, dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta semuanya tercemar
bakteri escherichia coli (e-coli). Bakteri yang berasal dari sampah organik dan
tinja manusia ini juga mencemari hampir 70 persen tanah di kawasan Ibu Kota,
sehingga berpotensi mencemari sumber air tanah.

Menurut
Lathifah, kesulitan masyarakat memperoleh air bersih semakin bertambah, ketika
sebagian besar perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia beroperasi dalam
kondisi tidak sehat. Data Departemen PU (2000) menunjukkan, dari 290 PDAM yang
ada di seluruh

Indonesia

,
jumlah pelanggannya baru mencapai 4,8 juta. Dengan kapasitas produksi nasional
air PDAM yang 72.000 liter/detik, sebagian besar PDAM masih menghadapi masalah
kebocoran air (unaccounted for water) hingga menyentuh level 40%-50%.
PDAM juga dihadapkan pada manajemen buruk, sehingga sebagian besarnya merugi
bahkan menangguk utang.

Sumur Tercemar

Periset
Lingkungan dan Sumberdaya Alam P. Raja Siregar mengatakan, pemenuhan air bersih
di

Jakarta

belum menjangkau seluruh warga. Warga yang terhubungkan dengan jaringan air
bersih Perusahaan Air Minum (PAM) hanya 51%.

"Jumlah
ini sebenarnya kurang dari angka tersebut, karena banyak pelanggan tidak
mendapatkan air. Terpaksa, mereka mengambil air tanah (sumur atau pompa),
membeli air minum kemasan atau dari penjual air keliling. Padahal, sekitar 70%
air tanah di

Jakarta

tidak layak dikonsumsi," ujarnya.

Pemantauan
terhadap 48 sumur di Jakarta pada tahun 2004 menunjukkan, 27 sumur cemar berat
dan cemar sedang, dan 21 sumur lainnya terindikasi cemar ringan dan dalam
kondisi baik. Kurangnya pasokan air

baku

,
kata Raja, merupakan masalah utama ke depan. Pasalnya, ketersediaan air

baku

dari Waduk Jatiluhur
yang menjadi pasokan utama PDAM Jakarta cenderung menurun.

Sejak
1995, ketersediaan air tawar di Pulau Jawa hanya 30.569 juta meter kubik (m³)
atau sekitar 48,58 % dari total kebutuhan air yang mencapai 62.927 juta m³.
Ini berarti defisit sebanyak 32.347 juta m³. Tahun 2000 defisit air
diperkirakan mencapai 52.809 juta m³. Dengan gambaran tersebut, Pulau Jawa
saat ini telah masuk dalam kategori krisis air.

Kurangnya
pasokan air bersih, dan terkontaminasinya air oleh bakteri sangat riskan bagi
kesehatan. Penelitian Water and Sanitation Program World Bank
"Economic Impact of Sanitation in Southeast Asia
" menunjukkan,
kerugian yang diderita Indonesia akibat kondisi sanitasi yang buruk mencapai Rp
58 triliun pertahun atau Rp 265.000 per orang setiap tahun. Penelitian
mengungkapkan lebih dari 94 juta penduduk

Indonesia

tidak memiliki toilet
yang memadai di rumah-rumahnya. Kondisi ini mendorong terjadinya 121.000
kejadian diare yang menyebabkan 50.000 kematian per tahunnya.

Krisis
air dan sanitasi itu, kata Lathifah, bisa diatasi jika pemerintah memiliki
komitmen atas pengelolaan sumber daya air. Komitmen itu antara lain
mengalokasikan anggaran (dari APBN) untuk menyediakan dan memelihara
infrastruktur sumber daya air.

Millennium
Development Goals (MDGs) menargetkan bahwa pada tahun 2015, separoh masyarakat
dunia harus mendapatkan akses terhadap air bersih. Sebagai salah satu negara
yang bergabung dalam komitmen MDGs tersebut, tampaknya pemenuhan terhadap air
bersih masih menjadi isu "seksi" yang harus terus diwartakan.

Intervensi Faktor Lingkungan Cegah 13 Juta Kematian PrintE-mail23 Jun 2006

Lingkungan merupakan salah satu faktor penentu derajat
kesehatan, disamping beberapa variabel lainnya seperti perilaku, keberadaan
pelayanan kesehatan dan herediter. Senada dengan hal tersebut, menurut laporan
terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 24 % dari penyakit global
disebabkan oleh segala jenis faktor lingkungan yang dapat dicegah. Oleh karena
itu, ke depan semakin dibutuhkan upaya yang intensif dan serius dari banyak
pihak terkait untuk melakukan intervensi terahadap faktor lingkungan.

Laporan tersebut juga memperkirakan bahwa lebih dari 13 juta
kematian tiap tahun disebabkan faktor lingkungan yang dapat dicegah. Hampir
sepertiga kematian dan penyakit pada sedikit negara maju disebabkan faktor
lingkungan. Kelompok masyarakat rentan juga tidak luput dari pengaruh
lingkungan terhadap kesehatan mereka. Diestimasikan bahwa lebih dari 33%
penyakit pada balita disebabkan oleh paparan lingkungan. Pencegahan terhadap
faktor risiko lingkungan dapat menyelamatkan sebanyak 4 juta nyawa balita, yang
sebagian besar berada di negara-negara berkembang. Demikian menurut situs resmi
WHO.

Empat
penyakit utama yang disebabkan oleh lingkungan yang buruk adalah diare, infeksi
Saluran Pernapasan Bawah, berbagai jenis luka yang tidak intens, dan malaria.
Lebih dari 40% kematian akibat malaria, dan diperkirakan sekitar 94 % kematian
disebabkan oleh Diare, yang merupakan dua pembunuh anak-anak terbesar di dunia,
dapat dicegah dengan pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Upaya yang dapat
dilakukan untuk mengurangi penyakit akibat lingkungan ini antara lain ;

  • peningkatan persediaan air
         bersih pada rumah tangga
  • higiene lingkungan yang lebih
         baik
  • penggunaan bahan bakar dan
         pembersih yang lebih aman
  • peningkatan keamanan lingkungan
         sehat
  • penggunaan dan pengelolaan
         materi beracun di rumah dan tempat kerja
  • pengelolaan sumber air bersih
         yang lebih baik

Laporan
WHO yang berjudul � Mencegah penyakit melalui penciptaan lingkungan sehat,
perkiraan permasalahan kesehatan di masa depan.�
merupakan studi paling
komprehensif dan sistematis saat ini tentang bagaimana faktor risiko lingkungan
yang dapat dicegah berperan terhadap banyaknya penyakit dan luka-luka. Dengan
menitikberatkan pada penyebab lingkungan, dan bagaimana berbagai penyakit
dipengaruhi oleh faktor lingkungan, para analis menunjukkan hal baru dalam
pemahaman interaksi antara lingkunagn dan kesehatan. Estimasi tersebut
menunjukkan betapa banyak kematian, kesakitan, dan kecacatan dapat dicegah tiap
tahun melalui pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Dr.
Anders Nordstr�m, mewakili Direktur Jenderal WHO mengatakan bahwa kita selalu
mengetahui lingkungan sangat mempengaruhi kesehatan, namun estimasi ini
merupakan yang terbaik hingga saat ini. Hal ini akan membantu kita untuk
menunjukkan bahwa investasi yang bijaksana untuk menciptakan lingkungan yang
baik dapat menjadi strategi yang berhasil dalam meningkatkan kesehatan dan
mencapai pembangunan yang bertahan lama.

"Untuk
pertama kalinya, laporan baru ini menunjukkan bagaimana penyakit dan luka
tertentu dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan dengan kadar berapa
banyak," kata Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan. Dr
Maria Neira. "Laporan itu juga menunjukkan dengan sangat jelas hasil yang
akan diperoleh bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan dengan serangkaian
upaya yang jelas, investasi yang terkoordinir. Kami meminta beberapa Menteri
Kesehatan, lingkungan, dan pihak lain untuk bekerja sama menjamin bahwa tujuan
terhadap kesehatan masayarakat dan lingkungan ini dapat terwujud."
Imbuhnya.

Penelitian
ini melibatkan telaah sistematis dengan berbagai literatur layaknya survey yang
melibatkan 100 pakar lebih di seluruh dunia. Penelitian ini, merumuskan
penyakit-penyakit spesifik yang diakibatkan oleh bahaya dari faktor lingkungan
yang telah dikenal baik, dan berapa besar pengaruhnya. "Penelitian ini
memberikan bukti terbaik yang ada hingga hari ini, mengenai keterkaitan
lingkungan terhadap 85 jenis penyakit dan luka. Sejak penelitian ini
menitikberatkan pada faktor risiko lingkungan yang diyakini dapat dirubah, kita
juga dapat melihat dimana upaya pencegahan kesehatan dirangkai dengan
pengelolaan lingkungan yang lebih baik dan upaya pembersihan dapat memberikan
dampak terbesar."

Kata Dr.

Neira.

Penyakit
dengan jumlah terbesar setiap tahun, dalam konteks kesehatan, kesakitan, dan
kecacatan yang diakibatkan oleh faktor lingkungan antara lain ;

  • Diare sebagian besar disebabkan
         air yang tidak bersih, sanitasi dan hygiene yang buruk
  • Infeksi Saluran pernapasan
         bawah, sebagian besar disebabkan oleh polusi udara, di dalam dan luar
         ruangan.
  • Luka yang tidak intens selain
         luka akibat kecelakaan, sebagian besar disebabkan oleh tata

    kota

    yang buruk atau
         tata rancang lingkungan yang buruk dari sistem transportasi.

  • Malaria, sebagian besar akibat
         sumber air yang buruk, pengelolaan penggunaan lahan dan rumah yang
         memungkinkan keberadaan vektor berkembang biak.
  • Kerusakan paru kronis Chronic
         Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) penyakit yang berkembang perlahan
         diindikasikan dengan hilangnya fungsi paru secara bertahap. (12 juta DALYs
         per tahun; 42% dari seluruh kasus secara global) sebagian besar disebabkan
         paparan debu dan partikulat di tempat kerja serta bentuk lain dari polusi
         udara di dalam dan luar ruangan.
  • Kondisi perinatal

Laporan
WHO menunjukkan bahwa faktor lingkungan berpengaruh secara signifikan terhadap
lebih dari 80 % penyakit-penyakit tersebut. Lebih jauh lagi, nampaknya secara
kuantitatif hanya risiko faktor lingkungan tersebut yang dapat berubah. Dengan
mengoptimalkan langkah terhadap faktor lingkungan, jutaan kematian dapat
dicegah tiap tahun, yang juga patut diperhatikan adalah perlunya kerjasama
dengan sector yang memilki keterkaitan erat dengan faktor lingkungan,

Awalnya
hanya ada 10 rumah yang mempunyai dan memakai jamban.
Munculnya rasa jijik, malu, dan berdosa menjadikan warga Ciseke,
Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, tidak mau lagi membuang kotoran
sembarangan.
    Seorang spesialis sanitasi lingkungan dan air dari
Unicef, Dr
Hening Darpito, dalam laporannya menuliskan, dalam tempo sekitar empat
bulan, sebanyak 138 keluarga yang menghuni 121 rumah di Ciseke mampu
membebaskan diri dari buang air besar sembarangan.
    Mereka dengan sukarela dan sesuai kemampuannya sendiri
membangun
jamban dekat tempat tinggalnya. Kini mereka merasa lebih nyaman
memiliki jamban di dekat rumah, tidak perlu repot ke kebun atau ke
sungai jika perut sudah melilit.
    Kecamatan Cidahu "tersohor" pada tahun 2005 karena
munculnya
penyakit polio. Penyebaran penyakit ini disebabkan lingkungan yang
kotor, masyarakat membuang tinja sembarangan di sungai, kolam, dan
kebun. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi kemudian mencoba menerapkan
pendekatan pembangunan sanitasi total berbasis masyarakat di salah
satu dusun di Ciseke.
    Manusia membuang kotoran karena merasa tinja tidak ada
manfaatnya.
Tinja dijauhkan dari dirinya karena merasa terganggu, berbau, tidak
enak dipandang, dan bagi yang tahu dapat menyebabkan penyakit. Ketika
menjauhkan tinja dari dirinya, berarti mendekat kepada orang lain,
bisa saja anaknya, keluarganya, ataupun tetangganya.
    Pemahaman inilah yang diangkat fasilitator dengan cara
membantu
masyarakat menghitung berapa ton tinja orang satu kampung setiap hari
yang dibuang di kebun, kolam, dan sungai. Betapa jahat perbuatan buang
air besar sembarangan yang menyebabkan orang lain terganggu, tidak
nyaman, bahkan menjadi sakit.
    Warga merasa jijik dan malu dijadikan "pintu
masuk" dalam
pendekatan sanitasi total berbasis masyarakat. Warga pun diajak
mendiskusikan hal tersebut dan diajak melakukan perubahan dengan
membangun jamban. Meskipun melalui argumentasi yang alot ada yang
setuju, ada yang tidak setuju karena keterbatasan penghasilan warga
pun akhirnya sepakat membangun jamban dan septic tank. Pembangunan
jamban dilakukan secara bergotong-royong.
    Melalui para pemimpin lokal, perubahan paradigma dan
perilaku pun
bisa dilakukan. Departemen Kesehatan melaporkan pada tahun 2007 tidak
kurang 160 desa bebas dari perilaku buang air besar sembarangan, dan
tahun 2008 sebanyak 200 kabupaten mencoba pendekatan ini di daerahnya.

Perilaku kolektif
    Sanitasi total, menurut Direktur Jenderal Pengendalian
Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun, dapat
dicapai bila setiap rumah tangga menghentikan praktik buang air besar
sembarangan dan menggunakan jamban yang aman untuk pembuangan tinja.
    "Selain itu, juga mencuci tangan dengan sabun, mengatur
dan
menyimpan air dan makanan dengan cara yang aman, mengatur limbah air
domestik," kata Kandun.
    Sanitasi total menargetkan semua masyarakat dan fokus pada
perubahan perilaku kolektif. Masyarakat diajak untuk ikut merencanakan
kebutuhan sanitasi dasarnya.
    Pendekatan seperti zaman dulu, yakni dengan membagi-bagi
jamban,
pompa dibikin tetapi dengan pendekatan proyek, menjadikan masyarakat
tidak merasa memiliki sarana sanitasi tersebut.
    "Jamban tidak digunakan, pompa air jebol karena
masyarakat tidak
punya rasa memiliki," tambah Kandun.
    Masyarakat pun juga perlu diberi pemahaman pentingnya
sanitasi
dasar bagi kelangsungan hidup mereka. Jika mengabaikan hal ini,
penyakit akan mengancam kehidupan.

Dampak kesehatan
    Di Indonesia terdapat empat dampak kesehatan besar
disebabkan oleh
pengelolaan air dan sanitasi yang buruk, yakni diare, tipus, polio dan
cacingan. Hasil survei pada tahun 2006 menunjukkan bahwa kejadian
diare pada semua usia di Indonesia adalah 423 per 1.000 penduduk dan
terjadi satu-dua kali per tahun pada anak-anak berusia di bawah lima
tahun.
    Data dari Direktorat Penyehatan Lingkungan Departemen
Kesehatan
menyebutkan, pada tahun 2001 angka kematian rata-rata yang diakibatkan
diare adalah 23 per 100.000 penduduk, sedangkan angka tersebut lebih
tinggi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun, yaitu 75 per
100.000 penduduk.
    Kematian anak berusia di bawah tiga tahun 19 per 100.000
anak
meninggal karena diare setiap tahunnya salah satu penyebab kematian
anak (lainnya karena ISPA/infeksi saluran pernapasan akut, dan
komplikasi sebelum kelahiran) data dari Profil

Indonesia

, 2003.
    Adapun kejadian tipus di

Indonesia

adalah 350-810 per
100.000
penduduk. Studi klinis rumah sakit menunjukkan bahwa angka kesakitan
tipus adalah 500 per 100.000 penduduk dan laju kematian adalah 0,6
persen-5 persen.
    Kematian akibat polio telah terjadi di

Indonesia

(di Provinsi Jawa
Barat) pada seorang anak laki-laki berusia di bawah dua tahun. Selain
itu, prevalensi cacingan di

Indonesia

adalah 35,3 persen. Kerugian
ekonomi sekitar 2,4 persen dari GDP atau 13 dollar AS per bulan per
rumah tangga (studi Asian Development Bank 1998).

Intervensi
    Empat intervensi untuk mencegah diare adalah pengolahan air
dan
penyimpanan di tingkat rumah tangga, melakukan praktik cuci tangan,
meningkatkan sanitasi, dan meningkatkan penyediaan air.
    Setiap intervensi memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap

diare. Data terkini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 2006,
menunjukkan bahwa berbagai intervensi perilaku melalui modifikasi
lingkungan dapat mengurangi angka kejadian diare sampai dengan 94
persen melalui pengolahan air yang aman dan penyimpanan di tingkat
rumah tangga dapat mengurangi angka kejadian diare sebesar 39 persen,
melakukan praktik cuci tangan yang efektif dapat menurunkan angka
kejadian diare sebesar 45 persen, meningkatkan sanitasi dapat
menurunkan angka kejadian diare sebesar 32 persen, dan meningkatkan
penyediaan air dapat menurunkan kejadian diare sebesar 25 persen.
    Selain tidak buang air besar sembarangan, dua hal penting
lain
yang bisa dilakukan semua anggota masyarakat adalah memasak air minum
dan mencuci tangan. Kelihatannya sepele tetapi tidak semua orang
melakukannya.
    Seorang panelis memaparkan, hampir semua rumah tangga
memasak air
untuk mendapatkan air minumnya. Dalam hal merebus,

Indonesia

memang
lebih maju. "Hampir semua memasak, tetapi sekitar 47,5 persen rumah
tangga air minumnya ternyata mengandung E coli (Entamoba coli),"
katanya. Bakteri E coli ini berbahaya bagi kesehatan karena
menyebabkan gangguan perut.
    Proses mencuci tangan pun bisa menjadi persoalan bagi
sebagian
orang. Studi baseline Basic Human Services USAID terhadap 7.137 rumah
tangga yang memiliki anak berusia di bawah tiga tahun di Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Banten, DKI Jakarta, Jawa
Barat, dan Jawa Timur (di 30 kabupaten/kota), ternyata hanya 77 persen
yang memiliki sikap positif terhadap cuci tangan memakai sabun. Tidak
semua orang bersikap positif. Untuk penyuluhan harus terus digencarkan.
    Data dari Depkes lebih memprihatinkan. Hanya sebagian kesil
masyarakat yang mempraktikkan cuci tangan: 12 persen setelah buang air
besar, 9 persen setelah membersihkan pantat bayi, 14 persen sebelum
makan, 7 persen sebelum memberi makan anak, dan 6 persen sebelum
menyiapkan makanan.
    Untuk meningkatkan presentasi masyarakat yang mempraktikkan
cuci
tangan, Depkes telah mengembangkan strategi baru "cuci tangan pakai
sabun" melalui kemitraan pemerintah-swasta. Hal ini sebelumnya telah
terbukti meningkatkan kesadaran dan implementasi perilaku sehat yang
baik di beberapa negara.
    Ke depan, melalui pemahaman yang terus-menerus, masyarakat
akan
bisa mengubah perilaku hidup yang tidak sehat. Betapapun, penyakit
akan datang jika kita tidak bisa menjaga kesehatan diri dan
lingkungan. Sanitasi buruk dan perilaku yang buruk adalah ancaman bagi
kehidupan kita….

Dimuat
di Kompas 19 Maret 2008

Prev: Terjerat Bisnis
Perdagangan Orang

Next: Tradisi
Maulid: Keraton, Rumah Rakyat….

Perubahan
Iklim Dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

January
17, 2008 / by tegarrezavie

Perubahan
Iklim dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Lingkungan adalah semua yang berada di wilayah eksternal jasmani manusia, di
antaranya adalah keadaan fisik, biologis, sosial, budaya, dan semua hal yang
dapat mempengaruhi status kesehatan dalam suatu populasi. (Yassi, 2001: hlm.
5). Definisi ini menunjukkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar dalam
menentukan kualitas kesehatan manusia. Lingkungan menjadi salah satu determinan
utama dalam teori-teori determinan kesehatan, baik dalam triad epidemiologi,
teori Bloom, dan teori Dahlgreen.
Diagram 1. Teori Bloom
Diagram 2. Teori Dahlgreen
Perubahan sedikit saja pada kondisi lingkungan akan mengakibatkan dampak yang
besar bagi kesehatan manusia, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.
Dekade ini, dunia digemparkan dengan munculnya fenomena perubahan iklim.
Beberapa tanda terjadinya perubahan iklim di antaranya adalah tidak menentunya
pergantian musim dari penghujan ke kemarau, pola terbang burung, suhu dunia
yang semakin memanas, dan sebagainya.

Para

ahli menyatakan bahwa penyebab utama terjadinya perubahan iklim adalah
terjadinya pemanasan global akibat gas rumah kaca (GRK).
Sekarang ini, perubahan iklim menjadi kontributor utama terjadinya kematian
dini dan global burden of disease (beban global penyakit). Manusia terekspos
dampak perubahan iklim lewat perubahan pola cuaca (misalnya perubahan suhu
udara, presipitasi, meningkatnya level permukaan air laut, dan sering munculnya
kejadian-kejadian ekstrim seperti badai, dll) dan secara tidak langsung lewat
perubahan kualitas air, udara, makanan, dan ekosistem (Confalonieri dkk, 2007:
hlm. 393).
Diagram 3. Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Kesehatan (Confalonieri dkk. 2007:
hlm. 396).
Dari diagram skematis tersebut diketahui bagaimana perubahan iklim dapat
mempengaruhi banyak hal, yaitu:
1. Kondisi sistem kesehatan
2. Kondisi sosial [sebagai upstream (arus atas) determinan kesehatan]
3. Kondisi lingkungan
4. Gangguan kondisi ekonomi dan sosial
5. Pajanan langsung dan tidak langsung,
yang pada akhirnya menimbulkan dampak kesehatan.
A. Perubahan Iklim dan Pengaruhnya terhadap Sistem Kesehatan
Perubahan iklim dapat mengakibatkan munculnya berbagai gangguan kesehatan.
Serangan heatstroke, kematian akibat tersambar petir, busung lapar akibat gagal
panen yang disebabkan perubahan pola hujan, dan gangguan kesehatan lainnya
membutuhkan penanganan istimewa, tidak bisa disamakan dengan kejadian penyakit
biasa. Oleh karena itu, hal tersebut membutuhkan rancangan sistem kesehatan
yang disesuaikan dengan perkiraan dampak perubahan iklim sehingga fasilitas pelayanan
kesehatan yang ada mampu menampung, menangani, dan mengendalikan kasus-kasus
tersebut.
Ketika perubahan iklim datang, maka kesehatan manusia akan berada dalam
ketidakpastian waktu. Kasus bisa terjadi sewaktu-waktu dengan kuantitas dan
kualitas dampak yang juga tidak dapat dipastikan. Sistem pelayanan kesehatan
akan menemui berbagai macam tantangan yang rumit seperti naiknya biaya
pelayanan kesehatan, komunitas yang mengalami penuaan dini, dan berbagai
tantangan lainnya sehingga strategi pencegahan yang efektif sangat dibutuhkan.
(Menne, B. “Health and Climate Change: A Call for Action”, didownload di
http://www.bmj.com/cgi/reprint/331/7528/1283.pdf, 23 Desember 2007, 15:38.)
B. Perubahan Iklim dan Kondisi Sosial
Salah satu contoh akibat perubahan iklim adalah banjir. Banjir yang
menenggelamkan tempat tinggal manusia membuat manusia mengungsi. Dalam kondisi
darurat seperti itu, akan timbul kepanikan. Selain itu, pada kondisi darurat
manusia tidak lagi memikirkan orang lain. Yang menjadi prioritas utamanya
adalah bagaimana caranya agar dirinya, keluarganya, dan hartanya dapat
diselamatkan. Tidak jarang manusia menginjak hak orang lain asal kebutuhan
keluarganya dapat dipenuhi, walaupun hak orang yang diinjak tersebut adalah hak
tetangganya.
C. Perubahan Iklim dan Dampak Lingkungannya
Perubahan Iklim terjadi karena perubahan keseimbangan lingkungan. Meningkatnya
konsentrasi gas rumah kaca (uap air, CO2, NOx, CH4, dan O3) di atmosfer akibat
aktifitas pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia menyebabkan terbentuknya
semacam selimut tak tampak mata yang mengurung gelombang panas sinar matahari
yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Efeknya adalah permukaan bumi semakin
memanas dan pada akhirnya memicu perubahan iklim.
Efek yang paling terlihat dari kondisi ini adalah perubahan cuaca. Cuaca adalah
kondisi atmosfer yang kompleks dan memiliki perilaku berubah yang kontinyu,
biasanya terikat oleh skala waktu, dari menit hingga minggu. Variabel-variabel
yang berada dalam ruang lingkup cuaca di antaranya adalah suhu, daya
presipitasi, tekanan udara, kelembaban udara, kecepatan, dan arah angin.
Sedangkan iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer, dan berhubungan dengan
karakteristik topografi dan luas permukaan air, dalam suatu region wilayah
tertentu, dalam jangka waktu tertentu yang biasanya terikat dalam durasi
bertahun-tahun. (McMichael dkk. Ed. 2003. “Climate Change and Human Health:
Risks and Responses”. Jenewa, WHO, hlm. 18)
Aktivitas antropogenik lain, diantaranya adalah penggunaan lahan dan berubahnya
vegetasi alami juga ikut berkontribusi menyebabkan perubahan iklim. Perubahanvegetasi menyebabkan variasi
karakteristik permukaan bumi seperti albedo (kemampuan memantulkan) dan
roughness (ketinggian vegetasi) mempengaruhi keseimbangan energi permukaan bumi
lewat gangguan evapotranspirasi. Selain itu, perubahan vegetasi juga dapat
mempengaruhi suhu, laju presipitasi, dan curah hujan di suatu regional. Bencana
alam yang dapat terjadi karena perubahan vegetasi di antaranya adalah banjir,
munculnya heatstroke akibat gelombang panas yang tidak diserap karena hilangnya
vegetasi alami, tsunami, kekeringan, dll.
Gambar 1. Efek Rumah Kaca (McMichel dkk. Ed. 2003. “Climate Change and Human
Health: Risks and Responses”.

Geneva

,
WHO, hlm. 20)

D. Perubahan Iklim Beserta Dampak Langsung dan Dampak Langsungnya terhadap
Kesehatan Manusia
Siang yang panas, malam yang panas, dan gelombang panas saat ini semakin sering
terasa. Gelombang panas berhubungan dengan meningkatnya kematian. 18 kematian
akibat gelombang panas dilaporkan di

India

antara tahun 1980 hingga
1998. Sedangkan di tahun 2003, tepatnya di

Andhra Pradesh

,

India

,
serangan gelombang panas menyebabkan 3000 kematian (Confalonieri dkk. 2007: hlm
397).
Selain gelombang panas, banjir juga menjadi ancaman utama bagi kesehatan manusia.
Banjir adalah bencana yang dapat berdampak dahsyat, merusak bangunan fisik
infrastruktur, organisasi sosial dan kegembiraan manusia. Secara teoritis,
banjir adalah hasil dari interaksi dari curah hujan, runoff permukaan,
evaporasi, angin, tinggi permukaan air laut, dan topografi lokal. Bencana
banjir dan badai mulai muncul dalam 2 dekade ini. Pada tahun 2003, 130 juta
jiwa menjadi korban banjir bandang di

China

. Sedangkan pada tahun 1999,
30.000 orang mati karena badai yang diikuti banjir dan tanah longsor di

Venezuela

.
Di Indonesia, banjir air pasang terjadi di Jakarta Utara dan Tangerang (Mhk,
“Walhi Demo, PIK II Tetap Jalan”,

Jakarta

,
Media Indonesia, 30 November 2007, hlm.4). Banjir mengakibatkan kesehatan
manusia terancam berbagai penyakit menular dan penyakit mental. Leptospirosis,
diare, gangguan saluran pernapasan, scabies, dan penyakit lainnya mengancam
warga pasca banjir. Apalagi untuk mereka yang tinggal di pengungsian. Tanpa
adanya persiapan dan perencanaan yang bagus, tempat pengungsian dapat menjadi
episentrum berbagai KLB (Kejadian Luar Biasa).
Perubahan Iklim juga menyebabkan kemunculan dini musim semi serbuk sari di
belahan bumi utara. Sangat beralasan jika menyimpulkan bahwa penyakit alergen
disebabkan oleh serbuk sari seperti alergi rhinitis seiring ditemuinya kejadian
tersebut bersamaan dengan perubahan musim tersebut (Confalonieri dkk. 2007: hlm
402).
E. Perubahan Iklim Beserta Dampak Tak Langsungnya terhadap Kesehatan Manusia
Perubahan Iklim dapat mengubah kualitas air, udara, makanan; ekologi vektor;
ekosistem, pertanian, industri, dan perumahan. Semua aspek tersebut memiliki
peranan yang sangat besar dalam menentukan kualitas hidup manusia. Perubahan
iklim telah menciptakan suatu rangkainan kausalitas kompleks yang berujung pada
dampak kesehatan.
Misalnya saja, kualitas dan suplai makanan. Variabel ini sangat dipengaruhi
oleh iklim. Bagaimana keteraturan iklim telah membuat petani tahu kapan waktu
yang tepat untuk menebarkan benih, memupuk, dan memanen lahannya. Saat iklim
berubah, cuaca juga berubah. Kekeringan dan banjir dapat datang sewaktu-waktu.
Mungkin petani masih bisa memanfaatkan air tanah. Akan tetapi, seperti telah
disebutkan dalam penjelasan sebelumnya, aktivitas antropogenik manusia telah
merubah wajah vegetasi bumi. Kualitas dan kuantitas air tanah dan permukaan
kini juga berada dalam ancaman. Perubahan cuaca, kelembaban, suhu udara, arah
dan kekuatan angin juga mempengaruhi perilaku

hama

.
IPCC menyimpulkan bahwa bahwa beberapa studi mengindikasikan meningkatnya tekanan
panas, kekeringan, dan banjir secara negatif akan mempengaruhi lahan pertanian
melebihi dampak perubahan iklim. Hal tersebut juga diperkirakan akan membentuk
kemungkinan terjadinya kejutan yang dampaknya lebih luas, muncul lebih awal,
lebih daripada yang diperkirakan. Variabilitas iklim dan perubahan juga
mengubah risiko terjadinya kebakaran, outbreak patogen dan

hama

, yang berefek negatif pada ketersedian
suplai makanan dan kehutanan.
Dampak lainnya adalah pengaruh perubahan iklim terhadap perilaku vektor
penyebab penyakit. Vector borne disease (VBD) adalah penyakit menular yang
ditransmisikan oleh gigitan infeksi spesies-spesies arthropoda, misalnya
nyamuk, lalat, kutu, kepinding, dan sebagainya. Di timur laut Amerika,
ditemukan bukti respons genetik (mikro evolusioner) dari spesies nyamuk Wyeomia
smithii untuk meningkatkan jumlah mereka dan mereka dalam dua dekade ini muncul
di musim semi lebih awal. Walaupun spesies itu bukan merupakan vektor yang
dapat menyebarkan penyakit ke manusia, tetapi spesies ini memiliki hubungan
yang dekat dengan spesies vektor arbovirus lainnya yang dimungkinkan mengalami
perubahan/evolusi genetis juga. Selain itu perubahan distribusi geografis
vektor sandfly dilaporkan terjadi di Eropa selatan. Akan tetapi, belum ada penelitian
yang spesifik meneliti kausa perubahan distribusi tersebut. (Confalonieri, dkk.
2007: hlm. 403).
Virus berbasis vektor lainnya yang palin menjadi pusat perhatian seluruh dunia
adalah dengue. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ada hubungan antara kondisi
spasial, temporal, atau pola spasiotemporal terhadap dengue dan iklim. Telah
diketahui bahwa curah hujan yang tinggi serta suhu yang hangat dapat
meningkatkan transmisi virus ini. Akan tetapi, diketahui juga bahwa kasus dapat
terjadi dalam jumlah yang sama di musim kemarau asal terdapat cukup tempat
penyimpanan air yang feasibel menjadi breeding site nyamuk (Confalonieri dkk,
2007: hlm. 403).
Kurangnya suplai makanan dan kekeringan diketahui berhubungan dengan
meningkatnya risiko kematian akibat kesakitan diare di Banglasdesh. Di
Australia diketahui juga meningkatnya risiko bunuh diri oleh petani selama
musim kemarau (Confalonieri dkk. 2007: hlm. 399). Diet yang bagus dan suplai
makanan yang baik adalah pusat dari kesuksesan promosi kesehatan. Keterbatasan
suplai makanan dapat mengakibatkan malnutrisi dan berbagai penyakit akibat
defisiensi gizi (Wilkinson dkk. ed. 2003: hlm.26).
Perubahan iklim memiliki hubungan dengan perubahan curah hujan, ketersediaan
air permukaan, dan kualitas air yang dapat berpengaruh pada water related
disease. Water related disease dapat diklasifikasikan dengan mengetahui jalur
pajanannya sehingga dapat dibedakan menjadi water borne disease (ingesti) dan
water washed disease (karena kurangnya higienitas).

Ada

4 pertimbangan yang perlu diperhatikan
dalam mengevaluasi hubungan antara manifes kesehatan dan pajanan oleh perubahan
curah hujan, ketersediaan, dan kualitas air:
1. Hubungan antara ketersediaan air, akses air bersih di perumahan, dan beban
kesehatan akibat penyakit diare
2. Peran curah hujan ekstrim (lebatnya curah hujan dan kekeringan) dalam
memfasilitasi kejadian luar biasa water borne disease lewat suplai air lewat
jaringan pipa ataupun air permukaan.
3. Efek suhu dan runoff dengan kontaminasi bahan kimia dan mikrobiologi pada
garis pantai, tempat rekreasi, dan air permukaan
4. Efek langsung suhu pada insidens diare.

F. Perubahan Iklim Beserta Dampaknya terhadap Kondisi Sosial Ekonomis.
Perubahan iklim cenderung mengakibatkan bencana. Hal tersebut secara klinis
akan mengakibatkan gangguan kesehatan. Selain itu, bencana-bencana tersebut
juga dapat melumpuhkan kegiatan perekonomian manusia. Bencana yang merusak
bangunan fisik, melumpuhkan sumber daya manusia lewat penyakit, serta dapat
mengancam iklim investasi. Hal tersebut dapat mengganggu kondisi sosial dan
ekonomi manusia.

STRATEGI PENGENDALIAN PERUBAHAN IKLIM
Secara umum, ada 3 cara yang mulai dikembangkan saat ini untuk mengendalikan
karbon, karena karbon adalah domain utama yang menjadi penyebab perubahan
iklim. Tiga cara tersebut diantaranya adalah CDM (Clean Development Mechanism),
REDD (Reduced Emission from Deforestation on Development Country), dan CCP
(Carbon Capture and Storage).
CDM merupakan salah satu mekanisme yang terdapat dalam Protokol Kyoto. Mekanisme
CDM merupakan satu-satunya mekanisme yang melibatkan negara berkembang, dimana
negara maju dapat menurunkan emisi gas rumah kacanya dengan mengembangkan
proyek ramah lingkungan di negara berkembang. Mekanisme ini sendiri pada
dasarnya merupakan perdagangan karbon, dimana negara berkembang dapat menjual
kredit penurunan emisi kepada negara yang memiliki kewajiban untuk menurunkan
emisi, yang disebut negara Annex I. Akan tetapi, mekanisme perdagangan karbon
ini mengalami tantangan.
Almuth Ernsting dalam tulisannya yang berjudul “Reduced Emission From
Deforestation: Can Carbon Trading Save Our Ecosystem?” mengemukakan fakta bahwa
dana hasil CDM memang dialokasikan untuk reboisasi. Akan tetapi, reboisasi yang
dilakukan tidak benar-benar dapat mengembalikan ekosistem yang rusak. Selama
ini reboisasi yang dilakukan menggunakan monoculture-tree plantations yang
artinya dilakukan penanaman kembali lahan yang gundul dengan satu jenis bibit
pohon. Hal tersebut dianggap memberikan efek buruk terhadap lingkungan dan komunitas
di sekitar hutan yang rusak karena reboisasi yang dilakukan hanya sekedar
menghijaukan, tetapi tidak mampu mengembalikan kualitas ekosistem. Oleh karena
itu, dia mengusulkan untuk mengintegrasikan CDM dengan REDD. (Ernsting,
dkk.“Reduced Emission From Deforestation: Can Carbon Trading Save Our
Ecosystem?” di download pada alamat
http://www.biofuelwatch.org.uk/docs/Avoided_Deforestation_Full.pdf, pada
tanggal 5 Desember 2007 jam 14.00).
REDD adalah cara mereduksi karbon dengan jalan mengatur laju deforestasi.
Mekanisme ini sebenarnya tidak mutlak menganggap CDM buruk. Pelaksanaan REDD
dapat dilaksanakan bersama dengan pelaksanaan CDM yang sudah berlangsung. Hanya
saja, dana hasil CDM sebagian dipisahkan untuk biaya perawatan atau pelestarian
hutan yang masih ada. Dalam publikasi ilmiah yang diadakan UNFCCC pada Mei
2007, disebutkan bahwa opsi yang digunakan dikenal dengan sebutan 50-50-50.
Artinya, mengurangi laju deforestasi hingga 50% pada tahun 2050 sambil
mempertahankan laju deforestasi pada kisaran tersebut diklaim akan
menyelamatkan 50 milyar ton emisi karbon. Gambaran ini didapat dengan
menggunakan Stern Review. Memang, Stern Review tidak merekomendasikan gambaran
nyata apapun dalam mengurangi laju deforestasi. Akan tetapi, Stern menyatakan
bahwa dengan tujuan menstabilkan kadar emisi CO2 pada angka 450 ppm, maka akan
dicari cara dekarbonisasi yang cepat dan lengkap lewat emisi energi non
transportasi, menghentikan deforestasi, dan intensifikasi substansi aktivitas
penyitaan aset. Dengan mencoba untuk mengendalikan laju deforestasi masalah
mendasar dari pendekatan bak kritis dapat ditutupi. (Ernsting, dkk.“Reduced
Emission From Deforestation: Can Carbon Trading Save Our Ecosystem?” di
download pada alamat http://www.biofuelwatch.org.uk/docs/Avoided_Deforestation_Full.pdf,
pada tanggal 5 Desember 2007 jam 14.00). Sementara itu, Hasil pertemuan di Bali
beberapa bulan yang lalu mengisyaratkan bahwa REDD akan fokus pada penilaian
perubahan cakupan hutan dan kaitannya dengan emisi gas rumah kaca, metode
pengurangan emisi dari deforestasi, dan perkiraan jumlah pengurangan emisi dari
deforestasi. Deforestasi dianggap sebagai komponen penting dalam perubahan
iklim sampai 2012. Untuk pelaksanaan praktisnya masih belum disepakati. Isu ini
diagendakan untuk dibahas di pertemuan selanjutnya yang disebut Badan Tambahan
untuk Saran Ilmiah dan Teknis di Bonn, Jerman, pada tahun 2008. (“Ini Dia Hasil
Bali Road Map”, dari dobelden.wordpress.com/2007/12/15/ IniDiaHasilBaliRoadMap/
, tanggal 25 Desember 2007 pukul 11.37)
Sementara itu, CCS adalah suatu cara mengurangi emisi karbon dengan jalan
menyuntikkan karbon dioksida ke perut bumi. Metode ini membutuhkan ruang kosong
di perut bumi, bisa juga menggunakan sumur-sumur gas dan minyak bumi yang sudah
mengering. Akan tetapi, kendala penerapan teknologi ini adalah mahalnya biaya
investasi dan tidak semua orang bisa melakukan transfer teknologi walaupun
untuk Indonesia teknologi tersebut mampu mengurangi emisi karbon hingga 20%
pada tahun 2005 (Nda, “Menyuntikkan CO2 Terhalang Biaya,” Media Indonesia,
tanggal 10 Desember 2007, hlm. 7).
KESIMPULAN
1. Perubahan Iklim dapat mempengaruhi kesehatan manusia
2. Perubahan Iklim juga dapat mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi manusia
3.

Ada

beberapa
cara yang dapat digunakan untuk mengurangi emisi karbon, yaitu CDM, REDD, dan
CCS.

SARAN
1. Perlu dibangun rencana tanggap darurat jika sewaktu-waktu muncul bencana
2. Perlu dibangun public awareness (kesadaran masyarakat) agar timbul inisiatif
mandiri masyarakat untuk meningkatkan ketahanan mereka dalam beradaptasi
terhadap kemungkinan buruk terjadinya bencana dan mengembangkan cara-cara
mengurangi pajanan bahaya.
3. Sistem kesehatan perlu disempurnakan untuk memaksimalkan peran pelayanan
kesehatan
4. Perlu kebijakan yang mengarahkan agar semua sektor mulai beralih dari bahan
bakar fosil ke bahan bakar lain yang lebih ramah lingkungan, misalnya
menggunakan reaktor nuklir sebagai pengganti pembangkit listrik tenaga uap yang
banyak menghasilkan emisi sulfur dan karbon.
5. Dibutuhkan kesepakatan portofolio sebagai landasan komitmen gerakan bersama
di semua negara-negara di dunia mengurangi emisi gas rumah kaca

DAFTAR PUSTAKA:
Dobelden, “Ini Dia Hasil Bali Road Map”, dari
dobelden.wordpress.com/2007/12/15/ IniDiaHasilBaliRoadMap/ , tanggal 25
Desember 2007 pukul 11.37
Ernsting, dkk.“Reduced Emission From Deforestation: Can Carbon Trading Save Our
Ecosystem?” di download pada alamat
http://www.biofuelwatch.org.uk/docs/Avoided_Deforestation_Full.pdf, pada
tanggal 5 Desember 2007 jam 14.00
Confalonieri, dkk. 2007.’Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and
Vulnerability’, ed. M.L. Parry, O.F. Canziani, J.P. Palutikof, P.J. van der
Linden and C.E. Hanson.

Cambridge

,
Cambridge University Press, hlm. 391-431
Menne, B. “Health and Climate Change: A Call for Action,”
http://www.bmj.com/cgi/reprint/331/7528/1283.pdf, 23 Desember 2007, 15:38
Mhk, “Walhi Demo, PIK II Tetap Jalan”, Jakarta, Media Indonesia, 30 November
2007, hlm.4
Nda, “Menyuntikkan CO2 Terhalang Biaya,” Media Indonesia, tanggal 10 Desember
2007, hlm. 7
Wilkinson, R, dkk, ed. 2003. “Social Determinants of Health: The Solid Facts.
2nd edition”

Denmark

,
WHO, hlm. 26.
Yassi, Annalee, dkk. 2001. ‘Basic Environmental Health’. NewYork,

Oxford

Universitas

Diare
& masalahnya

Bahaya
diare adalah :

-
Penderita akan kehilangan cairan tubuh.

-
Penderita tersebut menjadi lesu dan lemas.

-
Penderita dapat meninggal bila kehilangan cairan tubuh lebih banyak

lagi.

Macam
diare dan tandanya :

-
Diare : buang air besar encer (biasanya 3 x atau lebih dalam sehari),

kadang-kadang
disertai muntah, panas atau demam, ada darah dalam tinja).

Diare
yang baru mulai 1-2 kali pada anak dibeberapa daerah disebut

indah,
ngenteng-

ngenteng,
lugan. Pada keadaan ini anak masih mau makan dan bermain.

-
Disentri : buang air besar berdarah, sering disebut Mejen.

-
Diare menerus : diare yang terjadi lebih dari satu minggu, penderita

semakin
parah.

-
Diare dengan penyakit lain : adanya penyakit lain seperti : ISPA,

Campak,
Gizi buruk

dan
lain-lain.

Cara
menanggulangi penderita diare :

1.
Memberikan banyak cairan sesegera mungkin.

2.
Meneruskan Pemberian Makanan.

3.
Mencari Pengobatan Lanjutan bila diperlukan.

Pemberian
cairan :

-
Segera berikan minuman/ cairan yang biasa tersedia di rumah tangga.

-
Cairan yang biasa tersedia, seperti : kuah sop, kuah sayur, air tajin,

air
teh, air matang dan LGG.

-
Bila tersedia oralit atau mudah diperoleh, oralit cairan yang terbaik.

-
Tetap berikan ASI bagi bayi yang masih menetek, makin sering makin

baik.

Pemberian
makanan :

-
Berikan makanan seperti biasa atau pendamping makan ASI yang

dilunakkan,
mudah dicerna dan tidak merangsang (pedas, asam).

-
Makanan diberikan sedikit-sedikit, tetapi sering.

-
Pemberian ASI bagi bayi ditingkatkan.

-
Susu kaleng (formula) dapat diteruskan.

-
Setelah diare, berikan makanan ekstra sampai 2 minggu.

Pengobatan
Lanjutan :

Bawa
ke Petugas Kesehatan di Puskesmas atau Rumah Sakit atau Tempat

Praktek.

Bila
diare tidak membaik sampai 2 hari, atau ada satu/lebih tanda-tanda

:

-
diare terus menerus.

-
muntah berulang.

-
demam.

-
tidak mau makan/minum.

-
kelihatan sangat haus.

-
ada darah dalam tinja.

Pencegahan
Diare :

Penyebab
Diare dapat terjadi karena berbagai penyebab, seperti kuman

penyakit,
keracunan makanan dan tidak tahan makanan tertentu atau

alergi.
Faktor utama yang mempengaruhi kejadian diare kKeadaan

lingkungan
dan perilaku masyarakat.

Cara
Penularan Diare :

-
Jalur penularan diare melalui mulut dan anus dengan perantaraan

lingkungan
dan perilaku yang tidak sehat.

-
Tinja penderita atau orang sehat yang mengandung kuman bila

mengeluarkan
tinja akan mencemari lingkungan terutama air.

-
Melalui makanan, alat dapur, dll, yang dicemari kuman/penyebab lain

akan
masuk ke mulut, kemudian terjadi diare.

Pencegahan
Diare Tujuh Kegiatan Yang Efektif Yaitu :

1.
Pemberian ASI pada bayi dapat mencegah diare, karena ASI terjamin

kebersihannya
dan cocok untuk bayi.

2.
Siapkan & berikan makanan pendamping ASI yang baik & benar.

3.
Gunakan air bersih yang cukup.

4.
Berikan Imunisasi Campak.

5.
Buanglah tinja bayi & anak kecil di jamban.

6.
Semua anggota keluarga berak di jamban yang sehat.

7.
Cuci tangan sesudah berak

 

BOY ANTONI PUTRA STIKES FORT DE KOCK BUKITTINGGI

17 juni 2008

 

 

 

 

 

Leave a Reply