larangan nabi kita

July 21st, 2008 by bared18

Jauhi SIKAP TERCELA

Rasulullah SAW selalu menganjurkan kepada setiap penganut Islam untuk menjauhi delapan sikap tercela yang manakala ada bisa menyebabkan tampilnya bencana, baik dalam hubungan seorang ataupun masyarakat dan negara.

Delapan sikap yang mesti di jauhi itu adalah ;
1.Selalu merasa sedih dan kecewa, yang senantiasa menyisakan sikap putus asa dan akibatnya menyerahkan segala sesuatu tanpa berusaha.

2. Perasaan gelisah, seakan selalu dikejar bayang-bayang.

3. Lemah, baik fisik (jasad), perasaan (kalbu) ataupun akal fikiran, yang berujung dengan menjadikan diri siap untuk di tindas orang lain,

4. Malas, sehingga tertutupnya pintu keberhasilan.

5. Sikap pengecut, yang menghambat diri untuk berusaha secara sungguh-sungguh.

6. Bakhil, yang akibatnya bisa tidak menghiraukan keadaan keliling, hapusnya solidaritas, hilangnya kepedulian. Sikap bakhil bisa pula berdampak kepada pengejaran kesenangan (harta) duniawiyah tanpa menghiraukan kepentingan orang lain (individualistis),

7. Selalu dalam cengkeraman hutang, yang berakibat kurangnya ukuran kepantasan dan kepatutan, atau tak seukuran bayang-bayang dengan badan.

8. Berada dalam penindasan orang lain, sebagai konsekwensi logis dari ketujuh sikap tercela sebelumnya.

Bila kita meneliti dan memahami langkah yang telah kita tempuh selama ini, setidaknya dalam waktu tigapuluh dua tahun masa yang telah berlalu, maka sesungguhnya kedelapan sikap tercela ini telah menghimpit bangsa ini melalui penerapan cara-cara amat sistimatik seakan dipaksanakan harus berlaku sejak dari kekuasaan atas hingga lapis terbaw

luka danperawatannya

July 19th, 2008 by bared18

Tanda-tanda dan gejala :

   1. Nyeri di bagian luka.
   2. Darah mengalir dari luka.
   3. Lidah kebiru-biruan.
   4. Semakin sulit bernapas.
   5. Pingsan.

Tindakan

   1. Jika korban pingsan, baringkan dalam posisi miring, bagian luka
di atas. Periksa saluran pernapasan, pernapasan, dan denyut nadi. Mulailah
pernapasan buatan dari mulut menekan dada.
   2. Istirahatkan korban dalam posisi setengah duduk, sandarkan ke
bawah di bagian yang luka.
   3. Segera lepaskan baju di sekitar luka. Letakkan tangan Anda di
atas luka.
   4. Tutupi luka dengan perban steril atau gunakan pembalut dari
plastik atau aluminium foil. Plester kain penutup di dada yang terluka di tiga
sisi (atas, kanan, dan kiri) untuk mencegah udara masuk ke rongga dada. Jangan
memplester bagian bawah kain penutup. Biarkan terbuka sehingga udara yang
tertekan dapat keluar.
   5. Segera mencari bantuan medis.

 

 

Perawatan Luka

March 3rd, 2008 by admin

 

DEFINISI
Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik
terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang.
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel

Mekanisme terjadinya luka :
1. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang
tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya
tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan
dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda
lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru
atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh
kaca atau oleh kawat.
6. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh
biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung
biasanya lukanya akan melebar.
7. Luka Bakar (Combustio)

Menurut tingkat Kontaminasi terhadap luka :
1. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak
terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan,
pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya
menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup
(misal; Jackson – Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
2. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka
pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam
kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya
infeksi luka adalah 3% - 11%.
3. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka
akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau
kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut,
inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.
4. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya
mikroorganisme pada luka.

Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka, dibagi menjadi :
Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang
terjadi pada lapisan epidermis kulit.
Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada
lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan
adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan
meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai
bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada
lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul
secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak
jaringan sekitarnya.
Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan
tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

Menurut waktu penyembuhan luka dibagi menjadi :
1. Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep
penyembuhan yang telah disepakati.
2. Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan,
dapat karena faktor eksogen dan endogen.

PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan “proses peradangan”,
yang dikarakteristikkan dengan

lima

tanda utama: bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri
(pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup
beberapa fase :
1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat
perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak dicapai adalah
menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing, sel-sel
mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan. Pada awal
fase ini kerusakan pembuluh darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang
berfungsi sebagai hemostasis. Platelet akan menutupi vaskuler yang terbuka
(clot) dan juga mengeluarkan “substansi vasokonstriksi” yang mengakibatkan pembuluh
darah kapiler vasokonstriksi. Selanjutnya terjadi penempelan endotel yang akan
menutup pembuluh darah. Periode ini berlangsung 5-10 menit dan setelah itu akan
terjadi vasodilatasi kapiler akibat stimulasi saraf sensoris (Local sensory
nerve endding), local reflex action dan adanya substansi vasodilator (histamin,
bradikinin, serotonin dan sitokin). Histamin juga menyebabkan peningkatan
permeabilitas vena, sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah dan
masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi oedema jaringan dan keadaan
lingkungan tersebut menjadi asidosis.
Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada kulit,
oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4.

2. Fase Proliferatif
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan
menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat
besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan
produk struktur protein yang akan digunakan selama proses reonstruksi jaringan.
Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel fibroblas
sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan penunjang. Sesudah
terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam
daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa
substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronectin dan proteoglycans)
yang berperan dalam membangun (rekontruksi) jaringan baru. Fungsi kolagen yang
lebih spesifik adalah membentuk cikal bakal jaringan baru (connective tissue
matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat oleh fibroblas, memberikan pertanda
bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit
dapat memasuki kawasan luka. Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam
didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”.
Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah
terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth
faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.

3. Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang
lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah ; menyempurnakan terbentuknya
jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas
sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi, warna kemerahan dari jaringa mulai
berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah
banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari jaringan parut akan
mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan.
Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen
yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Kolagen yang berlebihan akan terjadi
penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, sebaliknya produksi yang
berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka.

Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan
jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktifitas normal.
Meskipun proses penyembuhanluka sama bagi setiap penderita, namun outcome atau
hasil yang dicapai sangat tergantung pada kondisi biologis masing-masing
individu, lokasi serta luasnya luka. Penderita muda dan sehat akan mencapai
proses yang cepat dibandingkan dengan kurang gizi, diserta penyakit sistemik
(diabetes mielitus).

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA
1. Usia
Semakin tua seseorang maka akan menurunkan kemampuan penyembuhan jaringan
2. Infeksi
Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat juga
menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang, sehingga akan menambah
ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun kedalaman luka.
3. Hipovolemia
Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya
ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
4. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap
diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang
besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga
menghambat proses penyembuhan luka.
5. Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya
suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum,
fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu
cairan yang kental yang disebut dengan nanah (“Pus”).
6. Iskemia
Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada
bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi
akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor
internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
7. Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah,
nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi
penurunan protein-kalori tubuh.
8. Pengobatan
• Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera
• Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
• Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri
penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan
tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.

NURSING MANAGEMENT
Dressing/Pembalutan
Tujuan :
1. memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
2. absorbsi drainase
3. menekan dan imobilisasi luka
4. mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
5. mencegah luka dari kontaminasi bakteri
6. meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
7. memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien

ALAT DAN BAHAN BALUTAN UNTUK LUKA
Bahan untuk Membersihkan Luka
• Alkohol 70%
• Aqueous and tincture of chlorhexidine gluconate (Hibitane)
• Aqueous and tincture of benzalkonium chloride (Zephiran Cloride)
• Hydrogen Peroxide
• Natrium Cloride 0.9%

Bahan untuk Menutup Luka
• Verband dengan berbagai ukuran

Bahan untuk mempertahankan balutan
• Adhesive tapes
• Bandages and binders

KOMPLIKASI DARI LUKA
a. Hematoma (Hemorrhage)
Perawat harus mengetahui lokasi insisi pada pasien, sehingga balutan dapat
diinspeksi terhadap perdarahan dalam interval 24 jam pertama setelah
pembedahan.
b. Infeksi (Wounds Sepsis)
Merupakan infeksi luka yang sering timbul akibat infeksi nosokomial di rumah
sakit. Proses peradangan biasanya muncul dalam 36 – 48 jam, denyut nadi dan
temperatur tubuh pasien biasanya meningkat, sel darah putih meningkat, luka
biasanya menjadi bengkak, hangat dan nyeri.
Jenis infeksi yang mungkin timbul antara lain :
• Cellulitis merupakan infeksi bakteri pada jaringan
• Abses, merupakan infeksi bakteri terlokalisasi yang ditandai oleh :
terkumpulnya pus (bakteri, jaringan nekrotik, Sel Darah Putih).
• Lymphangitis, yaitu infeksi lanjutan dari selulitis atau abses yang menuju ke
sistem limphatik. Hal ini dapat diatasi dengan istirahat dan antibiotik.
c. Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence adalah rusaknya luka bedah
Eviscerasi merupakan keluarnya isi dari dalam luka
d. Keloid
Merupakan jaringan ikat yang tumbuh secara berlebihan. Keloid ini biasanya
muncul tidak terduga dan tidak pada setiap orang.

 

 

Definisi

Didefinisikan sebagai kerusakan pada bagian tubuh yang
disebabkan oleh kekuatan mekanis. Beberapa pasal memiliki definisi tersendiri
tentang luka, berdasarkan kerusakan yang terjadi. Hal ini termasuk kerusakan
pada organ-organ dalam. Pasal lain juga menyebutkan tentang derajat luka, tidak
berdasarkan bentuknya namun berdasarkan akibatnya yang dapat membahayakan nyawa
korban.

Mekanisme luka

Tubuh biasanya mengabsorbsi kekuatan baik dari elastisitas
jaringan atau kekuatan rangka. Intensitas tekanan mengikuti hukum fisika. Hukum
fisika yang terkenal dimana kekuatan = ½ masa x kecepatan. Sebagai contoh, 1 kg
batu bata ditekankan ke kepala tidak akan menyebabkan luka, namun batu bata
yang sama dilemparkan ke kepala dengan kecepatan 10 m/s menyebabkan perlukaan.

Faktor lain yang penting adalah daerah yang mendapatkan
kekuatan. kekuatan dari masa dan kecepatan yang sama yang terjadi pada dareah
yang lebih kecil menyebabkan pukulan yang lebih besar pada jaringan. Pada luka
tusuk, semua energi kinetik terkonsentrasi pada ujung pisau sehingga terjadi
perlukaaan, sementara dengan energi yang sama pada pukulan oleh karena tongkat
pemukul kriket mungkin bahkan tidak menimbulkan memar.

Efek dari kekuatan mekanis yang berlebih pada jaringan tubuh
dan menyebabkan penekanan, penarikan, perputaran, luka iris. Kerusakan yang
terjadi tergantung tidak hanya pada jenis penyebab mekanisnya tetapi juga
target jaringannya. Contohnya, kekerasan penekanan pada ledakan mungkin hanya
sedikit perlukaan pada otot namun dapat menyebabkan ruptur paru atau
intestinal, sementara pada torsi mungkin tidaka memberikan efek pada jaringan
adiposa namun menyebabkan fraktur spiral pada femur.

 

Klasifikasi luka

  1. Abrasi
  2. Kontusi
  3. Laserasi
  4. Luka
         insisi

 

Anatomi forensik kulit

Bagian paling atas adalah lapisan sel keratinisasi stratum
korneum yang ketebalannya bermacam-macam pada bagian-bagian tubuh tertentu.
Pada tumit dan telapak tangan adalah yang paling tebal sementara pada daerah
yang terlindungi seperti skrotum dan kelopak mata hanya pecahan dari
millimeter. Berkaitan dengan forensik pada perkiraan perlukaan penetrasi pada
kulit.

Kemudian epidermis yang tidak terdapat pembuluh darah.
Lapisan epidermis umumnya berkerut, permukaan bawahnya terdiri dari papilla
yang masuk ke dalam dermis. Demis (korium) terdiri dari jaringan ikat dengan
adneksa kulit sperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat.
Terdapat  banyak pembuluh darah, saraf pembuluh limfe serta ujung saraf
taktil, tekan, panas.. bagian bawah dari dermis terdapat jaringan adiposa dan
(tergantung dari bagian tubuh) fascia, jaringan lemak, dan otot yang berurutan
di bawahnya.

Abrasi

Merupakan perlukaan paling superfisial, dengan definisi
tidak menebus lapisan epidermis. Abrasi yang sesungguhnya tidak berdarah karena
pembuluh darah terdapat pada dermis. Kontak gesekan yang mengangkat sel
keratinisasi dan sel di bawahnya akan menyebabkan daerah tersebut pucat dan
lembab oleh karena cairan eksudat jaringan.

Ketika kematian terjadi sesudahnya, abrasi menjadi kaku,
tebal, perabaan seperti kertas berwarna kecoklatan. Pada abrasi yang terjadi
sesudah kematian berwarna kekuningan jernih dan tidak ada perubahan warna.

 

Tangensial atau abrasi geser

Abrasi kebanyakan disebabkan gerakan lateral daripada
tekanan vertikal. Ketika tanda abrasi ini ditemui, arah kekuatan dapat
ditentukan dari sisa epidermis yang terbawa sampai ujung abrasi. Pemeriksaan
visual, bila perlu menggunakan lensa, dapat menunjukkan pergerakan dari tubuh.

 

Abrasi Crushing

Ketika penekanan vertikal pada permukaan kulit, tidak ada
goresan yang terjadi namun epidermis hancur dan obyek yang menghantam tercetak.
Jika hantaman tersebut kuat dan daerah permukaan kontak kecil akan terjadi luka
berlubang kecil dan abrasi hantaman terjadi. Kerusakan yang terjadi berupa
penekanan hingga depresi ringan dari permukaan atau paling tidak memar atau
tonjolan oedem lokal. Abrasi ini salah satu dari abrasi yang menunjukkan
cetakan dari obyek yang membuat luka.

 

Abrasi kuku jari

Sangat penting karena frekuensi pada serangan khususnya pada
penyiksaan anak, penyerangan seksual, dan penjeratan. Sering disertai memar
lokal. Abrasi kuku jari biasanya sering ditemukan pada leher, muka, lengan atas
dan lengan depan. Mungkin berupa goresan linear jika jari-jari tersebut menarik
ke bawah, tanda kurva atau garis lurus jika tangan tersebut menggenggam.

Lengan bagian depan sering merupakan lokasi untuk
penggenggaman dan menahan baik pada penyiksaan anak atau serangan pada orang
dewasa. Memar umum ditemukan, namun tanda kuku jari sdapat menumpang pada memar
tersebut. Ahli patologi harus berhati0hati dengan interpretasi yang salah.
Contohnya, memutuskan tanda kuku jari pada leher yang disebabkan oleh tangan
dari depan atau belakang leher.

 

Abrasi berpola

Abrasi yang terjadi mengikuti pola obyek . tidak hanya
epidermis yang rusak, kulit dapat tertekan mengikuti pola obyek, sehingga dapat
terjadi memar intradermal. Contohnya ketika ban motor melewati kulit,
meninggalkan pola pada kulit  dimana kulit juga tertekan mengikuti alur
ban tersebut.

 

Abrasi post-mortem (sesudah kematian)

Dapat disebabkan berbagai macam, antara lain penyeretan pada
saat pemakaman, atau akibat proses otopsi. Pada saat proses pemakaman, khusunya
setelah dibersihkan dengan air panas. Pada otopsi kedua perlu diperiksa dengan
deskripsi sebelumnya atau dengan foto, jika beberapa luka yang ditemukan
diragukan.

Kontusio atau memar

Meskipun sering bersamaan dengan abrasi dan laserasi, memar
murni terjadi karena kebocoran pada pembuluh darah dengan epidermis yang utuh
oleh karena proses mekanis. Ekstravasasi darah dengan diameter lenih dari
beberapa millimeter disebut memar atau kontusio, ukuran yang lenih kecil
disebut ekimosis dan yang terkecil seukuran ujung peniti disebut petekie. Baik
ekimosis dan petekie biasanya terjadi bukan karena sebab trauma mekanis.

Kontusio disebabkan oleh kerusakan vena, venule, arteri
kecil. Perdarahan kapiler hanya dapat dilihat melalui mikroskop, bahkan petekie
berasal dari pembuluh darah yang lebih besar dari kapiler. Kata ‘memar’ mengacu
pada lesi yang dapat dilihat pada kulit atau yang terjadi pada subkutanea,
sementara ‘kontusio’ dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja seperti limpa,
mesenterium atau otot. Penggunaan kata memar lebih banyak digunakan dokter saat
memberikan laporan atau keterangan pada kalangan non-medik.

 

Memar Intradermal

Memar yang biasa terjadi akibat penekanan berada pada
subkutanea, sering pada jaringan adiposa. Jika dilihat, memar terjadi pada
perbatasan dermis dan epidermis. Namun kadang samara. Ketika memar terjadi
akibat penekanan dengan obyek berpola, perdarahan yang terjadi lebih dapat
dilihat, jika berada di lapisan subepidermal. Jumlah darahnya sedkiti namun
karena posisinya yang superfisial dan lapisan tipis di atasnya yang jernih
sehingga polanya dapat dibedakan. Memar ini terjadi ketika obyek yang menekan
memiliki pinggiran dan alur, sehingga kulit dipaksa mengikuti alur dan
bentuknya.

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Munculnya Memar

1. Kebocoran
pembuluh darah. Harus ada ruangan yang cukup untuk darah yang keluar
berakumulasi. Ini menjelaskna kenapa memar lebih mudah terjadi pada skrotum
daripada tumit dimana jaringan jaringan fibrosanya padat. Karena banyaknya
jaringan subkutanea pada orang yang gemuk, mereka lenih mudah terjadi memar
daripada orang yang kurus jika faktor lain seperti fragilitas pembuluh dan umur
sama.

2. Jumlah darah yang
keluar

3. Ruangan yang
cukup

4. Kedalaman memar
yang terjadi

5. Fragilitas
pembuluh darah

6. Pada orang yang
berbaring lama

 

Pergerakan dari Memar

Pada daerah superfisial memar muncul dengan cepat, sementara
pada area yang dalam membutuhkan waktu untuk muncul ke permukaan. Memar dapat
bergerak mengikuti

gaya

gravitasi. Contohnya, perdarahn subkutanea dapat turun melewati alis mata dan
muncul di orbita mata yang memberikan gambaran ‘mata hitam’ yang dapat
disalahartikan sebagai trauma langsung. Begitu juga memar pada lengan atas atau
betis, dapat turun sampai pada siku atau tumit.

 

Perubahan Memar oleh Waktu

Dengan berlalunya waktu, hematom yang terbentuk pecah oleh
pengaruh enzim jaringan dan infiltrasi seluler.sel darah merah menutupi ruptur
dan mengandung Hb membuat degradasi secara kimiawi yang memyebabkan perubahan
warna. Hemoglobin pecah menjadi hemosiderin, biliversin dan bilirubon yang
menyebabkan perubahan wanra memar dari ungu atau coklat kebiruan menjadi coklat
kehijauan, kemudian hijau kekuningan sebelum akhirnya samar.

Memar kecil pada deasa muda yang sehat akan menghilang dalam
waktu 1 minggu.

 

Namun pada memar akibat ‘gigitan

asmara

’ (cupang) akan menghilang dala waktu
beberapa hari, ini dikemukakan oleh nRoberts yang mengadakan penelitian.

Beberapa faktor yang berpengaruh antara lain:

  • Besarnya
         ekstravasasi
  • Umur
         korban
  • Idosinkrasi
         seseorang

Beberapa observasi yang ditemukan:

  • Jika
         ditemukan memar yang nampak baru tanpa disertai perubahan warna,
         diperkirakan terjadi 2 hari sebelum kematian
  • Jika
         memar terdapat perubahan warna kehijauan, diperkirakan terjadi tidak lebih
         dari 18 jam sebelum kematian
  • Jika
         ada beberapa memar dengan beberapa warna yang berbeda, berarti tidak
         terjadi pada saat yang sama. Penting pada kasus penyiksaan anak.

 

Memar pada Tanda Khusus

Kumpulan memar bentuk koin kecil merupakan karakterisitik
tekanan jari baik pada pemegangan atautusukan. Sering nampak pada kasus
penyiksaan anak, dimana orang yang dewasa memegang  dengan pegangan yang
nyaman. Biasa disebut ‘memar sixpenny’

Ketika permukaan kulit dilanggar oleh roda atau obyek berpola
seperti rotan, memar yang nampak mengikuti pola obyek tersebut.

 

Luka akibat tendangan

          
Telapak kaki dapat meninggalkan pola memar pada tubuh, sering pada abdomen dan
dada walaupun ini dapat dikenali pada leher dan wajah.Tendangan yang cepat
dapat menyebabkan luka lecet disertai memar, sedangkan menurut
arahnya,tendangan vertical menunjukkan memar intradermal dengan pola telapak
kaki.Kasus luka akibat tendangan menjadi hal biasa dengan meningkatnya
kekerasan pada masyarakat.Sebagian besar tendangan dilakukan pada korban yang
telah duduk atau terjatuh ketanah, yang sebelumnya disebabkan tindakan
kekerasan lainnya seperti mendorong atau memukul, sehingga setelah korban lemas
dan kaki pelaku menyerang bagian yang paling mudah seperti pinggang, paha,
leher dan area abdominal.Variasi lain tendangan yaitu  pelaku menyerang
dari atas korban dengan cara loncat dan menendang dengan satu atau dua kaki,
sehinga dada paling sering terkena dan dapat menyebabkan patah tulang iga
maupun tulang dada.

          
Bahaya umum yang terjadi pada tendangan ke arah muka adalah patah tulang
mandibulla, maxilla, tulang hidung dan zygoma. Tendangan pada satu sisi wajah
dapat benar-benar melepas bagaian bawah dari maxilla dengan bagian lengkungan
gigi dam palatum.

 

Memar post mortem dan artefak lainnya

          
Khususnya pada kematian kongesti seperti tekanan pada leher, sistem vena dapat
tersumbat dan dapat terjadi memar. Salah satu area yang penting yang dapat
mendeskripsikan secara penuh disbanding yang lain adalah leher, dimana kumpulan
dari darah antara esophagus dan tulang belakang servikal dapat menimbulkan
memar dari stranhulasi.

Luka gores/Laserasi

Berbeda dengan luka iris dimana pada luka gores jringan yang
rusak menyobek bukan mengiris.

Laserasi dapat dibedakan dari luka iris :

  1. Garis
         tepi memar dan kerusakan memiliki area yang sangat kecil sehingga untuk
         pemeriksaanya kadang dibutuhkan bantuan kaca penbesar.
  2. Keberadaan
         rangkaian jaringan yang terkena terdapat pada daerah bagian dalam luka,
         termasuk pembuluh darah dan saraf .
  3. Tidak
         adanya luka lurus yang tajam pada tulang dibawahnya,terutama jika yang
         terluka daerah tulang tengkorak.
  4. Jika
         area tertutup oleh rambut seperti kulit kepala, maka rambut tersebut akan
         terdapat pada luka.

 

Laserasi terpola

          
Laserasi tidak menciptakan kembali bentuk dari alat yang melukai, tendangan
dapat menyebabkan laserasi khususnya jika menggunakan sepatu boot yang besar
dengan ujung kakinya yang keras. Pukulan yang sangat keras dapat menyebabkan
laserasi linier atau stellate.

 

Luka akibat benda tumpul yang berpenetrasi

          
Luka ini merupakan luka campuran antara luka laserasi dan luka iris. Dapat
terjadi alibat dari pukulan besi atau sebilah kayu. Pada waktu alat tumpul
dipukulkan ke kulit, maka akan ada lekukan dan lecet pada sisinya, walaupun
bekas yang lebih dulu akan hilang jika alatnya telah ditarik kembali. Material
seperti karat, kotoran atau serpihan mungin tertinggal pada luka dan harus
sangat hati-hati dilindungi untuk pemeriksaan forensic, jika alat yang
digunakan belum diketahui.

Luka Iris

Adalah luka yang disebabkan oleh objek yang tajam, biasanya
mencakup seluruh luka akibat benda-benda seperti pisau, pedang, silet, kaca,
kampak tajam dll. Ciri yang paling penting dari luka iris adalah adanya
pemisahan yang rapih dari kulit dan jaringan dibawahnya, maka sudut bagian luar
biasanya bisa dikatakan bersih dari kerusakan apapun.

 

Luka potong

          
Adalah luka iris yang kedalamannya lebih panjang. Luka potong tidak lebih
berbahaya dibandingkan tikaman, sebagaimana ketidakdalaman luka tidak akan
terlalu mempengaruhi organ vital, khususnya target utama nya adalah tangan dan
muka.

Luka tikam dan luka yang berpenetrasi

Menikam biasanya dengan pisau, sering terjadi pada kasus
pembunuhan dan pembantaian.

Karakteristik dari alat tikam:

  1. Panjang,
         lebar dan ketebalan pisau
  2. Satu
         atau dua sisi
  3. derajat
         dari ujung yang lancip
  4. bentuk
         belakang pada pisau satu sudut (bergerisi/kotak)
  5. Bentuk
         dari pelindung pangkal yang berdekatan dengan mata pisau
  6. Adanya
         alur, bergerigi atau cabang dari mata pisau
  7. Ketajaman
         dari sudut dan khususnya ujung dari mata pisau

Karakteristik luka tikam, dapat menerangkan tentang:

  1. Dimensi
         senjata
  2. Tipe
         senjata
  3. Kelancipan
         senjata
  4. Gerakan
         pisau pada luka
  5. Kedalaman
         luka
  6. Arah
         luka
  7. Banyaknya
         tenaga yang digunakan

 

Petunjuk dari luka tusuk

          
Petunjuk dari luka tusuk sering dianggap sebagai suatu masalah pembunuhan
terutama sebagai persidangan, yang mengarah pada saat rekontruksi kejadian.
Kejadian-kejadian penusukan sering bergerak dan dinamis sehingga korban jarang
dalam keadaan statis. Penjelasan mengenai petunjuk berdasarkan gambaran luka
dan jejak benda. Saat pisau dengan mata pisau kurang cukup besar, maka luka
sering tampak terpotong bagian bawahnya mengenai jaringan subkutan. Pada
autopsy, menjelaskan seperti pada luka tusuk didada, kadang saat di autopsy
luka terletak dibawah puting. Pembedahan dari jaringan dan otot bisa
mengungkapkan bahwa kerusakan dinding dada terletak di ICS berapa . Informasi
ini menjadi petunjuk luka, mengambarkan jejak luka.

 

Perkiraan mengenai derajat kekuatan luka tusuk

          
Diberikan keterangan mengenai:

  1. Bagian
         dari tulang atau pengerasan tulang rawan
  2. Ketajaman
         dari ujung pisau
  3. Kecepatan
         dating nya pisau
  4. Kulit
         yang elastis lebih mudah ditembus
  5. Variasi
         ketebalan kulit terhadap pisau, kulit  telapak kaki lebih tebal
         dari  bagian tubih lain.
  6. Luka
         tembus yang disebabkan tusukan

 

Luka oleh senjata lain selain pisau

          
Pisau cukur dan pecahan gelas memiliki tepi tajam yang berbeda sehingga dapat
memberikan jejak yang berbeda pula. Pada derah luka yang berambut, maka akan
terlihat rambut akan terpotong.

 

Luka akibat Gunting

          
Sering ditemukan pada kejadian rumah tangga, dimana biasanya pelaku adalah
wanita, menggunakan senjata yang gampang, dikenal, mudah diraih. Gambaran luka
tergantung pada posisi gunting saat ditusukkan, terbuka atau tertutup. Pada
gunting yang terbuka, dengan satus sisi tertusuk, maka gambaran luka sukar
dibedakan dengan gambaran luka tusuk oleh pisau. Sedangkan untuk luka akibat
gunting yang tertutup, maka luka yang terbentuk seperti huruf Z atau seperti
kilatan cahaya.

 

Luka tangkis

          
Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan
pada umumnya ditemukan pada telapak tangan, punggung tangan, jari-jari tangan,
punggung lengan bawah dan tungkai. Bila pada keadaan tangkis dengan cara
menangkap mata pisau dengan telapak tangan, maka luka yang terjadi akan
mengiris telapak tangan, melintasi lekukan jari, mengiris kulit, jaringan
tendon atau kadang teririsnya keempat jari tangan

 

boy antoni putra………………. askep lo… 17 juli 2008

gastro enteritis askep

July 18th, 2008 by bared18

G A S T R O E N T E R I T I S

 

 

1. PENGERTIAN

Diare adalah keadaan
frekuensi buang air besar lebih dari empat kali pada bayi dan lebih tiga kali
pada anak. Konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur
lender dan darah atau lendir  biasa.

2.INSIDEN

v Gastroenteritis akut adalah penyakit
utama kedua yang paling sering menyerang anak – anak

v Rotavirus adalah penyebab 35 % – 50 %
hospitalisasi karena gastroenteritis akut, antara 7 % - 17 % disebabknan
adenovirus dan 15 % disebabkan bakteri

v Bayi yang mendapat ASI, lebih jarang
menderita gastroenteritis akut daripada bayi yang mendapat susu formula,
antibody maternal terdapat sejumlah patogrn enteric dipindahkan air susu ibu

3. MANIFESTASI KLINIS

§ Sering
BAB, konsistensi feses cair.

§ Terdapat
tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelk, ubun – ubun dan mata cekung,
membrane mukosa kering

§ Kram
abdominal

§ Mual
dan disertai muntah

§ Demam,
anoreksia, lemah, pucat, malaise, BB menurun

§ Perubahan
tanda – tanda vital, nadi dan pernafasan cepat

4. ETIOLOGI

Faktor penyebab diare

v Factor infeksi

Ø Infeksi enteral

 Infeksi saluran
pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Meliputi
infeksi enteral sebagai berikut :

· Infeksi
bakteri, vibrio, Eschericia coli, salmonella, shigella, compylobakter,
yersinia, aeromanas, dan sebagainya.

· Infeksi
virus, enterovirus ( virus ECHO, coxsackie, poliomyelitis ) adeno-virus,
rotavirus, astrovirus, dan lain – lain

· Infeksi
parasit,cacing ( Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides ), protozoa, ( Entamoeba
histolytica, Giardia Lamblia, Trichomonus Hominis ), jamur ( Candida albicans).

Ø Infeksi parenteral

Infeksi di luar alat
pencernaan makanan seperti otitis media akut ( OMA ), tonsillitis atau
tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya. Keadaan ini
terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.

v Factor malabsorbsi

o Malabsorbsi
karbohidrat, disakarida ( intoleransi laktosa, maltosa,sukrosa ), monosakarida
( intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa ). Pada bayi dan anak 6yang
terpenting dan tersering ( intoleransi laktosa ).

o Malabsorbsi
lemak

o Malabsorbsi
protein

v Factor makanan, makanan basi,
beracun, alergi terhadap makanan

v Factor psikologis, rasa takut dan
cemas ( jarang, taetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar )  

5. PATOFISIOLOGI

Berdasarkan patofisiologi, maka
penyebab diare dibagi menjadi :

v Diare sekresi, yng dapat disebabkan
oleh infeksi virus, kuman pathogen dan apatogen,hiperperistaltik usus halus
akibat bahan kimia atau makanan,gangguan psikis, gangguan saraf, hawa dingin,
alergi dan defisiensi imun terutama Ig A sekretorik.

v Diare osmotic,yang daoat disebabkan
oleh malabsorbsi makanan, kekurangan kalorii protein ( KKP ), atau bayi berat
badab lahir rendah dan bayi baru lahir

Mekanisme dasar yang menyebabkan
timbulnya diare adalah :

Ø Gangguan osmotic

Akibat terdapatnya
makanan atau zat yang tidak dapat diserap menyebabkan tekanan osmotic dalam
rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam
rongga usus. Rongga usus yang berlebiha akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya hingga timbul diare

Ø Gangguan sekresi

Akibat rangsangan
tertentu ( misalnya toksin ) pada dinding usus akan terjadi peningkatan
sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare
karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

 

Ø Gangguan motilitas usus

Hiperperistaltik akan
menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul
diare. Sebaliknya bila peristaltic usus menurun akan mengakibatkan bakteri
tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul diare pula.

6. KOMPLIKASI

· Dehidrasi
( ringan, sedang, berat, isotonk atau hipertonik )

· Renjatan
hipovolemik

· Hipokalemia
( dengan gejala hipotonik otot, lemah, bradikardi, dan perubahan pada
elektrokardiogram )

· Hipoglikemia

· Intoleransi
laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena kerusakan fili
mukosa usus halus.

· Kejang
terutama pada dehidrasi hipertonik

· Malnutrisi
energi protein karena selain diare dan muntah penderita juga mengalami
kelaparan

7. PENATALAKSANAAN

Dasar pengobatan diare menurut
Ngastiah :

Ø Pemberian cairan : jenis cairan, cara
pemberian cairan, dan jumlah pemberiannya

Pemberian pada pasien
diare dengan memperhatikan derajat dehidarsi dan keadaan umum :

· Cairan per oral

Cairan per oral pasien
dehidrasi ringan dan sedang, cairan deberikan per oral berisi NaCl dan NaHCO3,
KCl, glukosa. Untuk daire akut dan kolera diatas umur 6 bulan kadar natrium 90 mEq/L.
anak dibawah umur 6 bulan kadar natriumnya 50 – 60 mEq/L. formula lengkap
sering disebut oralit. Sedangkan yang tidak lengkap dalah cairan yang sderhana
yang dibuat sendiri yang mengandung gula dan garam atau air tajih yang diberi
garam dan gula untuk pengobatan sementara di rumah.

· Cairan parenteral

Sebenarnya ada beberapa
jenis cairan yang di perlukan sesuai dengan kebutuhan bayi atau pasien yang Mal
Energi Protein (MEP ).

Mengenai pemberian cairan
seberapa bamyak yang di beri tergantung ringan beratnya dehidrasi di
perhitungkan sesuai umur dan berat badan.

 

 

 

Cara pemberian cairan :

§ Belum
ada dehidrasi

Per oral sebanyak anak
mau minum atau 1 gelas tiap defekasi

§ Dehidrasi
ringan

1 jam
: 25 – 50 ml/kgBB per oral dan selanjutnya 125 ml/kgBB per hari

§ Dehidrasi
sedang

1 jam pertama 50 – 100
ml/kgBB per oral ( sonde ) dan selanjutnya 125 ml/kgBB per hari

§ Dehidari
berat

o Untuk
anak 1 bulan – 1 tahun berat badan 3 – 10 kg.

1 jam
pertama 40 ml/kgBB per jam

7 jam pertama 12 ml/kgBB
per jam

16 jam pertama 125ml/kgBB
oralit per oral

o Untuk
anak umur 2 – 5 tahun berat badan 10 – 15 kg

1 jam pertama 30 ml/kgBB
per jam

7 jam pertama 10 ml/kgBB
per jam

16 jam berikutnya 125
ml/kgBB oralit per oral

o Untuk
anak 5 – 10 tahun berat badan 15 – 25 kg

1 jam pertama 20 ml/kgBB
per jam

7 jam pertama 10 ml/kgBB
per menit

16 jam berikutnya 105
ml/kgBBoralit per oral

Ø Diatetik ( cara pemberian makanan )

Untuk anak di bawah 1
tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan < 7 kg makanannya adalah susu
( ASI atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak
jenuh ), makanan setengah padat ( bubur ), makanan padat ( nasi tim ).

Ø Obat – obatan

Prinsip pengobatan adalah
menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah dengan
cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain ( gula, air
tajih, tepung bearas dan sebagainya ) 

· Obat
anti sekresi

Asetosal, dosis 25
mg/kgBB dengan dosis minimum 30 mg

Klorpramazin, dosis 0,5 –
1 mg/kgBB/hari.

· Obat
spasmolitik

· Antibiotic,
umumnya diberikan bila ada peyebab yang jelas, bila penyebabnya kolera
diberikan tetrasikan 25 mg/kgBB/hari. Antibiotic juga diberikan bila terdapat
penyakit penyrta seperti : OMA, faringitis, brankitis, bronkopneumonia.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Maka data yang dapat ditemukan pada
diare akut adalah

v Identitas klien meliputi : nama,
umur, jenis ke;lamin, dan lain – lain

v Data riwayat kesehatan

· Riwayat
kesehatan sekarang

Kemungkinan klien akan
mengalami BAB lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih 3 kali pada anak dengan
konsistensi encer dapat bercampur lender darah atau lender saja yang disertai
muntah, penurunan BB, suhu badab tergantung berat ringannya diare dan anak
terlihatlesu dan lemah

· Riwayat
kesehatan dahulu

Kemungkinan dulu pernah
menderita penyakit saluran pencernaan baik akut maupun kronis serta adanya
riwayat pernah menderita diare atau penyakit lain seperti : ISPA, otitis media,
penyakit infeksi lain

· Riwayat
kesehatan keluarga

Adanya anggota keluarga
menderita penyakit diare, ISPA, otitis media, penyakit infeksi lain

v Data fisik :

o Keadaan
umum

Kesadarn : tergantung
berat ringannya diare

Tanda – tanda vital : tergantung
derajat dehidrasi

o Pemeriksaan
fisik :

Ø Kepala

§ ubun
– ubun besar tergantung usia dan berat ringan daire

§ Mata
: tergantung berat ringannya diare

§ Mulut
: bibir kering

Ø Kulit : turgor kulit tergantung berat
ringannya diare

Ø Perut : biasanya tidak ada kelainan

Ø Genetalia : daerah sekitar anus
biasanya agak kemerahan

Ø Ekstremitas : ujung ekstremitas
biasnya dingin

 

v Pemeriksaan laboratorium

  • Pemeriksaan
         tinja

Makroskopis dan
mikroskopis,pH dan kadar gula jika diduga ada intoleransi gula, biakan kuman
untk mencari kuman penyebab dan uji resistensi terhadap antibiotik

  • Pemeriksaan
         darah

Darah perifer dan analisa
gas darah untuk menentukan derajat dehidarasi dan infeksi

  • Pemeriksaan
         elektrolis terutama Na, K, Cl, P serum pada diare yang disertai kejang
  • Pemeriksaan
         ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal
  • Pemeriksaan
         duodenum incubation untuk mengetahui kuman secara kuantitatif dan
         kualitatif terutama pada diare kronik

2. kemungkinan diagnosa

o Kurang
volume cairan b.d seringnya BAB

o Resiko
gangguan integritas kulit b.d iritasi karena diare

o Perubahan
nutrisi : kurang dari kebutuhan b.d out put yang berlebihan

o Resiko
infeksi b.d mikroorganisme yang menembus saluran gastro intestinal

o Kurangnya
pengetahuan b.d perawatan diare

Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi

Kriteria hasil : turgor kulit baik,
membrane mukosa lembab, TTV stabil

 

 

 

 

 

Intervensi

 

 

Rasional

 

 

1.Berikan larutan
  rehidrasi oral untuk rehidrasi dan penggantian penghilangan cairan melalui
  feses

 

2.Berikan daan pantau
  cairan IV sesuai ketentuan

 

3. Beri agen anti
  mikroba sesuai ketentuan

 

 

 

 

 

4.Kaji TTV, turgor kulit,
  membrane mukosa, status mental setiap 4 jam atau sesuai indikasi

 

5. Hindari masukan
  jernih, seperti : jus buah, miniman bikarbonat dan gelatin

 

 

Larutan rehidrasi oral berikan sedikit tapi sering khususnya
  bila anak muntah

 

 

 

Untuk dehidrasi hebat dan muntah

 

 

 

Untuk mengobati pathogen khusus yang menyebabkan kehilangan
  cairan yang berlebihan

 

Untk mengkaji dehidrasi

 

 

 

 

 

Karena cairan ini tinggi karbohidrat rendah elektrolit dan
  mempunyai osmolalitas tinggi

 

 

 

DX 2 : Perubahan nutrisi : kurang dari
kebutuhan b.d out put yang berlebihan

Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi

Kriteria hasil : intake dan out put
adekuat

 

 

 

 

 

Intervensi

 

 

Rasional

 

 

1 Kaji kebutuhan nutrisi tiap hari

 

 

 

 

 

2.Beri makanan lunak dan mudah di
  cerna

 

 

 

3.Beri makanan dalam porsi kecil
  tapi sering

 

 

 

4.Berikan kebersihan oral

 

 

Dapat mengetahui sejauh mana klien kekurangan nutrisi dan
  dapat direncanakan tindakan selanjutnya

 

Mengurangi kerja peristaltic usus dam memudahkan penyerapan

 

Menghindari rasa bosan klien sehingga tidak merasa mual dan
  muntah

 

Mulut yang bersih dapat meningkatkan nafsu makan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WOC

 

 

Infeksi  - Bakteri   makanan ( basi, beracun  mal absorbsi

  - Virus    dan alergi )shg  karbhdrt prtein dan 

 - Parasit    sukar diabsorbsi usus lemak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 Toksin
diaregenik   peningkatan tekanan

   osmotic usus

 

 Hipersekresi pada
colon pe↑ sekresi air

  dan
elektrolis kerongga

 usus

   

 

 

 

diare akut

 

 

   

 


 
   
   

   

 

   
   

Mk: resti terjadi
    infeksi

   

   

 

 

 

 
   
   

   

 

   
   

MK: kecemasan

   

Orang tua dan

   

klg

   

   

 

 Pengeluaran cairan dan

  ektrolit yg  iritasi anus

  

 

 
   
   

   

 

   
   

Mk : ggn
    keseimbgn caiarn ,dan elektrlit

   

   

 

 berlebihan

 (
Na, K,HCL )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
   
   

   

 

   
   

Mk : ggn
    integritas kulit

   

   

 

 

 

 

 

kkrgn
cairan dan elektrolit (dehidrasi)

kr pengeluaran banyak, intake kurang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  ggn
keseimbangan asam basa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
   
   

   

 

   
   

Mk : ggn rasa
    nyaman, cemas dan takut

   

   

 

 

 

 

 
   
   

   

 

   
   

Mk : ggn nutrisi

   

   

 

 -
hipoglikimia

 - pernapasan kusmaull

  - ggn sirkulas

   - ggn gizi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

asma broncheal

July 18th, 2008 by bared18

ASMA

Pengertian
Asma adalah suatu gangguan yang
komplek dari bronkial yang
dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama
pada jalan nafas). (Polaski : 1996).

Asma adalah gangguan pada jalan
nafas bronkial yang dikateristikan dengan
bronkospasme yang reversibel. (Joyce M. Black : 1996).

Asma adalah penyakit jalan nafas
obstruktif intermiten, reversibel dimana
trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu.
(Smelzer Suzanne : 2001).

Dari ketiga pendapat tersebut dapat diketahui bahwa asma adalah suatu
penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten yang bersifat
reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan
respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan
penyempitan jalan nafas.

Etiologi
Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas yang reversibel yang disebabkan
oleh :
1) Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan
nafas.
2) Pembengkakan membran bronkus.
3) Terisinya bronkus oleh mukus yang kental.

Patofisiologi
Proses perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu alergi dan
psikologis, kedua faktor tersebut dapat meningkatkan terjadinya kontraksi
otot-otot polos, meningkatnya sekret abnormal mukus pada bronkriolus dan
adanya kontraksi pada trakea serta meningkatnya produksi mukus jalan
nafas, sehingga terjadi penyempitan pada jalan nafas dan penumpukan udara
di terminal oleh berbagai macam sebab maka akan menimbulkan gangguan
seperti gangguan ventilasi (hipoventilasi), distribusi ventilasi yang
tidak merata dengan sirkulasi darah paru, gangguan difusi gas di tingkat
alveoli.
Tiga kategori asma alergi (asma ekstrinsik) ditemukan pada klien dewasa
yaitu yang disebabkan alergi tertentu, selain itu terdapat pula adanya
riwayat penyakit atopik seperti eksim, dermatitis, demam tinggi dan klien
dengan riwayat asma. Sebaliknya pada klien dengan asma intrinsik
(idiopatik) sering ditemukan adnya faktor-faktor pencetus yang tidak
jelas, faktor yang spesifik seperti flu, latihan fisik, dan emosi (stress)
dapat memacu serangan asma.

Manipestasi klinik
Manifestasi klinik pada pasien asma adalah batuk, dyspne, dari wheezing.
Dan pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada pada penderita
yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, sedangkan waktu
serangan tampak penderita bernafas cepat, dalam, gelisah, duduk dengan
tangan menyanggah ke depan serta tampak otot-otot bantu pernafasan bekerja
dengan keras.

Ada

beberapa tingkatan penderita asma yaitu
:
1) Tingkat I :
a) Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.
b) Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test
provokasi bronkial di laboratorium.
2) Tingkat II :
a) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru
menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
b) Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
3) Tingkat III :
a) Tanpa keluhan.
b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan
nafas.
c) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang
kembali.

4) Tingkat IV :
a) Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan
nafas.
5) Tingkat V :
a) Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma
akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim
dipakai.
b) Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang
reversibel.
Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti :
Kontraksi otot-otot pernafasan, cyanosis, gangguan kesadaran, penderita
tampak letih, taki kardi.

Klasifikasi asma
Asma dibagi atas dua kategori, yaitu ekstrinsik atau alergi yang
disebabkan oleh alergi seperti debu, binatang, makanan, rokok dan
obat-obatan. Klien dengan asma alergi biasanya mempunyai riwayat keluarga
dengan alergi dan riwayat alergi rhinitis, sedangkan non alergi tidak
berhubungan secara spesifik dengan alergen.
Faktor-faktor seperti udara dingin, infeksi saluran pernafasan, exercise,
emosi dan lingkungan dengan polusi dapat menyebabkan atau sebagai pencetus
terjadinya serangan asma. Jika serangan non alergi asma menjadi lebih
berat dan sering dapat menjadi bronkhitis kronik dan emphysema selain
alergi juga dapat terjadi asma campuran yaitu alergi dan non alergi.

Penatalaksanaan
Prinsip umum dalam pengobatan pada asma bronhiale :
a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas
b. Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan serangan asma.
c. Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara pengobatan
maupun penjelasan penyakit.

Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas :
a. Pengobatan dengan obat-obatan
Seperti :
1) Beta agonist (beta adnergik agent)
2) Methylxanlines (enphy bronkodilator)
3) Anti kounergik (bronkodilator)
4) Kortikosterad
5) Mart cell inhibitor (lewat inhalasi)
b. Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya, misalnya :
1) Oksigen 4-6 liter/menit.
2) Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2,5 mg atau terbutalin 10 mg)
inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam.
Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5%
yang dan berikan perlahan.
3) Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam
12 jam.
4) Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon
segera atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan
sangat berat.

Pemeriksaan penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang seperti :
a. Spirometri :
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
b. Tes provokasi :
4) Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus.
5) Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri.
6) Tes provokasi bronkial seperti :
Tes provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani,
hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aquci destilata.
7) Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam
tubuh.
c. Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum.
d. Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal.
e. Analisa gas darah dilakukan pada asma berat.
f. Pemeriksaan eosinofil total dalam darah.
g. Pemeriksaan sputum.

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma adalah pneumotoraks,
atelektasis, gagal nafas, bronkhitis dan fraktur iga.

Pengkajian
a. Identitas klien
1) Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat keturunan, alergi debu, udara
dingin
2) riwayat kesehatan sekarang : keluhan sesak napas, keringat dingin.
3) Status mental : lemas, takut, gelisah
4) Pernapasan : perubahan frekuensi, kedalaman pernafasan.
5) Gastro intestinal : adanya mual, muntah.
6) Pola aktivitas : kelemahan tubuh, cepat lelah
b. Pemeriksaan fisik
Dada
1) Contour, Confek, tidak ada defresi sternuum
2) Diameter antero posterior lebih besar dari diameter trnsversal
3) Keabnormalan struktur Thorax
4) Contour dada simetris
5) Kulit Thorax ; Hangat, kering, pucat atau tidak, distribusi warna merata
6) RR dan ritme selama satu menit.
Palpasi :
1) Temperaur kulit
2) Premitus : Pibrasi dada
3) Pengembangan dada
4) Krefitasi
5) Masa
6) Edema
Auskultasi
1) Vesikuler
2) Broncho vesikuler
3) Hyper ventilasi
4) Rochi
5) Whizing
6) Lokasi dan perubahan suara napas serta kapan saat terjadinya.
c. Pemeriksaan penunjang
1) Spirometri :
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
2) Tes provokasi :
a) Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus.
b) Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri.
c) Tes provokasi bronkial
Untuk menunjang adanya hiperaktivitas broncus , test provokasi dilakukan
bila tidak dilakukan lewat test spirometri. Test provokasi bronchial
seperti : Test provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani,
hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aquaci destilata.
3) Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam
tubuh.
4) Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum.
5) Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal.
6) Analisa gas darah dilakukan pada asma berat.
7) Pemeriksaan eosinofil total dalam darah.
8) Pemeriksaan sputum.

Diagnosa 1 :
Tidak efektifnya kebersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus.
Tujuan :
Jalan nafas kembali efektif.
Kriteria hasil : -
Sesak berkurang, batuk berkurang, klien dapat mengeluarkan sputum,
wheezing berkurang/hilang, vital dalam batas normal keadaan umum baik.
Intervensi :
a. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, misalnya : merigi,
erekeis, ronkhi.
R/ Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas.
Bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (empysema), tak ada fungsi nafas
(asma berat).
b. Kaji / pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi.
R/ Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dpat ditemukan pada
penerimaan selama strest/adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat
melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
c. Kaji pasien untuk posisi yang aman, misalnya : peninggian kepala tidak
duduk pada sandaran.
R/ Peninggian kepala tidak mempermudah fungsi pernafasan dengan
menggunakan gravitasi.
d. Observasi karakteristik batuk, menetap, batuk pendek, basah. Bantu
tindakan untuk keefektipan memperbaiki upaya batuk.
R/ batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya pada klien lansia,
sakit akut/kelemahan.
e. Berikan air hangat.
R/ penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus.
f. Kolaborasi obat sesuai indikasi.
Bronkodilator spiriva 1×1 (inhalasi).
R/ Membebaskan spasme jalan nafas, mengi dan produksi mukosa.

Diagnosa 2 :
Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
Tujuan :
Pola nafas kembali efektif.
Kriteria hasil :
Pola nafas efektif, bunyi nafas normal atau bersih, TTV dalam batas
normal, batuk berkurang, ekspansi paru mengembang.
Intervensi :
1. Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya
pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal.
R/ kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung
derajat gagal nafas. Expansi dada terbatas yang berhubungan dengan
atelektasis dan atau nyeri dada
2. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti crekels,
mengi.
R/ ronki dan mengi menyertai obstruksi jalan nafas / kegagalan pernafasan.
3. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi.
R/ duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.
4. Observasi pola batuk dan karakter sekret.
R/ Kongesti alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi.
5. Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk.
R/ dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan
ditambah ketidak nyaman upaya bernafas.
6. Kolaborasi
- Berikan oksigen tambahan
- Berikan humidifikasi tambahan misalnya : nebulizer
R/ memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas, memberikan
kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret.

Diagnosa 3 :
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat.
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.
Kriteria hasil :
Keadaan umum baik, mukosa bibir lembab, nafsu makan baik, tekstur kulit
baik, klien menghabiskan porsi makan yang disediakan, bising usus 6-12
kali/menit, berat badan dalam batas normal.
Intervensi :
1. Kaji status nutrisi klien (tekstur kulit, rambut, konjungtiva).
R/ menentukan dan membantu dalam intervensi lanjutnya.
2. Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh.
R/ petikan pengetahuan klien dapat menaikan partisi bagi klien dalam
asuhan keperawatan.
3. timbang berat badan dan tinggi badan.
R/ Penurunan berat badan yang signipikan merupakan indikator kurangnya
nutrisi.
4. Anjurkan klien minum air hangat saat makan.
R/ air hangat dapat mengurangi mual.
5. Anjurkan klien makan sedikit-sedikit tapi sering
R/ memenuhi kebutuhan nutrisi klien.
6. Kolaborasi
- Consul dengan tim gizi/tim mendukung nutrisi.
R/ menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan.
- Berikan obat sesuai indikasi.
- Vitamin B squrb 2×1.
R/ defisiensi vitamin dapat terjadi bila protein dibatasi.
- antiemetik rantis 2×1
R/ untuk menghilangkan mual / muntah.

Diagnosa 4 :
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan :
Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Kriteria hasil :
k/u klien baik, badan tidak lemas, klien dapat beraktivitas secara
mandiri, kekuatan otot terasa pada sekala sedang
Intervensi :
1. Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dyspnea
peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan
setelah aktivitas.
R/ menetapkan kebutuhan/kemampuan pasien dan memudahkan pilihan intervensi.
2. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya
keseimbangan aktivitas dan istirahat.
R/ Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan
metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan.
3. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan atau tidur.
R/ pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi atau menunduk kedepan meja
atau bantal.
4. Bantu aktivitas keperawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan
peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.
R/ meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan
oksigen.
5. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai
indikasi.
R/ menurunkan stress dan rangsangan berlebihan menaikan istirahat.

Diagnosa 5 :
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan
kurangnya informan.
Tujuan :
Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah.
Kriteria hasil :
Mencari tentang proses penyakit :
- Klien mengerti tentang definisi asma
- Klien mengerti tentang penyebab dan pencegahan dari asma
- Klien mengerti komplikasi dari asma
Intervensi :
1. Diskusikan aspek ketidak nyamanan dari penyakit, lamanya penyembuhan,
dan harapan kesembuhan.
R/ informasi dapat manaikan koping dan membantu menurunkan ansietas dan
masalah berlebihan.
2. Berikan informasi dalam bentuk tertulis dan verbal.
R/ kelemahan dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan untuk mangasimilasi
informasi atau mengikuti program medik.
3. Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif atau latihan pernafasan.
R/ selama awal 6-8 minggu setelah pulang, pasien beresiko besar untuk
kambuh dari penyakitnya.
4. Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan pelaporan pemberi
perawatan kesehatan.
R/ upaya evaluasi dan intervensi tepat waktu dapat mencegah meminimalkan
komplikasi.
5. Buat langkah untuk meningkatkan kesehatan umum dan kesejahteraan,
misalnya : istirahat dan aktivitas seimbang, diet baik.
R/ menaikan pertahanan alamiah atau imunitas, membatasi terpajan pada
patogen.

Evaluasi
a. Jalan nafas kembali efektif.
b. Pola nafas kembali efektif.
c. Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.
d. Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
e. Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah.

 

kamar bersalin dan rawat gabung

July 18th, 2008 by bared18

KAMAR BERSALIN dan
RAWAT GABUNG

 

Keberhasilan
kehamilan, persalinan, menyusui dan nifas dipengaruhi oleh berbagai faktor
- fisik (gizi, aktifitas, dsb)
- penyakit tertentu (infeksi, penyakit endokrin / metabolik, dsb)
- lingkungan sosial (sikap dan tingkah laku masyarakat, dsb)
- ekonomi (promosi susu formula yang berlebihan, dsb)
- politik (kebijakan pemerintah, dsb)
- emosional (sikap ibu terhadap kehamilan, persalinan dan menyusui).

Rumah sakit merupakan sebuah lembaga di mana
orang sakit (termasuk ibu hamil) membutuhkan perawatan baik fisik maupun
emosional untuk kembali sehat seperti semula. Pemeriksaan antenatal selama
kehamilan tentu dapat dilakukan di klinik / ruang periksa. Namun kamar bersalin
dan kamar perawatan ibu dan anak memerlukan perhatian / pemahaman khusus para
penyelenggara pelayanan kesehatan, supaya dapat memberikan pelayanan yang baik
dan optimal sesuai kebutuhan ibu dan bayinya.

KAMAR BERSALIN
  
Sesuai program pemerintah, peningkatan kualitas manusia
Indonesia seutuhnya dapat dicapai antara lain dengan peningkatan penggunaan
ASI, maka posisi rumah sakit dengan kamar bersalinnya menjadi sangat vital,
karena di sinilah pertama kali ibu mengadakan kontak dengan bayinya sesaat
setelah dilahirkan. Kalau selama dalam kandungan semua kebutuhan nutrisi janin
didapatkan melalui tali pusat, maka di kamar bersalin bayi membutuhkan kontak
kembali dengan ibunya, baik untuk kepentingan nutrisi maupun untuk kepentingan
lainnya.

  Dalam protokol kebidanan, ibu masih
harus dirawat di kamar bersalin dua jam setelah melahirkan untuk deteksi dini
terjadinya perdarahan post partum yang sangat mengancam jiwa. Pertanyaan yang
timbul, ke mana bayi harus diletakkan selama ibu dalam pengawasan intensif
untuk menghindari bahaya perdarahan ? Kalau dahulu bayi segera dirawat di kamar
bayi, maka sekarang jawabnya adalah bayi diletakkan di samping ibu atau dalam
sebuah boks dekat dengan ibu. Dari sinilah sebenarnya rawat gabung mulai
dikerjakan.

Struktur dan fungsi kamar bersalin

  Kamar bersalin ideal terdiri atas kamar
persiapan, kamar bersalin yang sebenarnya dan kamar observasi pasca persalinan
(kamar pulih). Di samping itu dapat pula dipisahkan antara kamar untuk kasus
septik dan aseptik, kamar tindakan dan non tindakan dan kamar isolasi. Dalam
hubungan dengan pengelolaan laktasi, maka adanya tiga ruang yakni kamar
persiapan, kamar persalinan dan kamar observasi menduduki peran yang penting.

1.
Kamar persiapan

  Apabila
sebuah rumah sakit telah berfungsi penuh sebagai RS Sayang Bayi, maka hampir
semua ibu yang masuk kamar bersalin sudah mendapat penyuluhan manajemen laktasi
sejak mereka berada di poliklinik asuhan antenatal. Mereka sudah memperoleh
nasihat tentang keunggulan ASI, kerugian susu formula, gizi ibu hamil yang
menjamin lancarnya produksi ASI, beberapa cara perawatan payudara dan bagaimana
caranya menyusui yang benar. Ibu bersalin yang seperti ini tidak menjadi
masalah lagi.

Ada

kalanya,
kadang cukup banyak, ibu datang langsung ke kamar bersalin tanpa pernah
melakukan asuhan antenatal di rumah sakit tersebut. Kalaupun mereka melakukan
asuhan antenatal di tempat lain, mungkin petugas di

sana

juga belum memahami benar pentingnya
manajemen laktasi. Ibu yang akan bersalin ini perlu mendapat penyuluhan tentang
manajemen laktasi.

Untuk kepentingan ini perlu disiapkan sebuah ruang, di mana
ibu hamil yang datang untuk bersalin dapat memperoleh informasi yang jelas
tentang penatalaksanaan ASI. Di dalam ruang persiapan ini perlu dipasang
beberapa gambar, poster, brosur dan sebagainya, untuk membantu memberi konseling
tentang ASI. Di dalam kamar bersalin tidak boleh sama sekali terlihat botol
susu, dot atau kempengan, apalagi reklame susu formula yang semuanya akan
mengakibatkan gagalnya ibu menyusui. Dalam melakukan rangkaian tugas ini
petugas tidak boleh overacting misalnya jangan melakukan konseling pada ibu
yang sedang kesakitan. Berilah konseling hanya kepada ibu yang masih
kooperatif, yaitu ibu yang belum dalam persalinan atau masih dalam fase laten.

2. Kamar persalinan

Kamar persalinan yang sebenarnya adalah kamar
untuk ibu yang sudah dalam kala 1 fase aktif atau kala 2 persalinan. Pada saat
ini seorang ibu hamil berada dalam kondisi yang paling tidak menyenangkan,
karena berada dalam puncak rasa sakitnya. Tidak banyak yang dapat dilakukan
oleh petugas dalam hal konseling manajemen laktasi, karena sulit bagi ibu untuk
diajak berkomunikasi, kecuali tentang hal-hal yang menyangkut proses
persalinan. Meskipun demikian, gambar atau poster tentang cara menyusui yang
baik dan benar, serta menyusui segera sesudah lahir, dapat dipasang di ruangan
ini.

Dalam waktu 30 menit setelah lahir, bayi harus segera
disusukan. Beberapa pendapat mengatakan bahwa rangsangan putting susu akan
mempercepat lahirnya plasenta melalui pelepasan oksitosin, yang dapat
mengurangi risiko perdarahan postpartum. Rangsangan putting susu memacu refleks
prolaktin dan oksitosin, dua refleks penting yang dibutuhkan dalam proses
menyusui. Meskipun ASI belum keluar, kontak fisik bayi dengan ibu tetap harus
dikerjakan karena memberikan rasa kepuasan psikologis yang dibutuhkan ibu agar
proses menyusui berjalan lancar.

Penyusuan
dini dikerjakan pada bayi normal, yaitu bayi lahir dengan nilai Apgar 5 menit
di atas 7 dan refleks mengisap baik. Bayi lahir dengan asfiksia dan bayi dengan
cacat

 bawaan sebaiknya tidak segera disusukan kepada
ibunya.

Bila ibu mendapat pembiusan umum, misalnya untuk persalinan
dengan sectio cesarea, penyusuan dilakukan segera setelah ibu sadar penuh,
misalnya 4-6 jam setelah operasi. Pada keadaan ini efek pembiusan pada ibu dan
bayi telah berkurang, sehingga refleks mengisap bayi telah timbul kembali.
Penyusuan pasca operasi memerlukan pertolongan petugas untuk membantu ibu
memegang bayi, membetulkan posisi ibu, dan sebagainya. Bayi yang lahir dengan
tindakan vakum atau forcep, sering disertai dengan trauma kepala, sehingga
tidak jarang juga mengalami asfiksia. Meskipun demikian penyusuan dapat segera
dimulai dengan bantuan petugas.

 

 

 

 

3.
Kamar pulih

Selama dua jam ibu dalam observasi kala 4, ibu
ditempatkan dalam suatu kamar pulih. Bayi diletakkan di samping ibu atau dalam
sebuah boks yang dapat dilihat ibu. Sebaiknya diusahakan agar di kamar pulih
ibu tidak terganggu oleh kegaduhan yang biasanya terjadi di kamar persalinan.
Rasa tenteram ibu merupakan modal keberhasilan menyusui selanjutnya

 

RAWAT GABUNG

Banyak rumahsakit, puskesmas, klinik dan rumah
bersalin yang belum merawat bayi baru lahir berdekatan dengan ibunya. Berbagai
alasan diajukan antara lain karena rasa kasihan karena ibu masih capai setelah
melahirkan, ibu memerlukan istirahat, atau ibu belum mampu merawat bayinya
sendiri.

Ada

pula kekuatiran bahwa pada jam kunjungan, bayi mudah tertular penyakit yang
mungkin dibawa oleh para pengunjung. Alasan lain adalah rumahsakit / klinik
ingin memberikan pelayanan sebaik-baiknya sehingga ibu bisa beristirahat selama
berada di rumah sakit. Namun setelah menyadari akan keuntungannya, sistem  rawat gabung sekarang menjadi kebijakan
pemerintah.

Pengertian dan tujuan

Rawat gabung adalah satu cara perawatan
di mana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan
ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam
penuh dalam seharinya.

Tujuan
rawat
gabung adalah :

1. Agar ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin, kapan
saja dibutuhkan.

2. Agar ibu dapat melihat dan memahami cara perawatan bayi
yang benar seperti yang  dilakukan oleh
petugas.

3. Agar ibu mempunyai pengalaman dalam merawat bayinya
sendiri selagi ibu masih di rumah sakit dan yang lebih penting lagi, ibu
memperoleh bekal ketrampilan merawat bayi serta menjalankannya setelah pulang
dari rumah sakit.

4. Dalam perawatan  gabung, suami dan keluarga dapat dilibatkan
secara aktif untuk mendukung dan membantu ibu dalam menyusui dan merawat
bayinya secara baik dan benar.

5. Ibu mendapatkan kehangatan emosional karena ibu dapat
selalu kontak dengan buah hati yang sangat dicintainya, demikian pula
sebaliknya bayi dengan ibunya.

SASARAN DAN
SYARAT

Pada prinsipnya kegiatan Peningkatan Penggunaan
ASI (PP-ASI) dimulai sejak ibu hamil pertama kali memeriksakan diri di
poliklinik asuhan antenatal. Idealnya di poliklinik ini tersedia sebuah klinik
laktasi, yang terdiri atas dua ruangan yaitu klinik laktasi asuhan antenatal
dan postnatal.

  Kegiatan rawat gabung dimulai sejak
ibu bersalin di kamar bersalin dan di bangsal perawatan pasca persalinan.
Meskipun demikian penyuluhan tentang manfaat dan pentingnya rawat gabung sudah
dimulai sejak ibu pertama kali memeriksakan kehamilannya di poliklinik asuhan
antenatal.


  Tidak
semua bayi atau ibu dapat segera dirawat gabung. Bayi dan ibu yang dapat
dirawat gabung harus memenuhi syarat / kriteria sebagai berikut :

  1. Lahir spontan, baik
         presentasi kepala maupun bokong.
  2. Bila lahir dengan tindakan,
         maka rawat gabung dilakukan setelah bayi cukup sehat, refleks mengisap
         baik, tidak ada tanda infeksi dsb.
  3. Bayi yang lahir dengan
         sectio cesarea dengan anestesia umum, rawat gabung  dilakukan segera setelah ibu dan bayi
         sadar penuh (bayi tidak ngantuk), misalnya 4-6 jam setelah operasi
         selesai. Bayi tetap disusukan meskipun mungkin ibu masih mendapat infus.
  4. Bayi tidak asfiksia setelah
        

    lima

    menit
         pertama (nilai Apgar minimal 7).

  5. Umur kehamilan 37 minggu
         atau lebih.

6. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih.

7. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
intrapartum.

8. Bayi dan ibu sehat.

 

 

 

 

Jika tidak memenuhi kriteria di atas, maka rawat
gabung ibu dan bayi TIDAK perlu, atau bahkan tidak boleh dikerjakan, misalnya
pada :

  1. Bayi yang sangat prematur.

2. Bayi berat lahir kurang dari 2000-2500 gram.

3. Bayi dengan sepsis.

4. Bayi dengan gangguan napas.

5. Bayi dengan cacat bawaan berat, misalnya :
hidrosefalus, meningokel, anensefali, atresia ani, labio/palato/gnatoschizis,
omfalokel, dsb.);

6. Ibu dengan infeksi berat, misalnya KP
terbuka, sepsis, dsb.

Kriteria-kriteria masih ditentukan juga oleh beberapa aspek
pertimbangan klinis, misalnya bayi dengan berat badan 2000-2500 gram meskipun
keadaan lain-lainnya dalam batas normal, perawatan gabungnya harus dengan
pengawasan yang sangat ketat.
Sebaiknya keputusan apakah bayi akan dirawat gabung atau dirawat pisah
ditentukan oleh dokter anak bersama dengan dokter kebidanan.

Manfaat rawat gabung

Manfaat dan keuntungan rawat gabung ditinjau dari berbagai aspek sesuai dengan
tujuannya, adalah sebagai berikut :

  1. Aspek fisik.

Bila ibu dekat dengan bayinya, maka ibu dapat
dengan mudah menjangkau bayinya untuk melakukan perawatan sendiri dan menyusui
setiap saat, kapan saja bayinya menginginkan (nir-jadwal). Dengan perawatan
sendiri dan menyusui sedini mungkin, akan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi
silang dari pasien lain atau petugas kesehatan. Dengan menyusui dini maka ASI
jolong atau kolostrum dapat memberikan kekebalan / antibodi yang sangat
berharga bagi bayi. Karena ibu setiap saat dapat melihat bayinya, maka ibu
dengan mudah dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada bayinya
yang mungkin berhubungan dengan kesehatannya.

 

 

2. Aspek fisiologis.

Bila ibu dekat dengan bayinya, maka bayi akan
segera disusui dan frekuensinya lebih sering. Proses ini merupakan proses
fisiologis yang alami, di mana bayi mendapat nutrisi alami yang paling sesuai
dan baik. Untuk ibu, dengan menyusui maka akan timbul refleks oksitosin yang
akan membantu proses fisiologis involusi rahim. Di samping itu akan timbul
refleks prolaktin yang akan memacu proses produksi ASI. Efek menyusui dalam
usaha menjarangkan kelahiran telah banyak dipelajari di banyak negara
berkembang. Secara umum seorang ibu akan terlindung dari kesuburan sepanjang ia
masih menyusui dan belum haid, khususnya bila frekuensi menyusui lebih sering
dan sama sekali tidak menggunakan pengganti ASI (menyusui secara eksklusif).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa daya proteksi menyusui eksklusif terhadap
usaha KB tidak kalah dengan alat KB yang lain.

 

3.Aspek psikologis

Dengan rawat gabung maka antara ibu dan bayi
akan segera terjalin proses lekat (early infant-mother bonding) akibat sentuhan
badan antara ibu dan bayinya. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap
perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan
stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Dengan pemberian ASI kapan
saja bayi membutuhkan, akan memberikan kepuasan pada ibu bahwa ia dapat
berfungsi sebagaimana seorang ibu memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayinya, di
samping merasa dirinya sangat dibutuhkan oleh bayinya dan tidak dapat
digantikan oleh orang lain. Keadaan ini akan memperlancar produksi ASI karena
seperti telah diketahui, refleks let-down bersifat psikosomatis. Sebaliknya
bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung, merupakan dasar bagi
terbentuknya rasa percaya pada diri anak. Ibu akan merasa bangga karena dapat
menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila suaminya berkunjung, akan terasa
adanya suatu ikatan kesatuan keluarga.

 

4.
Aspek edukatif.

Dengan rawat gabung, ibu (terutama yang baru
mempunyai anak pertama) akan mempunyai pengalam yang berguna, sehingga mampu
menyusui serta merawat bayinya bila pulang dari rumah sakit. Selama di rumah
sakit ibu akan melihat, belajar dan mendapat bimbingan bagaimana cara menyusui
secara benar, bagaimana cara merawat payudara, merawat tali pusat, memandikan
bayi dsb. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi modal bagi ibu untuk
merawat bayi dan dirinya sendiri setelah pulang dari rumah sakit. Di samping
pendidikan bagi ibu, dapat juga dipakai sebagai sarana pendidikan bagi
keluarga, terutama suami, dengan cara mengajarkan suami dalam membantu istri
untuk proses di atas. Suami akan termotivasi untuk memberi dorongan moral bagi
istrinya agar mau menyusui bayinya. Jangan sampai terjadi seorang suami
melarang istrinya menyusui bayinya karena suami takut payudara istrinya akan
menjadi jelek. Bentuk payudara akan berubah karena usia adalah hal alami,
meskipun dengan menggunakan kutang penyangga yang baik, ditambah dengan nutrisi
yang baik, dan latihan otot-otot dada serta menerapkan posisi yang benar,
ketakutan mengendornya payudara dapat dikurangi.


5. Aspek ekonomi

Dengan rawat gabung maka pemberian ASI dapat
dilakukan sedini mungkin. Bagi rumah bersalin terutama rumah sakit pemerintah,
hal tersebut merupakan suatu penghematan anggaran pengeluaran untuk pembelian
susu formula, botol susu, dot serta peralatan lain yang dibutuhkan. Beban
perawat menjadi lebih ringan karena ibu berperan besar dalam merawat bayinya
sendiri, sehingga waktu terluang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain. Lama
perawatan ibu menjadi lebih pendek karena involusi rahim terjadi lebih cepat
dan memungkinkan tempat tidur digunakan untuk penderita lain. Demikian pula
infeksi nosokomial dapat dicegah atau dikurangi, berarti penghematan biaya bagi
rumahsakit maupun keluarga ibu. Bagi ibu juga penghematan oleh karena lama
perawatan menjadi singkat.

 

6.
Aspek medis

Dengan pelaksanaan rawat gabung maka akan menurunkan
terjadinya infeksi nosokomial pada bayi serta menurunkan angka morbiditas dan
mortalitas ibu maupun bayi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan rawat gabung
Keberhasilan rawat gabung yang mendukung peningkatan penggunaan ASI dipengaruhi
oleh banyak faktor antara lain sosial-budaya, ekonomi, tatalaksana rumahsakit,
sikap petugas, pengetahuan ibu, lingkungan keluarga, adanya kelompok pendukung
peningkatan penggunaan ASI (KP-ASI) dan peraturan tentang peningkatan ASI atau
pemasaran susu formula.
1. Peranan sosial budaya

Kemajuan teknologi, perkembangan industri, urbanisasi
dan pengaruh kebudayaan Barat menyebabkan pergeseran nilai sosial budaya
masyarakat. Memberi susu formula dianggap modern karena memberi ibu kedudukan
yang sama dengan dengan ibu-ibu golongan atas. Ketakutan akan mengendornya
payudara menyebabkan ibu enggan menyusui bayinya.

Bagi ibu yang sibuk dengan urusan di luar rumah, sebagai
wanita karir atau isteri seorang pejabat yang selalu dituntun mendampingi
kegiatan suami, hal ini dapat menghambat usaha peningkatan penggunaan ASI.
Sebagian ibu tersebut pada umumnya berasal dari golongan menengah-atas
cenderung untuk memilih susu formula daripada menyusui bayinya. Jika tidak
mungkin membagi waktu, seyogyanya hanya ibu yang sudah tidak menyusui saja yang
boleh dibebani tugas sampingan di luar rumah. Dalam hal ini peranan suami atau
instansi di mana suami bekerja sebaiknya memahami betul peranan ASI bagi
perkembangan bayi.

 Iklan menarik
melalui media

massa

serta pemasaran susu formula dapat mempengaruhi ibu untuk enggan memberikan ASI
nya. Apalagi iklan yang menyesatkan seolah-olah dengan teknologi yang
supercanggih dapat membuat susu formula sebaik dan semutu susu ibu, atau bahkan
lebih baik daripada susu ibu. Adanya kandungan suatu nutrien yang lebih tinggi
dalam susu formula dibanding dalam ASI bukan jaminan bahwa susu tersebut sebaik
susu ibu apalagi lebih baik. Komposisi nutrien yang seimbang dan adanya zat
antibodi spesifik dalam ASI menjamin ASI tetap lebih unggul dibanding susu
formula.


2. Faktor ekonomi.

Seperti disebutkan di atas, beberapa wanita memilih
bekerja di luar rumah. Bagi wanita karir, hal ini dilakukan bukan karena
tuntutan ekonomi, melainkan karena status, prestise, atau memang dirinya
dibutuhkan. Pada sebagian kasus lain, ibu bekerja di luar rumah semata karena
tekanan ekonomi, di mana penghasilan suami dirasa belum dapat mencukupi
kebutuhan keluarga. Gaji pegawai negeri yang relatif rendah dapat dipakai
sebagai alasan utama istri ikut membantu mencari nafkah dengan bekerja di luar
rumah. Memang tidak ada yang perlu disalahkan dalam masalah ini.

Dengan bekerja di luar rumah, ibu tidak dapat berhubungan
penuh dengan bayinya. Akhirnya ibu cenderung memberikan susu formula dengan
botol. Bila bayi telah mengenal dot/botol maka ia akan cenderung memilih botol.
Dengan demikian frekuensi penyusuan akan berkurang dan menyebabkan produksi
menurun. Keadaan ini selanjutnya mendorong ibu untuk menghentikan pemberian
ASI, tidak jarang terjadi sewaktu masa cutinya belum habis. Ibu perlu didukung
untuk memberi ASI penuh pada bayinya dan tetap berusaha untuk menyusui ketika
ibu telah kembali bekerja.
Motivasi untuk tetap memberikan ASI meskipun ibu harus berpisah dengan bayinya
adalah faktor utama dalam keberhasilan ibu untuk mempertahankan penyusuannya.
Pendirian tempat penitipan bayi dekat / di tempat ibu bekerja merupakan hal
yang sangat penting.


3. Peranan tatalaksana rumahsakit / rumah bersalin.

Peranan tatalaksana atau kebijakan rumah sakit
/ rumah bersalin sangat penting mengingat kini banyak ibu yang lebih
menginginkan melahirkan di pelayanan kesehatan yang lebih baik. Tatalaksana
rumah sakit yang tidak menunjang keberhasilan menyusui harus dihindari, seperti
:

- bayi dipuasakan
beberapa hari, padahal refleks isap bayi paling kuat adalah pada jam-jam
pertama sesudah lahir. Rangsangan payudara dini akan mempercepat timbulnya
refleks prolaktin dan mempercepat produksi ASI.

- memberikan makanan pre-lakteal, yang membuat
hilangnya rasa haus sehingga bayi enggan menetek.

- memisahkan bayi dari ibunya. Tidak adanya
sarana rawat gabung menyebabkan ibu tidak dapat menyusui bayinya nir-jadwal.

- menimbang bayi sebelum dan sesudah menyusui,
dan jika pertambahan berat badan tidak sesuai dengan harapan maka bayi diberi
susu formula. Hal ini dapat menimbulkan rasa kuatir pada ibu yang memperngaruhi
produksi ASI.

- penggunaan obat-obatan selama proses
persalinan, seperti obat penenang, atau preparat ergot, yang dapat menghambat
permulaan laktasi. Rasa sakit akibat episiotomi atau robekan jalan lahir dapat
mengganggu pemberian ASI.

- Pemberian sampel susu formula harus
dihilangkan karena akan membuat ibu salah sangka dan menganggap bahwa susu
formula sama baik bahkan lebih baik daripada ASI.

Dalam hal ini perlu kiranya dibentuk klinik
laktasi yang berfungsi sebagai tempat ibu berkonsultasi bila mengalami
kesulitan dalam menyusui. Tidak kalah pentingnya ialah sikap dan pengetahuan
petugas kesehatan, karena walaupun tatalaksana rumah sakit sudah baik bila
sikap dan pengetahuan petugas masih belum optimal maka hasilnya tidak akan
memuaskan.

4. Faktor-faktor dalam diri ibu sendiri

Beberapa keadaan ibu yang mempengaruhi laktasi
adalah :

- keadaan gizi ibu

Kebutuhan tambahan kalori dan nutrien
diperlukan sejak hamil. Sebagian kalori ditimbun untuk persiapan produksi ASI.
Seorang ibu hamil dan menyusui perlu mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang
cukup dan seimbang agar kuantitas dan kualitas ASI terpenuhi. Dengan demikian
diharapkan bayi dapat tumbuh kembang secara optimal selama 4 bulan pertama
hanya dengan ASI (menyusui secara eksklusif).

- pengalaman / sikap ibu
terhadap menyusui

Ibu yang berhasil menyusui anak sebelumnya,
dengan pengetahuan dan pengalaman cara pemberian ASI secara baik dan benar akan
menunjang laktasi berikutnya. Sebaliknya, kegagalan menyusui di masa lalu akan
mempengaruhi pula sikap seorang ibu terhadap penyusuan sekarang. Dalam hal ini
perlu ditumbuhkan motivasi dalam dirinya secara sukarela dan penuh rasa percaya
diri mampu menyusui bayinya. Pengalaman masa kanak-kanak, pengetahuan tentang
ASI, nasihat, penyuluhan, bacaan, pandangan dan nilai yang berlaku di
masyarakat akan membentuk sikap ibu yang positif terhadap masalah menyusui.

- keadaan emosi

Gangguan emosional, kecemasan, stress fisik dan
psikis akan mempengaruhi produksii ASI. Seorang ibu yang masih harus
menyelesaikan kuliah, ujian, dsb., tidak jarang mengalami ASI nya tidak dapat
keluar. Sebaliknya, suasana rumah dan keluarga yang tenang, bahagia, penuh
dukungan dari anggota keluarga yang lain (terutama suami), akan membantu
menunjang keberhasilan menyusui. Demikian pula lingkungan kerja akan berpengaruh
ke arah positif, atau sebaliknya.

- keadaan payudara

Besar kecil dan bentuk payudara TIDAK
mempengaruhi produksi ASI. Tidak ada jaminan bahwa payudara besar akan
menghasilkan lebih banyak ASI atau payudara kecil menghasilkan lebih sedikit.
Produksi ASI lebih banyak ditentukan oleh faktor nutrisi, frekuensi pengisapan
putting dan faktor emosi. Sehubungan dengan payudara, yang penting mendapat
perhatian adalah keadaan putting. Putting harus disiapkan agar lentur dan
menjulur, sehingga mudah ditangkap oleh mulut bayi. Dengan putting yang baik,
putting tidak mudah lecet, refleks mengisap menjadi lebih baik, dan produksi
ASI menjadi lebih baik juga.

- peran masyarakat dan pemerintah

Keberhasilan laktasi merupakan proses
belajar-mengajar. Diperlukan kelompok dalam masyarakat di luar petugas
kesehatann yang secara sukarela memberikan bimbingan untuk peningkatan
penggunaan ASI. Kelompok ini dapat diberi nama Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI),
yang dapat memanfaatkan kegiatan posyandu dengan membuat semacam pojok ASI.

  1. Kebijakan-kebijakan
         pemerintah RI sehubungan penggunaan ASI

1. Inpres no.14 / 1975

Menko Kesra selaku koordinator pelaksana
menetapkan bahwa salah satu program dalam usaha perbaikan gizi adalah
peningkatan penggunaan ASI.

  1. Permenkes no.240 / 1985

Melarang produsen susu formula untuk
mencantumkan kalimat-kalimat promosi produknya yang memberikan kesan bahwa
produk tersebut setara atau lebih baik mutunya daripada ASI.

  1. Permenkes no.76 / 1975

Mengharuskan produsen susu kental manis (SKM)
untuk mencantumkan pada label produknya bahwa SKM tidak cocok untuk bayi,
dengan warna tulisan merah dan cukup mencolok.

  1. Melarang promosi susu
         formula yang dimaksudkan sebagai ASI di semua sarana pelayanan kesehatan.
  2. Menganjurkan menyusui
         secara eksklusif sampai bayi berumur 4-6 bulan dan menganjurkan pemberian
         ASI sampai anak berusia 2 tahun.
  3. Melaksanakan rawat gabung
         di tempat persalinan milik pemerintah maupun swasta.
  4. Meningkatkan kemampuan
         petugas kesehatan dalam hal PP-ASI sehingga petugas tersebut terampil
         dalam melaksanakan penyuluhan pada masyarakat luas.
  5. Pencanangan Peningkatan
         Penggunaan ASI oleh Bapak Presiden secara nasional pada peringatan Hari
         Ibu ke-62 (22 Desember 1990).
  6. Upaya penerapan 10 langkah
         untuk berhasilnya menyusui di semua rumah sakit, rumah bersalin dan
         puskesmas dengan tempat tidur.

 

Pelaksanaan rawat
gabung
dan kegiatan
penunjangnya

Dalam rawat gabung bayi ditempatkan bersama
ibunya dalam suatu ruangan sedemikian rupa sehingga ibu dapat melihat dan
menjangkaunya kapan saja bayi atau ibu membutuhkannya. Bayi dapat diletakkan di
tempat tidur bersama ibunya, atau dalam boks di samping tempat tidur ibu.
Modifikasi lain dengan membuat sebuah boks yang ditempatkan di atas tempat
tidur di sebelah ujung kaki ibu. Yang penting ibu harus bisa melihat dan mengawasi
bayinya, apakah ia menangis karena lapar, kencing, digigit nyamuk dsb. Tangis
bayi merupakan rangsangan sendiri bagi ibu untuk membantu produksi ASI.

Perawat harus memperhatikan keadaan umum bayi
dan dapat mengenali keadaan-keadaan abnormal, kemudian melaporkannya kepada
dokter. Bayi kuning sering merupakan masalah bagi ibu meskipun sebenarnya
keadaan ini seringkali masih dalam batas fisiologis.

Dokter (terutama dokter anak dan kebidanan) mengadakan
kunjungan sekurang-kurangnya sekali dalam sehari. Dokter harus memperhatikan
keadaan ibu maupun bayi, terutama yang berhubungan dengan masalah menyusui.
Perlu diperhatikan apakah ASI sudah keluar, adakah pembengkakan payudara,
bagaimana putingnya, adakah rasa sakit yang mengganggu saat menyusui, dsb.
Demikian pula dengan bayinya, apakah sudah dapat mengisap, kuat atau tidak,
rewel atau tidak, apakah muntah, mencret dsb.

Ibu menyusui sewaktu-waktu sesuai dengan keinginan bayi.
Tidak dikenal lagi penjadwalan dalam memberikan ASI kepada bayi.

Perawat harus membantu ibu untuk merawat payudara,
menyusui, menyendawakan dan merawat bayi secara benar. Bila bayi sakit / perlu
diobservasi lebih lanjut, bayi dipindah ke ruang rawat bayi baru lahir (neonatologi). Bayi
akan memperoleh perawatan lebih intensif, meskipun bukan berarti ASI tidak
diberikan. ASI tetap diberikan dengan cara ibu berkunjung, atau ASI diperas dan
diberikan dengan sendok.

Bila ibu dan bayi sudah diperbolehkan pulang, diberikan
penyuluhan lagi tentang cara merawat bayi, payudara dan cara meneteki yang
benar sehingga ibu di rumah terampil melakukan rawat gabung serta cara
mempertahankan meneteki sekalipun ibu harus berpisah dengan bayinya. Harus
ditekankan bahwa bayi tidak boleh diberi dot / kempengan. Selanjutnya perawat
mengumpulkan data ibu dan bayi dalam sebuah lembar catatan medik yang sudah
disiapkan.


Praktek rawat gabung

A. Cara memandikan bayi

- siapkan alat-alat

- cuci tangan sebelum dan sesudah memandikan bayi.

- bayi diletakkan telentang di atas tempat tidur / meja
dengan alas perlak dan handuk.

- muka dan telinga dibersihkan dengan kain (waslap) basah
kemudian dikeringkan dengan handuk.

- seluruh tubuh bayi disabun dengan menggunakan waslap yang
telah diolesi sabun (leher, dada, perut, lipatan ketiak, kedua tangan / lengan,
kedua kaki / tungkai, bagian belakang bayi).

- bayi dibersihkan dengan menggunakan kain lap (waslap)
basah dalam ember mandi bayi.
- bayi diangkat dan dikeringkan dengan handuk.

- tali pusat ditutup dengan kain kasa yang telah direndam
dalam alkohol 70%.

- dada, perut dan punggung diolesi minyak telon, tempat
lipatan seperti pangkal paha, ketiak dan leher diberi bedak supaya tidak mudah
lecet, dan diberi pakaian.

B.
Cara menyusui

- cuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.
- ibu duduk atau berbaring santai.
- payudara dipijat / massage supaya lemas.
- tekan areola antara ibu jari dan telunjuk sehingga keluar beberapa tetes ASI.
Oleskan ASI tersebut pada putting susu dan areola sekitarnya sebelum menyusui.
- bayi diletakkan di pangkuan bila ibu duduk, dan di sebelah ibu bila ibu
tiduran.
- ibu harus memegang payudara dengan posisi ibu jari di atas dan keempat jari
lainnya di bagian bawah payudara.
- sebagian besar areola payudara harus berada di dalam mulut bayi.
- setiap payudara harus disusui sampai kosong, kurang lebih 10-15 menit.
- bayi menyusu pada dua payudara bergantian, setelah payudara pertama terasa
kosong.
- bila akan melepaskan mulut bayi dari putting susu, masukkan jari kelingking
antara mulut bayi dan payudara.
- sesudah selesai menyusui, oleskan ASI pada putting susu dan areola sekitarnya
serta biarkan kering oleh udara.
- bayi digendong di bahu ibu atau dipangku tengkurap agar dapat bersendawa.
- periksa keadaan payudara, mungkin ada perlukaan / pecah-pecah atau
terbendung.
- bayi menyusu setiap kali membutuhkan, sebagian dengan posisi berubah-ubah.
- pakailah bahan penyerap ASI di balik kutang, di luar waktu menyusui.

C.
Cara merawat tali pusat

- siapkan alat-alat.
- cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali pusat.
- tali pusat dibersihkan dengan kain kasa yang dibasahi alkohol 70%.
- setelah bersih, tali pusat dikompres alkohol / povidon iodine 10% (betadine)
lalu dibungkus dengan kain kasa steril kering.
- setelah tali pusat terlepas / puput, pusar tetap dikompres dengan alkohol /
povidon iodine 10% sampai kering.

boy antoni putra 19 juli 2008

penalitian imunisasi

July 18th, 2008 by bared18

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Program
pembangunan kesehatan di indonesia dalam rencana pembangunan jangka menengah
nasional 2005 – 2009, mempunyai visi masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat
dimana salah satu target nya adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita (Fadilah
diakses dari www.Depkes.go.id. 2005).

Berdasarkan
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003 Angka Kematian Bayi
(AKB) baru lahir (neonatal) masih berada pada kisaran 20 per 1000 kelahiran
hidup. Departemen Kesehatan menargetkan pada atahun 2010 angka kematian bayi
baru lahir menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup (www.Depkes.go.id.November 2004).

Departemen kesehatan menargetkan pengurangan
angka kematian bayi. Angka kematian bayi berkurang dari 248 menjadi 206 per
1000 kelahiran hidup yang di capai pada tahun 2009. sementar angka harapan hidup
berkisar rata – rata 70,6 per tahun (Grehenson:diakses dari Protal,UGM. 2007).

Pencegahan nya antara lain dengan kegiatan
imunisasi pada bayi harus di tingkatkan dan dipertahankan atau ditingkatkan
cakupannya. Sehingga mencapai Universal Child Imunization (UCI), sampai
di tingkat desa merupakan modal awal untuk sehat (Azwar diakses dari www.Depkes.go.id.April
2005).

Tanpa imunisasi kira – kira 3 dari 100
kelahiran anak akan meninggal karena penyaki campak. 2 dari 100 kelahiran anak
akan meninggal karena penyakit batuk rejan. 1 dari 100 kelahiran anak akan
meninggal karena penyakit tetanus. Dan dari setip 200.000 anak, 1 akan
menderita penyakit polio.imunisasi akan dilakukan dengan memberikan vaksin
tertentu akan melindungi anak terhadap penyakit – penyakit tertentu.Walau pun
pada saat ini fasilitas pelayanan untuk vaksinasi ini telah tersedia di
masyarakat, tetapi tidak semua bayi telah di bawa untuk mendapatkan imunisasi
yang lengkap. Bila mana fasilitas pelayanan Kesehatan tidak dapat memberikan
imunisasi dengan perkembangan tertentu (http://www.unicef.org/indonesia/id/media.html.Februari
2007)

Program imunisasi merupakan cara yang penting
untuk melindungi anak. tapi ini bukan jalan satu –satunya. Imunisasi harus di
berikan dengan bijaksana  (Biddulph, 398:1999)

Penyakit yang Dapat di Cegah dengan Imunisasi
(PD3I) seperti TBC, Dipteri, Pertusis, Campak, Tetanus, Polio, Hepatitis b, merupakan
salah satu penyebab kematian anak di negara – negara berkembang termasuk
indonesia. Diperkirakan 1,7 juta kematian anak,5% pada balita di Indonesia
adalah PD3I  (Profil Kesehatan, Depkes
Sumbar 2005).

  Agar target nasional dan global untuk
mencapai eradikasi, eliminasi, harus di petahankan tinggi dan merata sampai
mencapai tingkat kekebalan masyarakat yang tinggi. Kegagalan untuk menjaga
tingkat cakupan imunisasi yang tinggi dan merata dapat menimbulkan Kejadian
Luar Biasa (KLB) PD3I. Program nasional
imunisasi anak ini menargetkan peningkatan cakupan imunisasi di Indonesia
menjadi 80,5% yang di ukur melalui peningkatan imunisasi Dpt dan Campak pada
bayi dan anak.Tujuan penyelengaraan peningkatan angka cakupan imunisasi
membangun komitmen yang kuat dari berbagai pemangku kepentingan terhadap
program peningkatan cakupan imunisasi. Lebih memasyarakatkan program
peningkatan cakupan imunisasi sebagai salah satu program peningkatan kesehatan
masyarakat lebih meluas dalam rangka pencapaian visi masyarakat yang mandiri
untuk hidup sehat, dimana salah satu target nya untuk menurun kan angka kematian bayi (Profil Kesehatan, Depkes
Sumbar 2005).

Dalam kegitan imunisasi yang dipakai sebagai
indikator imunisasi lengkap adalah imunisasi campak berdasarkan laporan yang di
terima cakupan imunisasi campak rata – rata telah melebihi target yang di
tetapkan. Sehingga target Universal Child Imunization  (UCI) pada tingkat kabupaten dan kota masih
dapat dipertahankan. Secara keseluruhan Propinsi Sumatera Barat cakupan
imunisasi adalah sebesar 91,84%. Untuk jangkauan imunisasi suatu wilayah
dikatakan baik adalah apabila cakupan Dpt1 telah mencapai cakupan minimal 90 %.
Dengan demikian Propinsi Sumatera Barat secara keseluruhan telah melebihi taget
minimal namun perhatian khusus harus dilakukan.

Sasaran program imunisasi adalah :

1. Bayi baru lahir sampai
dengan umur kurang dari 1 tahun

2. Anak Sekolah SD atau
Madrasah sederajat

3. Wanita hamil

4. Wanita usia subur umur
15 – 39 tahun

5. Calon pengantin wanita

Diperkirakan jumlah bayi yang menjadi sasaran
imunisasi sebanyak 97,177 bayi. Cakupan imunisasi Dpt1 telah melebihi dari
target. Yang telah yaitu sebesar 90%. Sedangkan bayi yang telah di imunisasi Dpt
1 sebanyak 99,76% (Depkes Sumbar 2001).

Bedasarkan data dari pemantauan program imunisasi,
cakupan imunisasi telah mencapai 90%. Di wilayah kerja Puskesmas Gunung
Kelurahan Ekor Lubuk. Sedangkan perbandingan cakupan imunisasi masing – masing
kelurahan dapat dilihat dari table 1.1.

Tabel 1.1

Cakupan Imunisasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No

 

 

Imunisasi

 

 

Gantiang 36 sasaran

 

 

Sigando  26 sasaran

 

 

Ekor lubuk 38 sasaran

 

 

Gumala  90 sasaran

 

 

1

 

2

 

3

 

4

 

5

 

6

 

7

 

8

 

9

 

10

 

11

 

12

 

 

BCG

 

DPT 1

 

DPT II

 

DPT III

 

HEPATITIS B I

 

HEPATITIS B II

 

HEPATITIS B III

 

POLIO I

 

POLIO II

 

POLIO III

 

POLIO IV

 

CAMPAK

 

 

63%

 

19%

 

19%

 

11%

 

42%

 

44%

 

42%

 

72%

 

44%

 

61%

 

64%

 

61%

 

 

42,3%

 

27%

 

12%

 

23%

 

23%

 

58%

 

54%

 

35%

 

38%

 

88%

 

58%

 

42%

 

 

44,7%

 

13%

 

2,6%

 

 -

 

24%

 

32%

 

26%

 

34%

 

61%

 

42%

 

18%

 

39%

 

 

37,8%

 

7,8%

 

6,7%

 

13%

 

34%

 

40%

 

46%

 

30%

 

41%

 

62%

 

30%

 

41%

 

 

Dari data diatas dapat diketahui bahwa tahun
2008, angka cakupan imunisasi BCG tertinggi terdapat di posyandu Ganting 63%,
sedangkan angka cakupan imunsasi DPT tertinggi terdapat diposyandu
Sigando, cakupan imunisasi Hepatitis B tertinggi
terdapat di posyandu Ganting, cakupan imunisasi Polio terdapat di posyandu
Ganting, cakupan imunisasi campak  tertinggi
terdapat di posyandu ganting.

 Dari hasil
wawancara dengan 9 orang ibu balita, mereka tidak memberi anaknya imunisasi
karna dapat menimbulkan penyakit seperti demam. Mereka juga mengatakan
pemberian imunisasi tidak terlalu berpengaruh kepada kesehatan anaknya.  

 Berdasarkan
uraian diatas maka penulis merasa tertarik untuk meneliti apakah adanya
hubungan pengetahuan, pendidikan dan motivasi ibu dengan pemberian imunisasi
dasar bayi di Posyandu guguak malintang wilayah kerja Puskesmas Gunung Kelurahan
Ekor Lubuk Padang Panjang Timur 2008.

 

1.2 Rumusan Masalah

 Rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan pengetahuan,
pendidikan dan motivasi ibu dengan pemberian imunisasi dasar bayi di Posyandu
guguak malintang wilayah kerja Puskesmas Gunung Kelurahan Ekor Lubuk Padang
Panjang Timur 2008.

 

1.3  Tujuan
Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

  Untuk mengetahui Bagaimana hubungan
pengetahuan, pendidikan dan motivasi ibu dengan pemberian imunisasi dasar bayi
di Posyandu Guguak Malintang wilayah kerja Puskesmas Gunung Kelurahan Ekor
Lubuk Padang Panjang Timur 2008.

 

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Diketahui distribusi
frekuensi pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi di Posyandu Guguak Malintang
wilayah kerja puskesmas Gunung kelurahan Ekor Lubuk Padang Panjang timur 2008.

b. Diketahui distribusi frekuensi
pendidikan ibu dengan pemberian imunisasi di Posyandu Guguak Malintang wilayah
kerja puskesmas Gunung kelurahan Ekor Lubuk Padang Panjang timur 2008.

c. Diketahui distribusi
frekuensi motivasi pemberian imunisasi dasar bayi di Posyandu Guguak Malintang ilayah
kerja puskesmas Gunung kelurahan Ekor Lubuk Padang Panjang timur 2008.

d. Diketahui distribusi
frekuensi pemberian imunisasi dasar di Posyandu Guguak Malintang wilayah kerja
puskesmas Gunung kelurahan Ekor Lubuk Padang Panjang timur 2008.

e. Diketahui hubungan
pengetahuan dengan pemberian imunisasi dasar di Posyandu Guguak Malintang
wilayah kerja puskesmas Gunung kelurahan Ekor Lubuk Padang Panjang timur 2008.

f. Diketahui hubungan
pendidikan dengan pemberian imunisasi dasar di Posyandu Guguak Malintang
wilayah kerja puskesmas Gunung kelurahan Ekor Lubuk Padang Panjang timur 2008.

g. Diketahui hubungan
motivasi dengan pemberian imunisasi dasar di Posyandu Guguak Malintang wilayah
kerja puskesmas Gunung kelurahan Ekor Lubuk Padang Panjang timur 2008.

 

 

1.4  Manfaat Penelitian

1.4.1  Bagi Peneliti

Untuk mengaplikasikan ilmu yang telah di dapat
selama masa pendidikan.

1.4.2 Bagi Institusi
Pendidikan

 Dapat
memberikan kontribusi terhadap hasil penelitian yang diperoleh sehingga dapat
bermanfaat bagi orang lain dan dapat di gunakan sebagai baahan penelitian
selanjut nya.

1.4.3 Bagi Petugas Kesehatan

Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan di
Posyandu guguak malintang wilayah kerja puskesmas gunung kelurahan ekor lubuk
Padang Panjang timur 2008.

1.4.4 Bagi Peneliti
Selanjutnya

 Sebagai
bahan acuan untuk meneliti tentang hubungan motivasi ibu dengan pemberian
imunisasi dasar bayi di Posyandu di masa yang akan datang.

 

1.5 Ruang Lingkup

 Ruang
Lingkup penelitian ini adalah untuk meneliti tentang hubungan. pengetahuan,
pendidikan dan motivasi ibu dengan pemberian imunisasi dasar bayi di Posyandu
guguak malintang wilayah kerja Puskesmas Gunung Kelurahan Ekor Lubuk Padang
Panjang Timur 2008. penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuisioner pada
ibu balita.

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

 

2.1 Pengetahuan 

2.1.1 Pengertian

 

Menurut Karnadi (2003:12 ) Pengetahuan
adalah semakin ibu mengetahui tentang manafaat imunisasi dasar bayi maka ibu
semakin termotivasi untuk membawa bayi ke posyandu. Tingkat pendidikan adalah
jenjang pendidikan formal yang sudah di tamatkan oleh ibu dapat dikelompokkan
menjadi dua yaitu :

 a.Rendah apabila tingkat pendidikan ibu tidak
tamat sekolah dasar, tidak tamat
sekolah lanjutan tingkat pertama, dan sederajat, serta jika ibu tidak sekolah.

b.Tinggi,
apabiala tingkat pendidiakan ibu tamat sekolah lanjutan tingkat atas dan
sederajat serta tamatan perguruan tinggi.

 

pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini
terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran penciuman, rasa dan
raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh mata dan telinga (
Notoatmodjo, 2003:121).

2.1.2 Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat
suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari dengan ransangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu
ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

b. Memahami (Comprehension)

Memehami
diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek
yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
Orang yang telah paham terhadap objek atau meteri dapat menjelaskan,
menyebutkan, contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek
yang dipelajari.

c. Aplikasi (aplication)

Aplikasi
diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi dan kondisi sebenarnya.

d. Analisis (analysis)

Analisis
adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam
komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi, dan masih
ada kaitannya satu sama lain.

e. Sintesis (Syntesis)

Sintesis
menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan
bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan denagan
kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
objek. Penilaian- penilaian itu didasrkan pada suatu criteria yang ditentukan
sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo,
2003:124).

Pengukuran
pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan
ntantang isi materi yang ingn diukur dari subjek penelitian atau responden.
Kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dpat kita sesuaikan
dengan tingkatan-tingkatan ( Notoatmodjo, 2003:124).

 

2.2 Pendidikan

2.2.1 Pengertian

 Pendidikan adalah usaha sadar yang
dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (Sahertian,
2000:1).

 Pendidikan secara umum adalah segala
upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok
atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan noleh pelaku
pendidikan ( Notoatmodjo, 2003:16).

2.2.2 Unsur-Unsur Pendidikan

a. Input adalah sasaran
pendidikan (individu, kelompok, masyarakat), dan pendidik(pelaku pendidikan).

b. Proses adalah upaya
yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain.

c. Output
adalah melakukan apa yang diharapkan atau prilaku  (Notoatmodjo, 2003: 16). 

2.2.3 Proses Pendidikan Melibatkan Beberapa Hal

 a. Subjekyang
dibimbing ( peserta didik ).

 b. Orang
yang membimbing ( pendidik ).

 c. Interaksi
antara peserta didik dengan pendidik ( interaksi edukatif ).

 d. Kearah
mana bimbingan ditujukan ( tujuan pendidikan ).

 e. Pengaruh
yang diberikan dalam didikan ( materi bimbingan ).

 f. Tempat dimana peristiwa dibimbing
berlangsung ( lingkungan pendidikan ).

2.2.4 Tujuan Pendidikan

 Tujuan
pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar,
dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah
kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai
oleh segenap kegiatan pendidikan (Hartato, 2008 : 2 ).

 

2.3. Motivasi

2.3.1  Pengertian

Motivasi mempunyai arti dorongan bersal dari bahasa
latin “ movere ” yang berarti
mendorong atau menggerakkan seseorang untuk berprilaku beraktifitas dalam
pencapaian tujuan (Widayatun, 1999 : 112).

Motivasi adalah suatu set atau kumpulan prilaku yang
memberikan landasan bagi seseorang untuk bertindak dalam satu cara diarahkan
kepada tujuan spesifik tertentu (Soeroso, 2003 : 69).

Motivasi adalah semua pengerak alasan – alasan tertentu
atau dorongan – dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang berbuat
sesuatu (Purwanto,1998 : 56).

2.3.2 Faktor – faktor yang
mempengaruhi motivasi

Faktor dari dalam diri manusia instrinsik dapat berupa
pengetahuan dan tingkat pendidikan atau berbagai harapan cita – cita yang
menjangkau ke masa depan kepribadian dan sikap. Pengetahuan adalah merupakan
hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia
yakni indra pengliahatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003 : 121).

Menurut Depkes RI, Seperti
pendapat mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki
seseorang maka semakin besar motivasi seseorang dalam menyerap dan menerima
informasi dalam bidang kesehatan. Serta kemampan dan keinginan untuk berperan
serta dalam pembangunan di bidang kesehatan masyarakat yang memiliki
pengetahuan yang luas dengan mudah menyerap dan menerima informasi serta aktif
berperan dalam mengatasi masaalah kesehatan dan keluarga.

 

Jadi hubungan tingkat pendidikan ibu dengan motivasi adalah
semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka semakian besar keinginan ibu untuk
berperan serta dalam bidang kesehatan bayi dengan cara membawa bayinya ke
posyandu untuk diberikan imunisasi dasar pada bayi.

Faktor diluar dari seseorang ekstrinsik dapat ditimbulkan
oleh berbagai sumber seperti lingkungan yang dipengaruhi adalah jarak rumah ibu
ke posyandu semakian dekat jarak rumah ke posyandu semakin besar motivasi ibu
memabawa bayi nya imunisasi dasar ke posyandu, dan degan adanya peran kader
seprti pemberian infomasi kesehatan yaitu mengenai imunisasi kepada ibu – ibu
tentang manfaat dan tujuan dari imunisasi akan bisa membangkitkan motivasi ibu
untuk membawa bayi nya imunisasi dasar ke posyandu.Lingkungan yang baik dan
menunjang akan menimbulkan motivasi kepada seseorang,sementara budaya yang
dimiliki seseorang akan mempengaruhi besar kecil nya motivasi yang akan timbul
misal nya pada daerah yang mempunyai kebudayaan yang lebih maju akan cepat
menerima pengetahuan sehingga dapat menimbulkan motivasi suatu kegiatan.

 

 

2.3.3 Unsur – unsur motivasi
terdiri dari

a Motivasi
merupakan suatu tenaga dinamis manusia dan muncul  memerlukan rancangan baik
dalam maupun dari luar.

 b Motivasi sering ditandai dengan perilaku yang penuh emosi.

 c. Motivasi merupakan reaksi pilihan dari beberapa alternatif
pencapaian tujuan.

d Motivasi berhubungan
erat dengan kebutuhan dalam diri manusia (Purwanto, 1999:72).

 Terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi timbul nya motivasi antara lain kebutuhan. Teori yang apaling
terkenal adalah teori Hierarki. Seorang psikolog Abraham Maslow menyatakan
bahwa tedapat lima kelompok kebutuhan utama manusia yaitu:

1. Kebutuhan dasar
fisiologis

Kebutuhan ini
adalah kebutuhan yang paaling mendasar bagi setiap manusia contoh nya : seperti
makan, minum, dan hal – hal penting bagi kehidupan.

2. Kebutuhan rasa aman

Seperti kebutuhan perlindungan dari
bahaya dan perlindungan dari kehilangan kebutuhan fisiologis.

3. Kebutuhan
bersosialisasi

Seperti kebutuhan
akan cinta, kasih sayang, dan diterima oleh kelompok sosialisasi nya.

 

 

4. Kebutuhan ego atau
pengahargaan

Seperti kebutuhan
untuk dihomati, dihargai, memiliki prestasi, reputasi dan status.

5. Kebutuhan
beraktualisasi diri

Seperti kebutuhan untuk
mengembangkan potensi dan menujukkan bahawa diri nya mampu berbuat sesuatu,
sehingga dipercayai oleh orang lain.

 Menurut Maslow pada hakikatnya
manusia selalu mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhanya. Setelah kebutuhan
dasar dipenuhi kebutuhan yang ada di atas nya merupakan kebutuhan dominan
aayang ingin dipenuhi daan dengan mengenali kebutuahan seseorang pada saat
tertentu. Melalui pengenalan model – model motivasi seseorang dapat di motivasi
untuk berproduksi dan berpretasi ( Soeroso, 2003 : 70).

2.3.4  Cara
Meningkatkan Motivasi

Dengan teknik verbal :

a. Berbicara untuk
membangkitkan semangat

b. Pendekatan pribadi

c. Diskusi dan sebagainya

d. Teknik tigkah laku ( meniru, mencoba,
menerapkan )

e. Teknik intensif dengan cara mengambil kaidah
yang ada

f. Supertisi ( kepercayaan
akan ssuatu secara logis, maupun membawa keberuntungan )

g. Citra atau image yaitu dengan imajinasi atau daya
khayal yang tinggi maka
individu termotivasi. 

2.4   Imunisasi

2.4.1  Pengertian

Imunisasi merupakan aplikasi prinsip-prinsip
imunologi yang paling terkenal dan paling berhasil terhadap kesehatan manusia
(Wahab : 2002, 38).

2.4.2 Manfaat Imunisasi

a. Untuk
anak : mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit yang  .terjangkit seperti : Hepatitis B, Difteri,
Batuk rejan, Tetanus, Polio, Campak.

b. Untuk keluarga :
menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong
pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa
kanak-kanak yang nyaman.

c. Untuk negara :
memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal
untukmelanjutkan pembangunan negara. (http://www.unicef.org/indonesia/id/media.html.Februari
2007
)

2.4.3 Tujuan
Imunisasi

untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar
dapat mencegah penyakit bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang
sering terjangkit (http://www.unicef.org/indonesia/id/media
.html.Februari
2007)

2.4.4 Ada dua macam
kekebalan ( cara untuk mendapatkan kekebalan )

a. Kekebalan pasif

 Anak diberiakan antibodi yang yang sudah
dibuat misalnya :

1. Pasien tetanus diberikan antitoksin tetanus
( imunoglobin tetanus )

 2. Pasien
difteri diberikan antitoksin difteri

 3. Pasien karena gigitan ular
diberikan antitoksi bisa ular

4. Anak yang kurang gizi yang mungkin terpapar
dengan pendetita campak  atau hepatitis
dapat dilindungi dengan pemberianGamaglobulin perlindungan  ini berlangsung untuk jangka waktu 3-6 bulan.

b. Kekebalan aktif

Anak membuat antibodi sendiri untuk dapat
menghasilkan antibodi tertentu. Seseorang harus terinfeksi oleh penyakit
tertentu baik melalui terjangkit penyakit tersebut atau melalui pemberian
vaksin yang mengandung bakteri atau virus atau racun yang sudah dilemahkan.
Kekebalan aktif dapat bertahan lama.

Imunisasi aktif dapat diberikan terhadap
penyakit:

1. Batuk rejan dengan pemberian vaksin pertusis

2. Tetanus dengan pemberian vaksin tetanus
toksin

3. Difteri dengan pemberian vaksin difteri

4. Tuberkolosis dengan pemberian vaksin
Bacillus Calmete Guerine

( BCG)

5. Poliomelielitis dengan pemberian vaksin
polio

6. Campak dengan pemberian vaksin campak (Biddulp : 1999, 397).

2.4.5 Penyakit yang
dapat di cegah dengan imunisasi

 a. Difteri

 Adalah
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebakterium diphteriae. Penyebarannya
adalah melalui pernafasan. Gejala awal penyaki adalah radang tenggorokan,
hilang nafsu makan dan demam rigan. Dalam 2-3 hari timbul selaput putih
kebiru-biruan pada tenggorokan dan tonsil. Difteri dapat menimbulkan komplikasi
berupa gangguan pernafasan yang berakibat kematian.

 b. Pertusis

 Disebut
juga batuk rejan atau batuk seratus hari adalah penyakit pada saluran
pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Penyebaran
pertusis adalah melalui tetesan-teyesan kecil yang keluar dari batuk atau
bersin. Gejala penyakit adalah pilek, mata merah, bersin, demam dan batuk ringan
yang lama-kelamaan batuk menjadi parah dan menimbulkan batuk menggigil yang
cepat dan keras. Komplikasi pertusis adalah pneumonia bacterialis yang dapat
menyebabkan kematian.

c. Tetanus

 Adalah
penyakit yang disebabkan oleh Clostridium tetani yang menghasilkan neurotoksin.
Penyakit ini tidak menyebar keorang-orang, tetapi melalui kotoran yang masuk
mlalui luka yang dalam. Gejala awal adalah kaku pada otot rahang, disertai kaku
pada leher, kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat dan demam. Gejala berkutnya
adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi kaku. Komplikasinya adalah patah
tulang akibat kejang, pneumonia dan infeksi lain yang dapat menyebabkan
kematian.

d. Tuberkulosis

Adalah
penyakit yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosa

 ( batuk
darah).penyakit ini menyebar melalui pernafasaan lewat batuk atau bersin.
Gejala awal penyakit ni adalah lemah badan, demam, penuruna berat badan, keluar
keringat pada malam hari. Gejala lain tergantung pada organ yang diserang.
Tuberkulosis dapat menyebabkan kematian.

 e. Campak

 Adalah
penyakit yang disebabkan oleh virus Maesles. Disebarkan melalui droplet bersin
atau batuk penberita. Gejala awal penyakit ini adalah demam, bercak kemerahan,
batuk, pilek, conjungtivitis ( mata merah),elanjutnya timbul ruam pada muka dan
leher, kemudian menjalar ke tangan dan badan serta kaki. Komplikasi campak
adalah diare hebat, peradangan pada telinga dan infeksi saluran nafas.

f.
Poliomielitis

 Adalah
penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari tiga virus
yang berhubungan yaitu virus 1, 2 atau 3. secara klinis penyakit polio adalah
anak dibawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut. Penyebarannya
adalah melalui kotoran manusia yang terkontaminasi. Kelumpuhan dimulai dengan
gejala awal demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit.

 g.
Hepatitis B

 Adalah
penyakit yang di sebabkan oleh virus Hepatitis B yang merusak hati.
Penyebarannya adalah melalui suntikan yang tidak aman dari ibu ke bayi selama
proses persalinan, melalui hubungan seksual, infeksi pada anak biasanya tidak
menimbulkan gejala. Gejala yang ada adalah merasa lemah, gangguan perut dan
gejala lain seperti flu. Urine menjadi kuning, kotoran menjadi pucat, warna
kuning pada mata ataupun kulit. Penyakit ini biasanya menjadi kronis dan
menimbulkan serosis hepatis.

 

 

2.4.6  Imunisasi yang
Diberikan Pada Anak

  a. Iminisasi BCG ( Bacillus Calmette Guerine
)

Indikasi :
Untuk pemberian kekebalan aktif  terhadap tuberkulosa

Kemasan : Kemasan
dalam ampul, setiap  ampul vaksin dengan
empat ml pelarut

Cara
pemberian imunisasi dan dosis : bayi
kurang dari satu tahun 0,05  ml intrakutan didaerah lengan
atas

Kontraindikasi :  panas

Efek
samping :
imunisasi BCG tidak menyebabka
nreaksi yang bersifat umum yaitu demam 1-2 minggu kemudian akan timbul indurasi
kemerahan ditempat suntikan yang berubah menjadi postula, kemudian pecah
menjadi luka. Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan dan
meninggalkan tanda parut, kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjer regional
diketiak atau leher.

 b. Imunisasi
DPT

Indikasi :untuk
pemberian kekebalan secara stimulan terhadap difteri pertusis dan tetanus

Kemasan   :
kemasaan dalam bentuk vial, 1 box vaksin terdiri dari 10 vial, satu vial berisi
10 dosis, vaksin berbentuk cairan

Cara
pemberian imunisasi dan dosis : di
suntikan secara intramuskuler dengan osis pemberian 0,5 ml

Kontraindikasi :gejala-gejala
keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala serius keabnormalan
pada syaraf merupakan kontra indikasi pertusis. Anak yang mengalami
gejala-gejala parah pada dosis pertama, komponen pertusis pada dosis kedua,
untuk dapat melanjutkan imunisasinya kedua dapat diberikan DT.

Efek samping :gejala-
gejala yang bersifat sementara seperti: lemas, demam, kemerahan pada tempat
suntikan. Adang-kadang gejala berat seperti demam tinggi, iritabilitas dan
meracau ang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi.

 c. Imunisasi
polio ( oral polio vaccine)

Indikasi
  :untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomyelitis

Kemasan  :Vaksin
polio adalah vaksin yang berbentuk cairan, setiap vaksin polio disertai satu
buah penetes terbuat dari plastik.

Cara pemberian
imunisasi dan dosis :diberikan secara
oral satu dosis adalah dua tetesan sebanyak empat kali pemberian, setiap
interval setiap dosis minimal empat minggu.

Kontraindikasi  :pada individu yang menderita “immune
deficienci”. Tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian
pada anak yang sedang sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita
diare, maka dosis ulangan dapat di berikan.

Efek
samping  :pada umumnya tidak terdapat efek samping.
Efek samping berupa paralisis yang disebabkan oleh vaksin yang sangat jarang
terjadi.

d.  Imunisasi
campak

Indikasi  :untuk peberian kekebalan aktif terhadap
penyakit campak

Kemasan  :
vaksin ini berbentuk beku kering

Cara pemberian imunisasi dan dosis :sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus
dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi lima cairan
pelarut. Dosis pemberian 0,5 ml disuntikan secara subkutan pada lenan kiri atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangan 6-7 tahun.

Kontraindikasi  :individu yang mendapat penyakit immune
deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena
leukimia.

Efek samping  :hingga 15% pasien dapat mengalami demam
ringan dan kemerahan selama tiga hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah
vaksinasi.

 e.Imunisasi
hepetitis B

Indikasi  :untuk peberian kekebalan aktif terhadap
infeksi yang di sebabkan oleh virus hepatitis B.

Kemasan   :vaksin hepatitis B yang berbentuk cairan
,vaksin hepatitis B terdiri dari dua kemasan, satu box vaksin terdiri dari 10
vial yang terdiri dari 5 dosis.

Cara pemberian imunisasi dan dosis :sebelum di gunakan harus dikocok terlebih dahulu agar
suspensi menjadi homogen.Vaksin disuntikan dengan dosis 0,5 ml atau satu buah,
pemberian suntikan secara intra muskuler sebaiknya pada anterolateral
paha.Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan
minimal interval empaat minggu.

Kontra indikasi  : hipersensitif terhadap komponen vaksin, vaksin
ini tidak bolen diberikan pada penderita infeksi berat yang disertai kejang.

Efek samping : reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan
pembengkakan di sekitar penyuntikan.

 f.Imunisasi
DPT-HB

Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap
penyakit difteri, tetanus, pertusis dan hepatitis B.

Kemasan  : vaksin berwarna putih keruh seperti vaksin
DPT.

Cara pemberian imunisasi dan dosis : Pemberian dengan cara
intra muskuler 0,5 sebanyak tiga dosis. Dosis pertama pada usia dua bulan,
dosis selanjutnya dengan interval empat minggu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2.1

Jadwal pemberian
imunisasi dasar secara umum di Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Vaksin

 

 

Pemberian Imunisasi

 

 

Selang Waktu Pemberian

 

 

Umur

 

 

Keterangan

 

 

BCG

 

 

1 Kali

 

 

 

 

 

0 – 11 Bulan

 

 

 

 

 

DPT

 

 

3 Kali

 

(DPT 1, 2, 3)

 

 

4 Minggu

 

 

2 – 11 Bulan

 

 

 

 

 

Polio

 

 

4 Kali

 

(Polio 1,2,3,4)

 

 

4 Minggu

 

 

0 – 11 Bulan

 

 

 

 

 

Campak

 

 

1 Kali

 

 

 

 

 

9 – 11 Bulan

 

 

 

 

 

Hepatitis B

 

 

3 Kali

 

( Hep.B 1,2,3)

 

 

4 Minggu

 

 

0 – 11 Bulan

 

 

Untuk bayi yang lahir dirumah sakit, Puskesmas, Rumah
  Bidan Hepatitis B diberikan dalam 24 jam pertama Kelahiran. BCG, Polio
  diberiman sebelum bayi pulang kerumah

 

 

Tabel 2.2

Jadwal Pemberian
Imunisasi Dasar Pada Bayi yang Datang Ke Pusyandu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Umur

 

 

Jenis Imunisasi

 

 

1 Bulan

 

 

BCG, Polio 1, DPT 1

 

 

2 Bulan

 

 

HB 1, Polio 2, DPT 2

 

 

3 Bulan

 

 

HB 2, Polio 3, DPT 3

 

 

9 Bulan

 

 

HB3, Polio 4 + Campak

 

 

 

 

2.5  Pos
Pelayanan Terpadu (Posyandu)

2.5.1 Pengertian

Pos Pelayanan Terpadu ( posyandu ) adalah suatu
forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan
untuk masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis dalam
mengembangkan sumber daya manusia sejak dini, ( Efendi: 1998, 267).

  Posyandu adalah pusat kegiatan
masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.

Posyandu adalah pusat pelayanan keluarga
berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh
masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka
pencapaian Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera ( NKKBS).

Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan
bahwa posyandu adalah pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang berupa suatu
forum komunikasi, alih teknologi yang mempunyai nilai strategi, diselenggarakan
dan dikelola dari dan untuk masyarakat bmendapat pelayanan professional dan
non professional dalam rangka mencapai
NKKBS.

2.5.2 Tujuan

Pos pelayanan terpadu mempunyai tujuan.

a. mempercepet penurunan
angka kematian ibu dan anak.

b. meningkatkan angka
pelayanan kesehatan ibu.

c. mempercepat
penerimaan norma keluarga kecil bahagia
sejahtera.

d. meningkatakan kemapuan
masyarakat untuk mengembangkan kegiatan masyarakat dalam usaha peningkatan kemampuan hidup sehat.

e. peningkatan dan
pemerataan pelayanaan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan
cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografi.

f. meningkatkan dan
pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi dan swakelolausaha
kesehatan masyarakat. ( Efendi : 1998, 268 ).

2.5.3 Sasaran Pelayanan

 Yang
menjadi sasaran pelayanan kesehatan di posyandu adalah :

a. Bayi yang kurang dari
1tahun.

b. Anak balita usia 1
sampai 5 tahun.

c. Ibu hamil, ibu
menyusui, dan ibu nifas.

d. Wanita usia subur.

2.5.4.  kegiatan atau pelayanaan kesehatan yang
diberikan

  a.  lima
kegiatan posyandu ( Panca Krida Posyandu )

1. Kesehatan ibu dan anak

2. Keluarga berencana.

3. Imunisasi.

4. Penanggulangan diare.

 b.  Tujuh kesehatan posyandu ( Sapta Krida
Posyandu )

1. Kesehatan ibu dan
anak.

2. Keluarga berencana

3. Imunisasi.

4. Peningkatan gizi.

5. Penanggulangan diare.

6. Sanitasi dasar.

7. Penyediaan obat
esensial. ( Efendi : 1998, 268 ).

2.5.5 Pembentukan Posyandu

Posyandu dibentuk dari pos–pos yang telah ada
seperti

a. Pos
penimbangan balita.

b. Pos
imunisasi

 c. Pos keluarga berencana desa

d. Pos
kesehatan

e. Pos lain yang dibentuk baru

2.5.6 Lokasi atau letak
posyandu

a. Berada pada tempat
yang mudah dijangkau oleh masyarakat.

b. Ditentukan oleh
masyarakat itu sendiri.

c. Dapat merupakan lokal
tersendiri.

d. Bila tidak
memungkinkan dapat dilaksanakan di rumah penduduk, balai rakyat, pos RT / RW
atau pos launnya.

2.5.7 Pelayanan
kesehatan yang dijalankan

Pemeliharaan Kesehatan bayi dan balita   a. Penimbangan
bulanan.

 b. Pemberian tambahan makanan bagi berat
badan yang kurang.

 c. Imunisasi bayi 3-14 bulan.

 d. Pemberian oralit untuk menanggulangi
diare.

e. Pengobatan penyakit sebagai pertolongan
pertama (Efendi, 1998:270)

 

2.6  Kerangka
Konsep

Berdasarkan uraian dalam
tinjauan teoritis diatas, ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi yaitu
intrinsic dan ekstrinsik dalam membawa bayi imunisasi ke posyandu

 Variabel
Independen  Variabel Dependen

 

 
   
   

   

 

   
   

Pengetahuan

   

   

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 
   
   

   

 

   
   

Pemberian Imunisasi dasar

   

- lengkap

   

- Tidak Lengkap

   

   

 

 

 

 

 

 


2.7  Hipotesa

 

2.7.1 Ada
hubungan antara
Pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi dasar  bayi
Di posyandu Guguak Malintang wilayah kerja puskesmas Gunung Kelurahan Ekor
Lubuk Padang Panjang Timur .

2.7.2 Ada hubungan antara
pendidikan ibu dengan pemberian imunisasi dasar bayi di posyandu Guguak Malintang wilayah kerja puskesmas Gunung
Kelurahan Ekor Lubuk Padang Panjang Timur.

2.7.3 Ada hubungan antara
motivasi pengetahuan ibu dengan
pemberian imunisasi dasar bayi di
posyandu Guguak Malintang wilayah kerja puskesmas Gunung Kelurahan Ekor Lubuk
Padang Panjang Timur.

 

2.8 Defenisi
Operasional

Defenisi Operasional

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

no

 

 

variabel

 

 

Defenisi
  operasional

 

 

Cara
  ukur

 

 

Alat
  ukur

 

 

Hasil
  ukur

 

 

Skala
  ukur

 

 

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

 

 

pengetahuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

motivasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

imunisasi
  dasar bayi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pengetahuan
  : ibu mengetahui manfaat imunisasi

 

 

 

jenjang
  pendidikan formal yang sudah ditamatkan ibu.

 

 

 

mendorong
  atau menggerakkan seseorang berprilaku, beraktifitas dalam mencapai tujuan.

 

 

 

Kekebalan
  yang diberikan pada tubuh bayi.

 

Imunisasi
  awal yang diberikan kepada bayi untuk kekebalan tubuh bayi, meliputi usia 1
  bulan( BCG, Polio I,Polio II, DPT II,) usia 2 bulan ( Hb I, Polio II, DPT
  II),Usia 3 bulan ( Hb II, Polio III, DPT III), Usia 4 bulan ( Hb III, Polio
  IV)Usia 6 – 9 bulan ( CAMPAK)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wawancara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wawancara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wawancara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Melihat
  KMS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kuisioner

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kuisioner

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kuisioner

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar
  cheklis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggi
  jika > mean rendah

 

Jika <
  mean

 

 

 

Tinggi
  > SMA

 

>
  rendah

 

< SMA

 

 

 

 

 

 

 

Tinggi
  jika > mean rendah

 

Jika <
  mean

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Imunisasi:-
  lengkap apabila :semua imunisasi sudah diberikan sesuai dengan umur bayi

 

-
  tidak lengkap apabila imunisasi belum diberikan sesuai dengan umur bayi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ordinal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ordinal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ordinal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ordinal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1  Disain Penelitian

Disain penelitian yang digunakan adalah
bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan crossectional untuk
melihat faktor penyebab (variabel independent) dan faktor akibat (variabel
independent) diukur pada saat bersamaan.

 

3.2  Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di posyandu guguak
malintang wilayah kerja Puskesmas Gunung Kelurahan Ekor Lubuk Padang Panjang
Timur. Yang dilaksanakan pada bulan juli tahun 2008.

 

3.3  Populasi dan Sampel

3.3.1  Populasi

Populasi penelitian adalah seluruh objek atau
orang yang akan diteliti,

 ( Notoatmodjo, 2002:79).
Populasi pada penelitian ini semua ibu yang mempunyai bayi di guguak malintang
wilayah kerja Puskesmas Gunung Kelurahan Ekor Lubuk Padang Panjang Timur 2008,
sebanyak 90 orang . 

3.3.2 Sampel

Menggunakan total sampling yaitu sebanyak 90 orang.

 

 

3.4  Cara
Pengumpulan Data

3.4.1  Data Primer

 Pengumpulan
data dalam penelitian ini, diperoleh penelitian sesuai dengan jenis data, yang
mana data primer diperoleh dengan cara pengisian kuisioner oleh ibu – ibu yang
menjadi sample dengan di dampingi oleh peneliti untuk menjelaskan hal – hal
yang kurang dimengerti.

 3.4.2 Data Sekunder

Diperoleh dengan cara melihat kelengkapan imunisasi
dari KMS bayi tersebut dengan menggunakan daftar checklist.

 

3.5 Pengolahan dan
Analisa Data

3.5.1 Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan setelah pengumpulan
data selesai, dilakukan dengan maksud agar data yang dikumpulkan memiliki sifat
yang jelas. Adapun langkah dalam pengolahan data yaitu:

a. Editing yaitu memeriksa apakah semua pertanyaan yang diajukan
penulis kepada responden sudah terawab.

b. Coding yaitu memberikan kode pada kuisioner.

c. Tabulating yaitu menstabulasikan data berdasarkan kelompok data yang
telah ditentukan.

d. Entri data yang telah ada dan telah diberi kode kemudian diubah
dengan computer.

e. Processing semua kuisioner terisi penuh dan benar, serta telah
melewati pengkodean, maka langkah selanjutnya adalah memproses data yang sudah dientri dapat
dianalisis. Pemrosesan data dilakukan dengan cara mengentry data dan
kuisionerke paket program computer.

 

 

 

3.5.2 Analisa Data

 1. Analias univariat

 Analisa univarian ini bertujuan untuk
mendapatkan gambaran masing- masing
distribusi frekuensi setiap variable.

2. Analisa bivariat

 Analisa
bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diteliti yang diduga berpengaruh
dengan menggunakan uji chi square.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KUISIONER

Hubungan Pengetahuan, Pendidikan
dan Motivasi Ibu dengan Pemberian Imunisasi Dasar Bayi di Posyandu Guguak
Malintang Wilayah

Kerja Puskesmas Gunung Kelurahan
Ekor Lubuk

Padang Panjang Timur

Tahun 2008.

 

Petunjuk pengisian pilih dengan
melingkari huruf A, B atau C dari jawaan
yang di anggap benar

DATA UMUM  

HARI / TANGGAL :

NAMA :

UMUR, TANGGAL LAHIR :

JENIS KELAMIN :

PEKERJAAN :

PENDIDIKAN :

Tingkat Pengetahuan :

1. Apakah pengertian imunisasi
menurut ibu ?

A. Kekebalan tubuh terhadap suatu
penyakit tertentu 

B. Daya tahan tubuh terhadap penyakit tertentu 

C. Kekuatan
terhadap suatu penyakit 

2. Apakah manfaat
imunisasi pada ibu ?

A.Untuk
mencegah diri bayi agar tidak terserang penyakit yang disebabkan  oleh kuman-kuman   

 B. Untuk memberantas suatu penyakit pada
diri bayi 

 C. Agar bayi sehat dan gemuk 

3. Pemberian imunisasi BCG yang benar adalah ? 

 A. 0-2 bulan 

 B. 2-4 bulan  

 C. 4-6 bulan  

4. Berapa kalikah pemberian imunisasi DPT ?

 A. 4 kali 

 B. 3 - 4 kali 

 C.2 – 3 kali   

5. pemberian imunisasi campak yang benar dibawah
ini ?

 A. 9-11 bulan 

 B. 7 – 9 bulan 

 C. 5 - 7 bulan 

6. Pemberian
imunisasi Hepatitis b dan polio yang benar adalah ?

 A. 0 - 11 bulan 

 B. 9 -11 bulan 

 C. 7 – 9 bulan 

7. Apakah kegunaan
imunisasi DPT bagi bayi ?

 A. Kekebalan terhadap Difteri Pertusis,
Tetanus 

 B. Kekebalan terhadap Tetanus 

 C. Kekebalan terhadap Tuberculosis 

8. Dimanakah lokasi penyuntikan Hepatitis b ?

 A. Dibahagian paha 

 B. Dibahagian betis  

 C. Dibahagian lengan 

9. Apa tujuan ibu
membawa bayi imunisasi B ?

 A. Agar anak sehat dan kebal terhadap suatu
penyakit 

 B. Agar anak kuat 

 C. Agar anak gemuk 

Tingkat Pendidikan

10. Apa pendidikan
ibu ? 

 A.SD 

 B. SLTP 

 C.SMA

 D.DIPLOMA

 E.S 1 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR
PUSTAKA

 

rokok

July 18th, 2008 by bared18

ANTECEDEN

Existence of industry smoke in Indonesia (it) is true dilematis. In one side he is expected becoming one of the source of defrayal to government because cigarette duty confessed having important role in acceptance of state. But on the other side him campaigned to be avoided by because reason of health. Role of industry smoke in economics of Indonesia in this time seen is ever greater, besides as activator motor economic also permeate many labour
In 10 industrial the last year [of] cigarette in Indonesia experience of growth fenomenal. Economic recession started with monetary crisis since July 1997 do not too having an effect on in industrial activity. In The Year 1994 acceptance of state of just cigarette duty reach Rp 2,9 triliun, Year 1996 mounting again become Rp 4,153 triliun even in the year 1997 representing early from economic crisis acceptance of state duty of cigarette industry become       Rp 4,792 year and triliun 1998 leaping again become Rp 7,391 triliun                    ( Indocommercial, 1999: 1).
In cigarette industry, predominate from [all] protagonist of this business have enough recognized. At three the last year ( year 1999, 2000, 2001) in the reality 3 company of cigarette, that is PT.GUDANG Salt of Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk and of PT. Djarum, always enter in overall " Ten Is Big of Best Company" among 200 Top Companies in Asia
its its his compiled by magazine of Far Eastern Economic Review ( FEER)             ( Tables 1).
In the middle of economic crisis which assessed [by] not yet seen jetty finally, really ease that at least there is 10 company which enter category  have prima performance to among 200 best company in Asian area. Drawing of it, among 10 big, three in. Among / between him represent giant of kretek Indonesia

CIGARETTTE… DON`T HAVE TRIED
info post  : By fetro
Category : Uncategorized
When one cigarette burnt to be formed by 4.000 chemical compound, 200 poisonous among others and 43 again pemicu of cancer.

 

Especial poison at cigarette is tar, nicotine, and carbon monoxide      " Tar is hydrocarbon substansi having the character of sticky and patch at lung " Nicotine is Iihat vitamin of adiktif influencing nerve and circulation of blood. This Iihat vitamin have the character of carcinogen, and can trigger lung cancer killing " Carbon monoxide is haemoglobin obligatory Iihat vitamin in blood, making blood unable to fasten oxygen.
Its Poison effect to all smoker compared to which [do] not smoke that is " 14x suffering lung cancer, mouth, and red lane " 4x suffering cancer of esophagus " 2x cancer contain kemih " 2x heart attack. Cigarette also improve fatal risk to patient of pneumonia and fail heart, and also high blood pressure How if [all] smoker use cigarette with rate of tar low nicotine and? according to the mentioned me not many assisting and be confidence…. [there] no peaceful boundary in consuming cigarette.
Besides poisons, dangerous miscellaneous of cigarette smoke
1. rising smoke of jetty smoke before riskiest cigarette used up/finished. Chemical content is poisonous the than smoke this type of belipat - fold compared to previous smoke
2. Smoke smoke from cigarette is which is just killed in pregnant ashtray thrice is bigger of benzopyrene ( pemicu of cancer) and 50 times fold content of amonia from at ordinary cigarette smoke
3. Room fulfilled by kepulan of smoke, its compared to riskier pollution storey;level [of] air pollution at public road stuck.
Which most annoying is when a which is nonsmoker reside in environment fulfilled by cigarette smoke. Is finally sipped also its cigarette smoke which it is said it[him] its compared to higher danger of smoker of itself. Ought to sih….. FREE FRESH AIR of SMOKE CIGARETTE REPRESENT ONE OF THE HAK AZAZI HUMAN BEING.…
Considering cigarette of[is more its danger than its benefit, hopefully MUI immediately religious advices smoke is ILLICIT : 

K CANCER LUNG

About Cancer

Children which born year 1985, estimated one-third will have suffered cancer, and about a quarter will die because cancer. All of us have friend or family which [is] cancer mengidap. Tables of following memaparkan of[is amount of pengidap of cancer [in] US year 1993.
Amount
Patient of[is Amount Of
Death of [Gratuity/ %] of Death
from Entire/All
Cancer
Lung 170 000 149 000 28
Large Intestine 152 000 57 000 11
Bosom 183 000 46 300 9
Leukemia 93 000 50 000 9
Prostate 165 000 35 000 7
Biggest Murderer cancer, that is lung cancer, killing almost 90% its patient, or almost 30% from entire/all death of cancer effect. But in fact exactly cancer of paru-parulah which is [is] easiest to be prevented. Surver in a few decade indicate that the single cause of lung cancer majority [is] cigarette smoke
.
Carcinogen
Look vitamins Carcinogen ( pemicu of cancer) what consist in at cigarette is " chloride vinyl " benzo ( a) pyrenes " nitroso-nor-nicotine
Single riskier Iook vitamin than smoke smoke in triggering lung cancer is radioactive Iihat vitamins. That even also if eaten or dihidap in rate which enough
Effect Cancer Lung
Draw below/under showing damage lung by cancer. Draw in right     is enlarged. Show hit by alveoli right cancer  is larged show alveoli  to be hit by cancer
   
u Death generally non happened because difficulty breathe which result from besar cancer him/ it, but because lung position in system circulation of blood make easy cancer disseminate to entire/all body. Spreading of metastase up at other critical shares and brain of lah resulting that death. 90% patient die in 3 year after diagnosed

Correlation With Cigarette

Industrial of cigarette assume that bearing among/between amount of patient of lung cancer with consumption height smoke hanay represent coincidence. But graphs below/under, from various research show very positive correlation and very consistent that single cause of lung cancer in general [is] cigarette consumpt

________________________________________
Copyleft ©

otitis media askep

June 16th, 2008 by bared18

OTITIS MEDIA

PATOFISIOLOGI

Otitis media
adalah inflamasi telinga tengah. Anak-anak yang berusia 6 tahun atau kurang
berisisko tinggi untuk ototitis media karena tuba eustachii mereka belum
ditunjang tulang rawan seperti pada anak-anak yang lebih besar dan orang
dewasa. Pada gangguan ini terjadi kolaps tuba eustachii, menimbulkan tekanan
negtaif di telinga tengah. Sebaliknya, terdapat gangguan drainase cairan
telinga tengah dan kemungkinan refluks sekresi esophagus ke daerah ini yang
secara normal bersifat steril. Otitis media adalah diagnosis yang paling sering
dijumpai pada anak-anak di bawah usia 15.

Ada

dua jenis otitis media yang umum ditemukan di klinik pediatric.

 

Otitis Media Akut

Otitis media akut adalah keadaan
terdapatnya cairan di dalam telinga tengah dengan tanda dan gejala infeksi, dan
dan dapat disebabkan pathogen. Termasuk Streptococcus
pneumoniae, catarrhalis
, virus, dan anaerob tertentu. Pada neonatus,
organisme enteric gram-negatif atau Staphyloccus
aureus
dapat pula menjadi organisme penyebab.

 

Otitis Media dengan Efusi

Otitis media dengan efusi dalah
keadaan terdapatnya cairan di dalam telinga tengah tanpa tanda dan gejala
infeksi. Pada penyakit ini tidak ada agens penyebab defenitif yang telah
diidentifikasi, meskipun otitis media dengan efusi terdapat pada anak yang
telah sembuh dari otitis media akut, selain pada mereka yang menderita alergi
dan infeksi virus pada saluran nafas atas.

 

INSIDENS

  1. Rentang usia insidens puncak otitis media adalah
         antara 5 sampai 24 bulan dan 4 sampai 6 tahun.
  2. Tujuh puluh persen anak yang menderita otitis media
         menunjukkan satu episode saat berusia 3 tahun, sedangkan sepertinganya
         memiliki lebih dari 3 episode.
  3. Anak dengan otitis media akut menunjukkan gejala
         tuli konduktif sementara selama sedikitnya 2 sampai 4 minggu setelah
         infeksi akut.
  4. Anak yang menderita otitis media dengan efusi
         mungkin menunjukkan tuli konduktif selama ada efusi.
  5. Lima

         puluh persen anak-anak dengan palatoskisis menderita otitis media kronik
         sebelum dilakukan koreksi pembedahan.

  6. Anak-anak yang terpajan asap rokok pasif memiliki
         angka insidens otitis media yang lebih tinggi secara signifikan.

 

MANIFESTASI KLINIS

Otitis Media Akut 

  1. Membran timpani merah, sering menonjol tanpa
         tonjolan tulang yang dapat dilihat, tidak bergerak pada otoskopi pneumatic
         (pemberian tekanan positif atau negative pada telinga tengah dengan
         insuflator balon yang dikaitkan ke otoskop)
  2. Keluhan nyeri telinga (otalgia), atau rewel dan
         menarik-narik telinga pada anak yang belum dapat bicara
  3. Demam (pada kira-kira setengah jumlah anak yang
         terkena)
  4. Anoreksia (umum)
  5. Limfadenopati servikal anterior

 

Otitis Media dengan Efusi

  1. Membran timpani kuning redup sampai abu-abu, sering
         terdapat retraksi, dengan mobilitas buruk pada otoskopi pneumatic
  2. Rasa penuh atau gatal di dalam telinga
  3. Tuli konduktif ringan sampai sedang

 

KOMPLIKASI

Hal yang Umum Terjadi

  1. Ruptur membrane timpani dengan otorea
  2. Tuli konduktif jangka pendek

 

Hal yang Jarang Terjadi

  1. Tuli permanen atau jangka panjang
  2. Meningitis
  3. Mastoiditis
  4. Abses Otak
  5. Kolesteatoma yang didapat (sakus telinga tengah
         terisi epitel atau keratin)

 

UJI LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK

  1. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan
         membrane timpani
  2. Kultur dan uji sensitivitas hanya dapat dilakukan
         bila dilakukan timpanosentesis (aspirasi jarum dari telinga tengah melalui
         membrane timpani)

 

PENATALAKSANAAN MEDIS

Dekongestan dan
antihistamin ternyata tidak membantu dalam mengatasi otitis media karena itu
penggunaannya tidak dianjurkan.

Antibiotik dapat digunakan untuk
otitis media akut. Pilihan pertama adalah amoksilin; pilihan kedua-digunakan
bila diperkirakan organismenya resisten terhadap amoksilin-adalah amoksilin
dengan klavulanat (Augementin; sefalosporin generasi kedua), atau trimetoprim
suliametoksazol. Pada anak yang alergi penisilin, dapat diberikan aritromisin
dan sulfonamide atau trimetropin-sulfa.Alergi silang terdapat sefalospirin
terjadi pada 8% anak-anak ini.

Untuk media dengan efusi, terapi
umum yang dilakukan adalah menunggu. Keadaan ini umumnya sembuh dalam 2 bulan.

Untuk otitis media dengan efusi yang persisten, dianjurkan untuk
meringotomi. Miringotomi adalah prosedur bedah memasukkan sedang
penyeimbang-tekanan ked ala membrane timpani. Hal ini memungkinkan ventilasi
dari telinga tengah, mengurangi tekanan negative dan memungkinkan drainase
cairan. Sedang itu, umumnya lepas sendiri setelah 6 sampai 12 bulan.
Kemungkinan komplikasinya adalah atrofi membrane timpani, timpanosklerosis
(parut pada membrane timpani), perforasi kronik, dan kolesteatoma.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

  1. Kaji adanya perilaku nyeri verbal dan non-verbal
  2. Kaji adanya peningkatan suhu
  3. Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di daerah
         leher
  4. Kaji status nutrisi dan keadekuatan asupan cairan
         berkalori
  5. Kaji kemungkinan tuli

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

· Nyeri

· Perubahan rasa aman

· Perubahan sensoris / persepsi : auditorius

 

INTERVENSI KEPERAWATAN

Otitis Media Akut

  1. Obati atau ajarkan keluarga untuk mengobati anak
         dengan analgesic dan antiperetik sesuai kebutuhan.

a. Demam

b. Nyeri Telinga

  1. Berikan cairan sedikit tapi sering dengan gelas
         atau sendok jika anak itu menolak menyusu dari ibunya atau dari botol
         (mengisap dapat menambah nyeri telinga pada anak kecil)
  2. Baeritahukan bahwa minum banyak air merupakan hal
         penting untuk anak yang menderita demam atau penyakit
  3. Ajarkan pada keluarga cara-cara pemberian
         antibiotic yang aman dan efektif
  4. Observasi atau ajarkan pada keluarga untuk
         mengobservasi adanya tanda komplikasi pada otitis akut

a. Draenase telinga

b. Tidak adanya perbaikan pada baik tanda maupun gejala
setelah diobati, terutama setelah 48 jam pemberian antibiotic yang sesuai

c. Kaku kuduk, rewel dan iritabilitas

 

Otitis Media dengan Efusi

1. Ajarkan pada keluarga tentang perjalanan penyakit ini
dan tidak diketahuinya etiologi dan pengobatan sebenarnya

2. Dukung anak dan keluarga jika terdapat tuli konduktif;
tenangkan mereka dengan memberitahu bahwa hal ini cenderung dapat sembuh
sendiri.

3. Jika diperlukan miringotomi, jelaskan prosedurnya
kepada anak dan orang tua dengan cara-cara yang sesuia usia.

 

Perawatan Pascabedah

Pantau respons
anak terhadap intervensi bedah (miringotomi dengan pemasangan selang
timpanostomi)

  1. Tanda-tanda vital (peningkatan suhu menandakan
         adanya infeksi)
  2. Otorea dari telinga (pemasangan selang)
  3. Adanya pendarahan
  4. Nyeri (lakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi
         nyeri dan beri obat bila perlu)
  5. Pendengaran

 

Perencanaan Pulang dan Perawatan di Rumah

1. Ajarkan pada anak dan orang tua tentang cara-cara
memelihara kepatenan selang timponostomi (mis; bila anak berenang, tutup
telinganya denga penutup telinga, jeli petroleum)

2. Instruksikan tentang pembatasan aktivitas anak sampai
anak sembuh betul

3. Ajarkan tentang pentingnya menghindarkan anak-anak dari
pemajanan asap rokok pasif, jika anggota keluarga tidak dapat atau enggan
berhenti merokok, hendaknya merokok di luar gedung

 

HASIL YANG DIHARAPKAN

  1. Anak bebas dari nyeri yang tercermin baik dari
         perilaku verbal maupun nonverbal
  2. Tingkat aktivitas dan nafsu makan anak kembali
         normal
  3. Anak tidak menunjukkan adanya gangguan pendengaran

REFERENSI

Berhman R et al: Disorders of the ear. In Nelson’s textbook of pediatrics,
Philadelpia. 1992. WB Saunders.

Berman S, Schmitt B: The ear; diseases and
disorders. In Hay W. et al, editors: Current
pediatric diagnosis and treatment
.1994.

Clark J, Queener S, Karb V: Antiinfective and
chiemotherapeutic agents. In
Pharmacologis basis of nursing practice
, St Louis.1993. Mosby.

The Otitis Media Guildeline Panel : Managing otitis
media with effusion in young children, Pediatrics 94 (5) : 766,1994.

 

 

BOY ANONI PUTRA

STIKES

FORT

DE

COCK BUKITTINGGI

17 juni 2008

askep waham???? tapi dire he.he.

June 16th, 2008 by bared18

CURRENT
ISSUE KEMATIAN ANAK( PENYAKIT DIARE )
 

 ABSTRAK

Diare adalah penyakit yang ditandai dengan
bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang
disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita.
Penyakit ini disebabkan
oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti
jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri
Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC). Secara klinis
penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi,
malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi
yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan
infeksi dan keracunan.

B A B  IPENDAHULUAN A.  Latar Belakang

Penyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita (bayi dibawah

lima

tahun) terbesar di
dunia. Menurut catatan Unicef, setiap detik satu balita meninggal karena diare
(Inisiatif Kemitraan Pemerintah-Swasta Untuk Cuci Tangan Pakai Sabun;
Available from : www.ampl.or.id
).
Diare seringkali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global
dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut catatan WHO, diare membunuh
dua juta anak di dunia setiap tahun, sedangkan di Indonesia, menurut Surkesnas
(2001) diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita
(Jangan Anggap Remeh Diare; Available from : www.medicastore.com).
Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460
balita setiap harinya.Penyakit Diare di negara maju walaupun sudah
terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi
tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang
menderita diare infeksi setiap tahunnya dan  1 dari 6 orang pasien yang
berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di
negara Barat ini oleh karena foodborne
infections
dan waterborne
infections
yang disebabkan bakteri Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus
cereus, Clostridium perfringens
dan Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC). Diare infeksi di
negara berkembang, menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun.
Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding
di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare     3
kali setiap tahun. (Diare Akut Disebabkan
Bakteri; Available from : www.library.usu.ac.id
).Diare
merupakan penyebab kematian nomor 2 pada Balita dan nomor 3 bagi bayi serta
nomor 5 bagi semua umur.
Setiap anak di

Indonesia

mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali per tahun. Dari hasil Survey
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di

Indonesia

, diare menempati urutan
ke ketiga penyebab kematian bayi (Elemen Seng Mampu Atasi Penyakit Diare;
Available from :  www.mediaindonesiaonline.com).
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi
berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan
bentuk dan konsistensi tinja dari penderita. (
Depkes R I,

Kepmenkes

RI

Tentang Pedoman P2D, Jkt, 2002). Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6
besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi,
dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis
adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. (

Depkes

RI

,

Kepmenkes

RI

Tentang Pedoman P2D , Jkt ,
2002
). Adapun penyebab-penyebab tersebut sangat
dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya keadaan gizi, kebiasaan atau
perilaku, sanitasi lingkungan, dan sebagainya.
Pada tahun 2004, Diare
merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kelima terbanyak setelah DBD, Campak,
Tetanus Neonatorium dan keracunan makanan.B. Rumusan MasalahBerdasarkan
latar belakang tersebut maka yang menjadi rumusan masalah dari makalah ini
adalah bagaimanakah gambaran epidemiologi, distribusi, frekuensi, determinant,
isu, dan program nasional dalam penanganan Penyakit Diare.C. TujuanUntuk
mendapatkan gambaran epidemiologi, distribusi, frekuensi, determinant, isu, dan
program nasional dalam penanganan Penyakit
Diare.        B A B
IITINJAUAN PUSTAKA A.
  Kematian AnakAnak merupakan  salah satu golongan
penduduk yang berada dalam situasi rentan, dalam kehidupannya di tengah
masyarakat. Kehidupan anak dipandang rentan karena memiliki ketergantungan
tinggi terhadap orangtua. Jika orangtua lalai menjalankan tanggung jawabnya,
maka anak akan menghadapi masalah. Angka  kematian bayi di Indonesia
sebenarnya telah menurun secara signifikan dari sebanyak 147 orang dari setiap 1000
kelahiran pada tahun 1967 menjadi 41 orang pada tahun 1997. Namun meningkat
kembali secara drastis pada tahun 1999 menjadi sebanyak 114 orang seiring
terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997.  (Dep. Kes. dikutip oleh
Baharsjah, 1999: 30)
                                                             
Tabel 1Proporsi Dan Peringkat Penyakit Diare Sebagai Penyebab Kematian Bayi Dan
Balita Tahun 1986, 1992, 1995, Dan 2001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun
  Survei

 

 

Penyebab
  Kematian Bayi

 

 

Penyebab
  Kematian Balita

 

 

Proporsi

 

 

Peringkat

 

 

Proporsi

 

 

Peringkat

 

 

SKRT
  1986

 

 

15,5%

 

 

3

 

 

-

 

 

-

 

 

SKRT
  1992

 

 

11%

 

 

2

 

 

-

 

 

-

 

 

SKRT
  1995

 

 

13,9%

 

 

3

 

 

15,3%

 

 

3

 

 

Surkesnas
  2001

 

 

9,4%

 

 

3

 

 

13,2%

 

 

2

 

 Sumber: SKRT dan
Surkesnas 2001
Berdasarkan pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa penyebab
kematian bayi akibat diare menurut SKRT yang paling tinggi terdapat pada tahun
1986 dengan proporsi sebesar 15,5% sedangkan pada tahun 2001 berdasarkan pada
data Sukenas diketahui bahwa proporsi diare mengalami penurunan sebesar 9,4%.B. Defenisi DiareDiare
adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri,
virus dan parasit lainnya seperti jamur, cacing dan protozoa. Salah satu
bakteri penyebab diare adalah bakteri Escherichia Coli Enteropatogenik (EPEC).
Budiarti (1997) melaporkan bahwa sekitar 55% anak-anak di Indonesia terkena
diare akibat infeksi EPEC. Gejala klinis diare yang disebabkan infeksi EPEC
adalah diare yang berair sangat banyak yang disertai muntah dan badan sedikit
demam (Cary dan Bhatnager, 2000 mengacu pada Donnenberg, 2001).Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi
berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan
bentuk dan konsistensi tinja dari penderita.
(

Depkes

RI

,

Kepmenkes

RI

Tentang Pedoman P2D,Jkt,2002). Secara klinis penyebab diare dapat
dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi,
keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan
di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan.
(

Depkes

RI

,

Kepmenkes

RI

Tentang Pedoman P2D , Jkt , 2002). Adapun
penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya
keadaan gizi, kebiasaan atau perilaku, sanitasi lingkungan, dan sebagainya.
C. Etiologi Penyakit Diare1.    
Infeksi BakteriBeberapa jenis bakteri dapat termakan melalui makanan atau
minuman yang terkontaminasi dan menyebabkan diare, contohnya Campylobacter,
Salmonella, Shigella dan Escherichia coli.2.    
Infeksi VirusBeberapa virus yang menyebabkan diare yaitu rotavirus,

Norwalk

virus, cytomegalovirus,
virus herpes simplex dan virus hepatitis. 3.    
Intoleransi MakananContohnya pada orang yang tidak dapat mencerna komponen
makanan seperti laktosa ( gula dalam susu).4.    
ParasitParasit, yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman dan
menetap dalam sistem pencernaan. Contohnya Giardia lamblia, Entamoeba
histolytica dan Cryptosporidium.5.      Reaksi
ObatContoh antibiotik, obat-obat tekanan darah dan antasida yang mengandung
magnesium.6.      Penyakit IntestinalPenyakit inflamasi
usus atau penyakit abdominal. Gangguan fungsi usus, seperti sindroma iritasi
usus dimana usus tidak dapat bekerja secara normal (Availble from : www.pom-obat.go.id)D. Gejala Penyakit DiareGejala
diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih
dalam sehari, yang kadang disertai :1.    
Muntah2.      Badan lesu atau
lemah3.      Panas4.    
Tidak nafsu makan5.      Darah dan lendir dalam
kotoranRasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh
infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja
berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula
mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala- gejala lain seperti flu
misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri
dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.F. Jenis- Jenis Diare1.      Diare akut : merupakan diare
yang disebabkan oleh virus yang disebut Rotavirus yang ditandai dengan buang
air besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya biasanya
(3 kali atau lebih dalam sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari. Diare
rotavirus ini merupakan virus usus patogen yang menduduki urutan pertama
sebagai penyebab diare akut pada anak2.      Diare
bermasalah: merupakan diare yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri,
parasit, intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi. Penularan secara fecal-
oral, kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga.
diare ini umumnya diawali oleh diare cair kemudian pada hari kedua atau ketiga
bar muncul darah, dengan maupun tanpa lendir, sakit perut yang diikuti
munculnya tenesmus panas disertai hilangnya nafsu makan dan badan terasa
lemah.3.      Diare persisten: merupakan diare akut
yang menetap, dimana titik sentral patogenesis diare persisten adalah kerusakan
mukosa usus. penyebab diare persisten sama dengan diare akut.(
Pedoman
Pemberantasan Penyakit Diare edisi ke 3 depkes RI Direktorat Jenderal PPM&
PL tahun 2007)
G. Proses Penularan Penyakit DiareAgent infeksius yang menyababkan
penyakit diare biasanya ditularkan melalui jalur fekaloral terutama karena :
1.      Menelan makanan yang terkontaminasi (terutama
makanan sapihan) atau air.2.      Kontak dengan tangan
yamg terkontaminasi.Beberapa faktor yang dikaitkan dengan bertambahnya
penularan kuman entero patogen perut termasuk :1.    
Tidak memadainya penyediaan air bersih.2.    
Pembuangan tinja yang tidak higienis3.    
Vektor4.      Aspek sosial ekonomi.H. Pencegahan Terjadinya
Diare
Untuk menurunkan angka kejadian kematian akibat diare maka
diperlukan upaya- upaya pencegahan sebagai
berikut:1.      Menggunakan air
bersih2.      Selalu mencuci tangan sebelum dan
sesudah makan3.      Penggunaan jamban untuk pembuagan
tinja4.      Memberikan
ASI5.      Memperbaiki makanan pendamping
ASI6.      Memberikan imunisasi campak.I. Pengobatan
Terhadap Penyakit Diare
Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi
maka penanggulangannya dengan cara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi
intensif bila telah terjadi dehidrasi. Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh
masyarakat adalah air kelapa, air tajin, ASI, air teh encer, sup wortel, air
perasan buah, dan larutan gula garam    (LGG). pemakaian cairan
ini lebih dititik beratkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi, sedangkan bila
terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaiknya diberi minum oralit.Oralit
merupakan salah satu cairan pilihan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi.
Oralit sudah dilengkapi dengan elektrolit, sehingga dapat menggantikan
elektrolityang ikut hilang bersama cairan (Menangani Diare Pada Anak Dengan
Tepat; Available from : www.medicastore.com)   
                                                         
Tabel 2Takaran Pemberian Oralit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Umur

 

 

Jumlah Cairan

 

 

Di
  bawah 1 thn

 

 

3
  jam pertama 1,5 gelas selanjutnya 0.5 gelas setiap kali mencret

 

 

Di
  bawah 5 thn (anak balita)

 

 

3
  jam pertama 3 gelas, selanjutnya 1 gelas setiap kali mencret

 

 

Anak
  diatas 5 thn

 

 

3
  jam pertama 6 gelas, selanjutnya 1,5 gelas setiap kali mencret

 

 

Anak
  diatas 12 thn & dewasa

 

 

3
  jam pertama 12 gelas, selanjutnya 2 gelas setiap kali mencret (1 gelas : 200
  cc)

 

Sumber: www.dinkesjakarta.comKarena penyebab Diare
akut / diare mendadak  tersering adalah Virus,  maka tidak ada
pengobatan yang dapat menyembuhkan, karena biasanya akan sembuh dengan
sendirinya setelah beberapa hari.  Maka pengobatan diare ini
ditujukan untuk mengobati gejala yang ada dan mencegah terjadinya
dehidrasi atau kurang cairan.  Diare akut dapat  disembuhkan hanya dengan meneruskan pemberian makanan seperti biasa dan minuman / cairan
yang cukup saja.Dalam hal ini yang perlu diingat pengobatan bukan memberi obat
untuk menghentikan diare, karena diare sendiri adalah suatu mekanisme
pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kontaminasi makanan dari usus. Mencoba
menghentikan diare dengan obat seperti menyumbat saluran pipa yang akan keluar
dan menyebabkan aliran balik dan akan memperburuk saluran tersebut. 
  BAB IIIGAMBARAN EPIDEMIOLOGI  A. Epidemiologi DiareKejadian
diare di negara berkembang antara 3,5- 7 episode setiap anak pertahun dalam dua
tahun pertama dan 2-5 episode pertahun dalam 5 tahun pertama kehidupan.
Departemen kesehatan RI dalam surveinya tahun 2000 mendapatkan angka kesakitan
diare sebesar 301/ 1000 penduduk, berarti meningkat dibanding survei tahun 1996
sebesar 280/ 1000 penduduk, diare masih merupakan penyebab kematian utama bayi
dan balita. Hasil Surkesnas 2001 mendapatkan angka kematian bayi 9,4% dan
kematian balita 13,2%. (Journal Medica Nusantara vol.27 no.2 april- juni
2006.” diare akut pada anak., Setia Budi S., Departemen ilmu kesehatan anak FK
UH/ RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo- Makassar”).
B. Distribusi Penyakit
Diare
1.      Distribusi Penyakit Diare
Berdasarkan Orang (umur)Sekitar 80% kematian diare tersebut terjadi pada anak
dibawah usia    2 tahun. data terakhir menunjukkan bahwa dari
sekitar 125 juta anak usia      0- 11 bulan, dan 450
juta anak usia 1-4 tahun yang tinggal di negara berkembang, total episode diare
pada balita sekitar 1,4 milyar kali pertahun. dari jumlah tersebut total
episode diare pada bayi usia di bawah 0-11 bulan sebanyak 475 juta kali dan
anak usia 1-4 tahun sekitar 925 juta kali pertahun. (Tinjauan Pustaka
“Diare Akut Pada Anak” oleh Setia Budi S, Departemen Ilmu Kesehatan Anak
FKUH/RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo-Makassar)
                                                         
Tabel 3Jumlah Kasus Penyakit Diare Di Kabupaten/

Kota

Sulawesi

Selatan Berdasarkan Umur Tahun
2004

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Umur
  (tahun)

 

 

Jumlah
  Kasus

 

 

Kematian
  (orang)

 

 

<
  1 tahun

 

 

28.946
  kasus

 

 

20
  orang

 

 

1
  – 4 tahun

 

 

57.087
  kasus

 

 

17
  orang

 

 

>
  5 tahun

 

 

91.379
  kasus

 

 

29
  orang

 

         Sumber:
Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PL
Berdasarkan pada tabel 3 dapat kita
lihat bahwa jumlah kasus diare yang terjadi di Sulawesi Selatan menurut umur
paling banyak terjadi pada usia > 5 tahun ini karena pada usia tersebut
memiliki imun yang rentan terhadap penyakit.Kematian akibat diare yang paling
tinggi terjadi pada umur >5 tahun yakni sebesar 29 orang, tingginya angka
kematian pada usia demikian karena pada balita jumlah makanan yang dikonsumsi
bertambah banyak berupa PMT dan aktivitas  bermain anak yang dapat
menyebabkan imunitas tubuh rendah.                                                             
Tabel 4Jumlah Kasus Penyakit Diare Di Kabupaten/

Kota

Sulawesi

Selatan Berdasarkan Umur Tahun
2005

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Umur
  (tahun)

 

 

Jumlah
  Kasus

 

 

Kematian
  (orang)

 

 

<
  1 tahun

 

 

27.029
  kasus

 

 

25
  orang

 

 

1
  – 4 tahun

 

 

60.794
  kasus

 

 

13
  orang

 

 

>
  5 tahun

 

 

100.347
  kasus

 

 

19
  orang

 

         Sumber:
Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PL
Berdasarkan pada tabel diatas dapat kita
lihat bahwa jumlah kasus diare pada tahun 2005 di Sulawesi Selatan berdasarkan
umur yang paling tinggi terjadi pada usia >5 tahun sebesar 100.347 kasus
sedangkan kematian yang paling banyak terjadi berada pada usia <1 tahun
yakni sebanyak 25 kematian.2.      Distribusi Penyakit
Diare Berdasarkan TempatBerdasarkan tempat maka distribusi penyakit diare di

Indonesia

banyak ditemukan di propinsi Nusa Tenggara Timur dengan CFR
1,28%.                                                    
Tabel
5                
        KLB Diare Per Propinsi Tahun
2005

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No

 

 

Propinsi

 

 

JumlahKab
  KLB

 

 

JumlahLetusan
  KLB

 

 

JumlahPenderita

 

 

JumlahMeninggal

 

 

CFR (%)

 

 

1.

 

 

NTT

 

 

3

 

 

15

 

 

2194

 

 

28

 

 

1,28

 

 

2.

 

 

Sulawesi

Tengah

 

 

1

 

 

1

 

 

69

 

 

13

 

 

18,84

 

 

3.

 

 

Lampung

 

 

1

 

 

2

 

 

95

 

 

2

 

 

2,11

 

 

4.

 

 

Sumatera
  Utara

 

 

2

 

 

2

 

 

145

 

 

6

 

 

8,38

 

 

5.

 

 

Maluku
  Utara

 

 

2

 

 

2

 

 

133

 

 

7

 

 

5,26

 

 

6.

 

 

Banten

 

 

2

 

 

5

 

 

1371

 

 

26

 

 

1,90

 

 

7.

 

 

Sumatera
  Selatan

 

 

1

 

 

1

 

 

95

 

 

1

 

 

1,05

 

 

8.

 

 

Jawa
  Timur

 

 

1

 

 

1

 

 

48

 

 

0

 

 

0,00

 

 

9.

 

 

Papua

 

 

1

 

 

1

 

 

486

 

 

37

 

 

7,61

 

 

10.

 

 

Jawa
  Barat

 

 

1

 

 

1

 

 

148

 

 

1

 

 

0,68

 

 

11.

 

 

NAD

 

 

5

 

 

8

 

 

267

 

 

6

 

 

2,25

 

   Sumber: Profil PP & PL 2005Berdasarkan pada tabel
diatas bahwa KLB diare yang palin tinggi yang paling besar terjadi pada daerah NTT
dengan CFR sebesar 1,28%. Hali ini di sebabakan tingkat sanitasi masyarakat
yang msih rendah, dimana pada daerah NTT tersebut terjadi kekurangan air,
sehingga aktivitas mereka terbatasi dengan minimnya persediaan air.Tabel
6Cakupan Penemuan Penderita DiareDi Propinsi

Sulawesi

Selatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kabupaten/Kota

 

 

Jumlah
  CakupanPenemuan Penderita Diare

 

 

Palopo

 

 

146,74
  %

 

 

Makassar

 

 

115,04%

 

 

Soppeng

 

 

112,63%

 

 

Enrekang

 

 

111,67%

 

   Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PLBerdasarkan pada tabel
diatas dapat kita lihat bahwa cakupan penemuan penderita diare lebih banyak
terdapat di daerah Palopo sebesar 146,74%. Hal ini karena petugas kesehatan
yang aktiv untuk menurunkan angka kejadia diare.3. Distribusi Penyakit Diare
Berdasarkan WaktuTabel 7Cakupan Penderita DiareDalam

Lima

Tahun Terakhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun

 

 

Jumlah
  Penderita Yang Dilaporkan

 

 

2000

 

 

4.771.340
  penderita

 

 

2001

 

 

2.873.414
  penderita

 

 

2002

 

 

1.788.492
  penderita

 

 

2003

 

 

1.950.745
  penderita

 

 

2004

 

 

596.050
  penderita

 

 Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PLBerdasarkan waktu maka distribusi
penyakit diare di Indonesia sering ditemukan pada musim pancaroba (perubahan
iklim dari musim hujan ke kemarau), sedangkan trend kejadian penyakit diare
terjadi pada tahun 2000 yakni sebanyak 4.771.340
penderita.                                                       
Tabel 8         Jumlah Penderita Diare
Dalam Tiga Tahun Terakhir di Sulawesi Selatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun

 

 

Jumlah
  Kasus (orang)

 

 

Jumlah
  Meninggal (orang)

 

 

CFR
  (%)

 

 

2003

 

 

172.742
  kasus

 

 

73
  orang

 

 

0,04%

 

 

2004

 

 

177.409
  kasus

 

 

66
  orang

 

 

0,04%

 

 

2005

 

 

188,168
  kasus

 

 

57
  orang

 

 

0,03%

 

Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PL Berdasarkan pada tabel
diatas dapat kita lihat bahwa  jumlah penderita diare yang terbanyak dalam
3 tahun terakhir yakni pada  tahun 2005, sedangkan jumlah penderita yang
meninggal yakni pada tahun 2003 sebesar 73 orang. D. Frekuensi Penyakit DiareAngka
kesakitan Diare tahun 2000 (survei oleh Subdit Diare, Ditjen PPM-PL) adalah 301
per 1.000 penduduk dan episode pada balita 1,3 kali per tahun. Pada tahun 2003
angka kesakitan Diare meningkat menjadi 374 per 1.000 penduduk dan episode pada
balita 1,08 kali per tahun. Cakupan penderita Diare yang dilayani dan
dilaporkan selama lima tahun terakhir cenderung menurun.Sementara itu jumlah
penderita diare yang dapat dihimpun melalui laporan Survei Subdit Diare,
Ditjen PPM-PL
cakupan penderita Diare dalam lima tahun terakhir ditemukan
bahwa jumlah penderita yang dilaporkan paling tinggi yakni pada tahun 2000
sebesar 4.771.340 penderita, sedangkan jumlah penderita yang dilaporkan paling
rendah yakni pada tahun 2004 sebesar 596.050
penderita.                                                    
Tabel
9             
Cakupan Penderita Diare Dalam

Lima

Tahun Terakhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun

 

 

Jumlah
  Penderita Yang Dilaporkan

 

 

2000

 

 

4.771.340
  penderita

 

 

2001

 

 

2.873.414
  penderita

 

 

2002

 

 

1.788.492
  penderita

 

 

2003

 

 

1.950.745
  penderita

 

 

2004

 

 


  596.050 penderita

 

 Sumber: Survei Subdit
Diare, Ditjen PPM-PL
Berdasarkan pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa cakupan
E. Isu Terbaru Penyakit Diare1. Produksi Telur Anti
Diare      
Diare merupakan penyakit infeksi
yang saat ini masih menjadi permasalahan di negara-negara berkembang, khususnya

Indonesia

.
Dengan tingkat kejadian yang masih tinggi tersebut, maka dilakukan
penelitian-penelitian dalam rangka menurunkan angka kejadian penyakit tersebut
terutama pada saat musim pancaroba. Telur anti-diare dapat diproduksi dengan
cara menyuntik ayam petelur dengan suspensi Escherichia coli Enteropatogenik
(EPEC) pada vena axilaris. Kemudian dilakukan pengulangan dua minggu berikutnya
masing-masing 3 kali. Antibodi akan ditransfer ke kuning telur sebagai
kekebalan yang diperoleh dari induk (kekebalan maternal) untuk anaknya.
Antibodi yang telah terbentuk pada serum, akan terbentuk pula pada kuning
telur. Antibodi dalam telur tersebut spesifik terhadap antigen yang disuntikan.
Misalnya penyuntikan ayam petelur dengan suspensi EPEC maka antibodi yang
dihasilkan spesifik terhadap EPEC.
Antibodi dalam telur selanjutnya diisolasi. Isolasi antibodi meliputi pemisahan
telur dari kuningnya, kemudian memurnikan antibodi dari lemak dan bahan lain.
Beberapa metode telah digunakan yaitu presipitasi PEG (Polyethylene Glycol),
Fraksinasi DEAE (dietilaminoetil) , ektraksi kloroform, water
dilution,presifitasi dengan dekstran sulfat atau dekstran blue dan lain-lain.
Antibodi yang telah dimurnikan dapat digunakan pada imunisasi pasif (pemberian
antibodi aktif secara oral) dan sebagai reagen uji diagnostik.Saat ini berbagai
riset produksi antibodi pada telur sedang dilakukan secara intensif oleh
beberapa peneliti, baik peneliti luar maupun di dalam negeri. Aplikasi
telur-anti diare yaitu memakan telur yang telah mengandung zat kebal yang bisa
menangkal wabah diare. Harapannya dengan memakan telur anti-diare matang selain
mengandung nutrisi tinggi, juga mengandung zat kebal. Dengan berhasilnya
produksi telur anti-diare, maka wabah penyakit diare dapat dicegah dengan
memakan telur anti-diare “Telur Anti Diare, A. Zaenal mustopa, Msi, 6 Maret
2007”; Available from : http://www.agrotek.agritechno.com/opini.html).
2. Elemen Seng
Mampu Mengatasi Penyakit
Diare            
Elemen
seng dinilai mampu mengatasi berbagai jenis penyakit infeksi, khususnya diare
yang sering ditemukan dinegara berkembang. Karena selain memberikan imunitas
pada tubuh, elemen seng juga mudah didapat dengan harga yang relatif murah.
Pengobatan penyakit infeksi seperti diare dengan elemen seng dinilai tidak akan
menimbulkan banyak masalah dibandingkan dengan menggunakan antibiotika yang
sering menimbulkan suatu masalah. Elemen seng mampu membunuh kuman-kuman
penyebab diare dan bisa didapat melalui metalloenzym pada tubuh dalam keadaan
normal sebagai imunitas dalam tubuh.Pengobatan dengan seng cocok diterapkan di
negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki banyak masalah
terjadinya kekurangan elemen seng di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan
yang rendah dan daya imunitas yang kurang memadai.Dari hasil penelitian Bhutta
ZA terhadap 900 anak-anak berusia di bawah lima tahun di negara-negara
berkembang, dengan memberikan sediaan elemen seng sebanyak 5 mg/hari pada bayi
dan 10 mg/hari pada anak berusia 1 – 4 tahun diperoleh sediaan elemen seng
yakni berupa seng asetat, glukonat atau sulfat yang diberikan selama 5 – 7 hari
seminggu, terbukti telah berhasil menurunkan angka kesakitan diare secara
signifikan (“Elemen Seng Mampu Atasi Penyakit Diar, Prof.Julius Effendi
Surjawidjaja,24 Juli 2007”; Available from : www.mediaindonesiaonline.com)
F. Program
Penanggulangan Penyakit Diare
Untuk menurunkan
angka kesakitan dan kematian diare Pemerintah dalam hal ini Departemen
Kesehatan R I, melalui Dinas Kesehatan melakukan beberapa upaya sebagai berikut
:1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas Tatalaksana Penderita diare melalui
pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), dan Pelembagaan Pojok
Oralit.2.  Mengupayakan Tatalaksana Penderita diare di Rumah Tangga secara
tepat dan  benar.3. Meningkatkan Upaya Pencegahan melalui kegiatan KIE,
dan meningkatkan upaya kesehatan bersumber masyarakat.4.  Meningkatkan
sanitasi lingkungan.5. Peningkatan Kewaspadaan Dini dan Penanggulangan Kejadian
Luar Biasa Diare
            BAB
IVP E N U T U P A.
 Kesimpulan 1.      Sekitar 80%
kematian diare tersebut terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Diare merupakan
salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita, nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. 2.    
Jumlah kasus tertinggi penyakit diare di Kabupaten/Kota Sulawesi Selatan
berdasarkan orang (umur) pada tahun 2004 yakni pada kelompok
umur          > 5 tahun
sebanyak 91.379 kasus. Pada tahun 2005 kasus tertinggi juga ditemukan pada
kelompok umur > 5 tahun sebanyak 100.347
kasus.3.      Berdasarkan tempat maka distribusi
penyakit diare di

Indonesia

pada tahun 2005 banyak ditemukan di propinsi Nusa Tenggara Timur dengan CFR
sebesar 1,28%.

  1. Berdasarkan waktu maka
         distribusi cakupan penderita  diare yang dilaporkan dalam

    lima

    tahun terakhir
         terjadi pada tahun 2000 dengan jumlah penderita yang dilaporkan 4.771.340
         penderita.

B. Saran    
Berdasarkan
data-data tersebut maka dianggap perlu untuk membahas mengenai persoalan
penyakit diare sebagai penyumbang penyebab tertinggi ke dua kematian anak,
sehingga semua pihak dapat mengupayakan strategi dalam rangka mengurangi
kematian anak akibat diare demi peningkatan kualitas anak.
DAFTAR PUSTAKA Candra Segeren, Mohammad Djuffrie, Sri
Suparyati Soenarto, Berkala Ilmu Kedokteran vol.37, No.4/2005, Faktor
Risiko Kejadian Hipernatremia Pada Anak Balita Dengan Diare Cair Akut
;
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta. Depkes R I, Kepmenkes RI Tentang
Pedoman P2D, Jkt, 2002
Diare Akut Disebabkan
Bakteri Available from : www.library.usu.ac.id)
Diare, Available from : www.dinkesjakarta.comElemen
Seng Mampu Atasi Penyakit Diare        Available
from :www.mediaindonesiaonline.com Inisiatif
Kemitraan Pemerintah-Swasta Untuk Cuci Tangan Pakai
Sabun       Available from : www.ampl.or.id Jangan
Anggap Remeh Diare      Available from : www.medicastore.comMenangani
Diare Pada Anak Dengan Tepat       Available from
: www.medicastore.com Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare edisi ke 3 depkes RI
Direktorat Jenderal PPM & PL Tahun 2007
Setia Budi S, Journal
Medica Nusantara vol.27 no.2 April- Juni 2006, Diare Akut Pada Anak;
Departemen ilmu kesehatan anak FK UH/ RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo- Makassar Tinjauan Pustaka “Diare Akut Pada Anak” oleh Setia
Budi S, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUH/RSUP Dr. Wahidin
Sudirohusodo-Makassar Telur Anti Diare, A.
Zaenal mustopa, Msi         Available
from : http://www.agrotek.agritechno.com/opini.html
  
 

kamis, 18 Januari 2007 15:16

Angka Kejadian Diare di Indonesia Masih Tinggi

Kapanlagi.com - Angka kejadian diare, penyakit yang ditandai perubahan
konsistensi tinja dan peningkatan frekuensi berak, di sebagian besar wilayah

Indonesia

hingga saat ini masih tinggi.

Kepala
Subdit Diare dan Kecacingan Departemen Kesehatan I Wayan Widaya di Jakarta,
Kamis, mengatakan, angka kejadian diare Indonesia menurut survei morbiditas
yang dilakukan Departemen Kesehatan tahun 2003 berkisar antara 200-374 per 1000
penduduk.

"Sedangkan
pada balita, setiap balita rata-rata menderita diare satu sampai dua kali dalam
satu tahun," katanya serta menambahkan bahwa tingkat kematian akibat diare
pun masih cukup tinggi.

Menurut
hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 angka kematian akibat
diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita.

Selama
2006, kata Wayan, sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan Kejadian Luar
Biasa (KLB) diare di wilayahnya.

Jumlah
kasus diare yang dilaporkan, kata dia, sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya
menyebabkan kematian (Case Fatality Rate/CFR=2,5 persen).

Hal
tersebut, kata dia, utamanya disebabkan oleh rendahnya ketersediaan air bersih,
sanitasi yang buruk dan perilaku hidup tidak bersih.

Ia
menyebutkan menurut laporan dari 119 dinas kesehatan kabupaten/kota tahun 2004
air bersih yang memenuhi syarat kesehatan hanya 57,09 persen.

Sementara
persentase keluarga yang menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan baru
sekitar 67,12 %.

Lebih
lanjut Wayan menjelaskan, guna menurunkan angka kejadian dan kematian akibat
diare pihaknya memfokuskan strategi penanganan pada penatalaksanaan diare pada
tingkat rumah tangga, sarana kesehatan dan KLB diare.

Penatalaksanaan
kasus diare yang tepat pada ketiga hal tersebut diharapkan dapat menurunkan
fatalitas akibat penyakit.

Selain
itu, ia melanjutkan, dilakukan pula upaya pencegahan melalui promosi pemberian
ASI dan Makanan Pendampingan ASI, penggunaan air bersih, penggunaan jamban,
cuci tangan dan pembuangan tinja pada tempat yang tepat. (*/rsd)

DIARE

Penyakit
diare masih sering menimbulkan KLB ( Kejadian Luar Biasa ) seperti halnya
Kolera dengan jumlah penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.Namun
dengan tatalaksana diare yang cepat, tepat dan bermutu kematian dpt ditekan
seminimal mungkin. Pada bulan Oktober 1992 ditemukan strain baru yaitu Vibrio
Cholera 0139 yang kemudian digantikan Vibrio cholera strain El Tor di tahun
1993 dan kemudian menghilang dalam tahun 1995-1996, kecuali di India dan
Bangladesh yang masih ditemukan. Sedangkan E. Coli 0157 sebagai penyebab diare
berdarah dan HUS ( Haemolytic Uremia Syndrome ). KLB pernah terjadi di

USA

, Jepang, Afrika selatan dan

Australia

. Dan
untuk

Indonesia

sendiri kedua strain diatas belum pernah terdeksi.

Defenisi
Suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari
tinja , yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih
dari biasanya. (3 kali atau lebih dalam 1 hari.

Faktor yang mempengaruhi diare :
Lingkungan Gizi Kependudukan
Pendidikan Sosial Ekonomi dan Prilaku Masyarakat
Penyebab terjadinya diare :
Peradangan usus oleh agen penyebab :

1. Bakteri , virus, parasit ( jamur, cacing , protozoa)
2. Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia
3. Kurang gizi
4. Alergi terhadap susu
5. Immuno defesiensi

Cara penularan :
Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makan makanan / air minum yang
terkontaminasi tinja / muntahan penderita diare. Penularan langsung juga dapat
terjadi bila tangan tercemar dipergunakan untuk menyuap makanan.

Istilah diare :
Diare akut = kurang dari 2 minggu
Diare Persisten = lebih dari 2 minggu
Disentri = diare disertai darah dengan ataupun tanpa lendir
Kholera = diare dimana tinjanya terdapat bakteri Cholera
Tatalaksana penderita diare yang tepat dan efektif :
Tatalaksana penderita diare di rumah
Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga (kuah sayur, air tajin, larutan gula
garam, bila ada berikan oralit)
Meneruskan pemberian makanan yang lunak dan tidak merangsang serta makanan
ekstra sesudah diare.
Membawa penderita diare ke sarana kesehatan bila dalam 3 hari tidak membaik
atau :
1. buang air besar makin sering dan banyak sekali
2. muntah terus menerus
3. rasa haus yang nyata
4. tidak dapat minum atau makan
5. demam tinggi
6. ada darah dalam tinja

Kriteria KLB/Diare :
Peningkatan kejadian kesakitan/kematian karena diare secara terus menerus
selama 3 kurun waktu berturut-turut (jam, hari, minggu). - Peningkatan
kejadian/kematian kasus diare 2 kali /lebih dibandingkan jumlah
kesakitan/kematian karena diare yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya
(jam, hari, minggu). - CFR karena diare dalam kurun waktu tertentu menunjukkan
kenaikan 50% atau lebih dibandingkan priode sebelumnya.

Prosedur Penanggulangan KLB/Wabah.

1. Masa pra KLB
Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan
Sistem Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu melakukakukan langkah-langkh
lainnya :
1. Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistik.
2. Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas.
3. Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
4. Memperbaiki kerja laboratorium
5. Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain

Tim Gerak Cepat (TGC) :
Sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan pengamatan dan
penanggulangan wabah di lapangan sesuai dengan data penderita puskesmas atau
data penyelidikan epideomologis. Tugas /kegiatan :

Pengamatan :
Pencarian penderita lain yang tidak datang berobat.
Pengambilan usap dubur terhadap orang yang dicurigai terutama anggota keluarga
Pengambilan contoh air sumur, sungai, air pabrik dll yang diduga tercemari dan
sebagai sumber penularan.
Pelacakan kasus untuk mencari asal usul penularan dan mengantisipasi
penyebarannya
Pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang
ditemukan di lapangan.
Penyuluhahn baik perorang maupun keluarga
Membuat laporan tentang kejadian wabah dan cara penanggulangan secara lengkap

2. Pembentukan Pusat Rehidrasi
Untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan.
Tugas pusat rehidrasi :
Merawat dan memberikan pengobatan penderita diare yang berkunjung.
Melakukan pencatatan nama , umur, alamat lengkap, masa inkubasi, gejala
diagnosa dsb.
Memberikan data penderita ke Petugas TGC
Mengatur logistik
Mengambil usap dubur penderita sebelum diterapi.
Penyuluhan bagi penderita dan keluarga
Menjaga pusat rehidrasi tidak menjadi sumber penularan (lisolisasi).
Membuat laporan harian, mingguan penderita diare yang dirawat.(yang diinfus,
tdk diinfus, rawat jalan, obat yang digunakan dsb.


Tanggal dibuat : 09/02/2005 @ 19:44
Revisi terakhir : 03/02/2007

Selasa, 08 Agustus 2006

Biasakan Cuci Tangan Karena Menyehatkan

Mungkin Anda masih ingat syair lagu anak-anak
berikut ini, ”Sebelum kita makan dik, cuci tanganmu dulu”. Ya, cuci tangan
memang penting tapi masih dianggap hal yang sepele. Padahal dari kebiasaan
inilah kesehatan manusia bisa terbentuk.

Cuci tangan adalah awal penting untuk mencegah
terjadinya berbagai penyakit. Sebab dengan tangan yang bersih, maka kemungkinan
tertularnya virus atau bakteri yang menempel pada tangan akan semakin mengecil.
Apalagi bila cuci tangan dilakukan dengan menggunakan sabun.

Tangan manusia, kata dr Titis Iramawati, dari
Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, seringkali bersentuhan dengan
benda-benda kotor yang mengandung bakteri atau kuman penyakit. Karena itu,
bakteri atau virus yang menempel pada tangan perlu dibersihkan dengan cara
dicuci menggunakan sabun.

”Sabun bisa meluruhkan kuman atau bakteri yang
menempel pada tangan. Sedangkan di rumah sakit, sabun yang digunakan untuk cuci
tangan para dokter dan perawat biasanya mengandung antiseptik,” ungkapnya
kepada wartawan, pekan lalu.

Tindakan preventif
Cuci tangan dengan sabun adalah langkah penting untuk mencegah timbulnya
penyakit atau preventif. Tindakan ini lebih efektif dan murah dibandingkan
dengan tindakan kuratif atau pengobatan.

Beberapa jenis penyakit yang bisa dicegah dengan
cuci tangan antara lain diare, tipus, disentri, dan penyakit lain yang terkait
dengan perut atau usus (thypoid). ”Cuci tangan pakai sabun adalah cara efektif
untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit tersebut,” ujar Titis menambahkan.

Lalu kapan sebaiknya cuci tangan dilakukan?
Menurut Titis, ketika habis bepergian, sebaiknya cuci tangan dengan sabun.
Sebab saat bepergian, tangan seringkali menyentuh benda-benda kotor yang
mengandung bakteri atau virus.

Selain itu, juga ketika hendak makan dan
sesudahnya. Yang tak kalah penting adalah sesudah buang air kecil atau besar.
”Bagi para dokter atau tenaga medis, cuci tangan sebaiknya dilakukan ketika
akan memegang pasien dan sesudahnya. Juga setelah operasi. Ini penting untuk
mencegah penularan infeksi,” jelas Titis.

Penelitian
Sejumlah penelitian di berbagai negara telah membuktikan pentingnya cuci tangan
untuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Berbagai literatur menyebutkan, ada
korelasi yang signifikan antara kebiasaan cuci tangan memakai sabun dengan
turunnya angka terkena penyakit.

Sebuah penelitian yang dilakuklan di Kota
Karachi Pakistan dan hasilnya dilaporkan dalam Jurnal Lancet, menemukan fakta
bahwa mereka yang memiliki kebiasaan cuci tangan dengan sabun memiliki risiko
kecil terkena berbagai jenis penyakit, seperti radang paru (pneumonia), diare,
dan infeksi kulit (impetigo).

Dalam penelitian tersebut, para peneliti membagi
responden menjadi tiga grup. Grup pertama diberi sabun antibakteri. Grup kedua
diberi sabun biasa.Sedangkan grup ketiga sebagai kelompok kontrol, tidak diberi
sabun apapun.

Untuk memastikan sabun tersebut digunakan secara
rutin, maka para petugas mengunjungi grup yang diberi sabun secara rutin dalam
satu tahun. Sedangkan grup responden yang tidak diberi sabun tidak mendapat
kunjungan.

Hasilnya, pada grup responden yang diberi sabun,
angka kejadian radang paru (pneumonia) turun sebesar 54 persen. Angka kejadian
diare juga turun sebesar 53 persen serta angka prevalensi penyakit kulit
(impetigo) turun menjadi 34 persen pada anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Penelitian tersebut membuktikan pentingnya cuci tangan dengan sabun untuk
menjaga kesehatan tubuh.

Kesadaran rendah
Sementara itu, Senior Brand Manager Lifebuoy, Elfi Emilia, menyatakan,
fakta membuktikan bahwa kebiasaan mencuci tangan dengan sabun ternyata dapat
mengurangi insiden diare sampai dengan 50 persen atau sama dengan menyelamatkan
sekitar satu juta anak di dunia dari penyakit tersebut setiap tahunnya.

Namun, kesadaran masyarakat

Indonesia

untuk mencuci tangan
dengan sabun masih rendah. Hasil riset yang diadakan oleh Koalisi untuk
Indonesia Sehat (KuIS) dan Lifebuoy Berbagi Sehat mengenai kebiasaan mencuci
tangan dengan sabun di beberapa daerah di

Indonesia

, terungkap fakta yang
mengejutkan. Hampir 80 persen responden, termasuk para ibu yang memiliki
balita, ternyata tidak mencuci tangan dengan sabun, baik sebelum makan, setelah
melakukan pekerjaan di luar rumah dan bahkan setelah buang air besar maupun
buang air kecil.

”Karena itu perlu adanya kampanye tentang
kebiasaan mencuci tangan yang baik dan benar, yakni dengan menggunakan sabun,”
katanya.

Praktisi kedokteran, Dr Handrawan Nadesul juga
menengarai masih rendahnya kebiasaan masyarakat

Indonesia

mencuci tangan dengan
sabun. Indikasi ini dapat dilihat antara lain pada masih tingginya tingkat
penyakit diare, tifus, dan cacing terutama pada anak-anak. Orang yang tidak
memiliki kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah
melakukan aktivitas akan mengalami kerugian secara medis dan ekonomis, sehingga
harus mengeluarkan biaya besar untuk pengobatan.

Di Indonesia, lanjutnya, penyakit diare termasuk
memprihatinkan karena bisa berakibat kematian. ”Padahal penyakit diare, tifus,
dan cacing dapat dicegah dengan satu kebiasaan sederhana yaitu cuci tangan
dengan sabun sebelum makan dan sesudah melakukan aktivitas. Bahkan cuci tangan
dengan sabun juga dapat mencegah penularan virus flu burung dari hewan ke
manusia,” terangnya.

Mencermati kondisi ini, kata dr Titis, sangat
penting untuk membiasakan cuci tangan dengan sabun menjadi perilaku
sehari-hari. Terutama adalah untuk anak-anak. Sebab mereka sangat rentan
terkena berbagai jenis penyakit.

”Perlu ditanamkan kepada anak-anak tentang
kebiasaan cuci tangan menggunakan sabun. Anak-anak memiliki kebiasaan menyentuh
muka dan memasukkan jari-jari ke mulut atau hidung. Ini bisa menyebabkan risiko
terkena flu atau diare. Jika sejak kecil kebiasaan cuci tangan dengan sabun sudah
tertanam dengan baik, maka ketika dewasa mereka akan memiliki pola hidup dan
kebiasaan yang baik dan sehat,” ujarnya menjelaskan.

Penanaman kebiasaan cuci tangan tersebut,
menurut Titis, bisa dilakukan di sekolah. Misalnya, sebelum masuk ke kelas, anak-anak
diminta untuk cuci tangan terlebih dahulu.

”Kebiasaan mencuci tangan sebaiknya dipandang
sebagai bagian dari penegakkan disiplin dalam keluarga.

Gaya

hidup dan kebiasaan mencuci tangan
setelah dari kamar mandi, sebelum dan sesudah makan, serta sehabis bepergian,
sebaiknya diterapkan sebagai kebiasaan hidup sehari-hari, khsusunya kepada
anak-anak,” kata Titis menegaskan.

( jar )
P2M Garut Lacak Indikasi Wabah Diare

Kepala
Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan kabupaten Garut,
Drg Iman Firmanullah menyatakan, Kamis (2/6), pihaknya kini tengah melacak
andanya indikasi wabah jenis penyakit diare, menyusul sekurang-kurangnya 20
warga setempat masih dirawat di RSU Dr Slamet bahkan telah empat orang
penderita meninggal dunia.

Keempat orang yang meninggal dunia itu berusia mulai empat tahun kebawah antara
lain berasal dari kecamatan Bungbulang, Cinisti dan dari Pasir kiamis, yang
sementara diprediksikan sebagai individual kasuistik meski tidak mustahil bisa
menjadi ancaman tejadinya kejadian luar biasa (KLB), ujar Firmanullah.

Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Kesehatan Garut, Dr H. Hendy Budiman MKes
mengatakan, dirinya- pun akan langsung melakukan pelacakan termasuk
inventarisasi biodata penderita diare yang masih dirawat di rumah sakit,
sekaligus mengidentifikasi daerah-daerah endemis diare untuk secepatnya
dilakukan lanjutan penanganannya.

Pada bagian lain keterangannya Kepala Bidang P2M, Iman Firmanullah
mengingatkan, penyakit diare di

Indonesia

merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, akibat masih
tingginya angka kesakitan karena diare menimbulkan banyak kematian terutama
pada bayi dan anak balita.

Berdasarkan survey

Depkes

RI

menunjukkan, angka kesakitan akibat diare
untuk seluruh golongan umur berkisar 120-360 per 1.000 penduduk, balita
menderita satu atau dua kali episode diare setiap tahun sebagian besar
menyebabkan kematian pada anak balita 76 persen, sedangkan kematian pada anak
bayi diperkirakan 15,5 persen. 

Penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 220 juta orang, diperkirakan masih
terdapat kematian balita karena diare sebesar 5/1.000 balita atau
sekurang-kurangnya 135.000 kematian bayi dan balita setiap tahun akibat diare,
msih tingginya angka kesakitan dan kematian akibat jenis penyakit ini dikarnakan
tidak memadainya kondisi kesehatan lingkungan.

Selain itu pengaruh faktor-faktor lainnya berupa kondisi sosial ekonomi
masyarakat, keadaan gizi, kependudukan, pendidikan serta perilaku masyarakat
yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi penyakit itu.

Disebutkan, diare yakni penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan
konsistensi tinja melembek sampai cair serta bertambah frekuensi buang air
besar lebih dari biasanya, diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali
sehari dengan/tanpa darah maupun lendir dalam tinja, sementara itu diare akut
yakni diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari tujuh
hari.

Disusul diare persisten, diare yang berlangsung lebih dari dua minggu kemudian
disentri adalah diare yang disertai oleh darah atau lendir, penyebabnya berupa
bakteri vibrio cholera, shigela, salmonella, E. Coli, Bacillus cereus,
Clostridium, Perfingens, Staphylococcus juga disebabkan virus serta
varasit. 

Therafi bisa dilakukan dengan mengatasi diare tanpa dehidrasi, meneruskan
therapi diare di rumah serta memberikan therapi awal jika anak kembali terkena
diare, berikan anak lebih banyak cairan dibandingkan biasanya untuk mencegah
dehidrasi, berikan anak makanan untuk mencegah kurang gizi, selain itu juga
memberikan oralit sesuai dengan aturan, ujar Firmanullah.

sumber: John DH, garut.go.id,

Merindukan Air Bersih, Melawan Bakteri

by : Fransiskus Saverius Herdiman

Kerugian yang diderita

Indonesia

akibat kondisi sanitasi
buruk mencapai Rp 58 triliun per tahun.

Tanggal 22 Maret diperingati sebagai Hari Air Internasional.
Pada tahun 2008 peringatan hari air telah memasuki tahun ke-16. Tema yang
dipilih Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk tahun ini adalah sanitasi. Tema
itu dipilih sejalan dengan ditetapkannya 2008 sebagai Tahun Sanitasi
Internasional.

Bagaimana
hubungan antara air dan sanitasi? Seberapa penting sanitasi memengaruhi air dan
kualitas kehidupan manusia? Dan dimanakah posisi

Indonesia

saat ini dibandingkan
negara tetangga lainnya?

Direktur
Amrta Institute for Water Literacy Nila Ardhianie mengatakan, layanan sanitasi
di

Indonesia

sampai saat ini termasuk yang terburuk di dunia. Tidak ada satu pun

kota

di

Indonesia

yang memiliki layanan limbah terintegrasi dan menyeluruh. Hingga saat ini hanya
terdapat 11

kota

di

Indonesia

yang memiliki layanan
limbah, tetapi layanannya masih sangat terbatas dan belum menyeluruh.

"Pembuangan
limbah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik tentu saja menimbulkan
banyak masalah di antaranya yang paling penting adalah tercemarnya sumber air
penduduk dengan bakteri yang dibawa oleh limbah manusia seperti e- coli,"
ujarnya.

E-coli
adalah bakteri penyebab utama penyakit diare, tifus, penyakit perut, dan
hepatitis. Bakteri ini menyebar karena buruknya sistem sanitasi dan bocornya
penampung tinja.

Hasil
penelitian Bappenas tahun 2007 menunjukkan, 70 persen air tanah di

Jakarta

telah tercemar
e-coli. Hasil penelitian Amrta Institute di beberapa desa di Kabupaten Bantul
Jawa Tengah juga menunjukkan hal serupa. Di Bantul misalnya, ditemukan fakta
bahwa seluruh sample sumber air bersih penduduk tercemar bakteri e-coli dengan
kadar sampai 32 kali standar yang ditentukan Departemen Kesehatan.

Hal
ini kata Nila, terjadi karena sebagian besar sumur atau sumber air penduduk
berdekatan dengan kandang hewan, toilet dan tempat saluran pembuangan limbah.
Kedekatan lokasi ini membuat sumber air bersih penduduk terkontaminasi limbah
manusia dan hewan.

Peneliti pada Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera
Utara (UISU) Ayu Lathifah mengungkapkan, pada skala nasional ketersediaan air
bersih baru mencapai sekitar 60 persen. Artinya masih terdapat 40 persen atau
sekitar 90 juta rakyat

Indonesia

terpaksa mempergunakan air yang tak layak. Hingga tahun 2000, akses daerah
perdesaan di

Indonesia

terhadap sumber air baru mencapai 69%, dan

Vietnam

mencapai 72%. Sedangkan

Malaysia

sebagai negara di Asia Tenggara yang memiliki akses tertinggi terhadap sumber
daya air telah mencapai 94%.

Persoalan
pencemaran air

baku

juga mencemaskan. Sungai-sungai di Pulau Jawa yang merupakan sumber air bagi
masyarakat untuk berbagai keperluan umum, berada pada kondisi memprihatinkan
akibat pencemaran limbah industri dan limbah domestik.

Penelitian
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta pada
2006 menyatakan, dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta semuanya tercemar
bakteri escherichia coli (e-coli). Bakteri yang berasal dari sampah organik dan
tinja manusia ini juga mencemari hampir 70 persen tanah di kawasan Ibu Kota,
sehingga berpotensi mencemari sumber air tanah.

Menurut
Lathifah, kesulitan masyarakat memperoleh air bersih semakin bertambah, ketika
sebagian besar perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia beroperasi dalam
kondisi tidak sehat. Data Departemen PU (2000) menunjukkan, dari 290 PDAM yang
ada di seluruh

Indonesia

,
jumlah pelanggannya baru mencapai 4,8 juta. Dengan kapasitas produksi nasional
air PDAM yang 72.000 liter/detik, sebagian besar PDAM masih menghadapi masalah
kebocoran air (unaccounted for water) hingga menyentuh level 40%-50%.
PDAM juga dihadapkan pada manajemen buruk, sehingga sebagian besarnya merugi
bahkan menangguk utang.

Sumur Tercemar

Periset
Lingkungan dan Sumberdaya Alam P. Raja Siregar mengatakan, pemenuhan air bersih
di

Jakarta

belum menjangkau seluruh warga. Warga yang terhubungkan dengan jaringan air
bersih Perusahaan Air Minum (PAM) hanya 51%.

"Jumlah
ini sebenarnya kurang dari angka tersebut, karena banyak pelanggan tidak
mendapatkan air. Terpaksa, mereka mengambil air tanah (sumur atau pompa),
membeli air minum kemasan atau dari penjual air keliling. Padahal, sekitar 70%
air tanah di

Jakarta

tidak layak dikonsumsi," ujarnya.

Pemantauan
terhadap 48 sumur di Jakarta pada tahun 2004 menunjukkan, 27 sumur cemar berat
dan cemar sedang, dan 21 sumur lainnya terindikasi cemar ringan dan dalam
kondisi baik. Kurangnya pasokan air

baku

,
kata Raja, merupakan masalah utama ke depan. Pasalnya, ketersediaan air

baku

dari Waduk Jatiluhur
yang menjadi pasokan utama PDAM Jakarta cenderung menurun.

Sejak
1995, ketersediaan air tawar di Pulau Jawa hanya 30.569 juta meter kubik (m³)
atau sekitar 48,58 % dari total kebutuhan air yang mencapai 62.927 juta m³.
Ini berarti defisit sebanyak 32.347 juta m³. Tahun 2000 defisit air
diperkirakan mencapai 52.809 juta m³. Dengan gambaran tersebut, Pulau Jawa
saat ini telah masuk dalam kategori krisis air.

Kurangnya
pasokan air bersih, dan terkontaminasinya air oleh bakteri sangat riskan bagi
kesehatan. Penelitian Water and Sanitation Program World Bank
"Economic Impact of Sanitation in Southeast Asia
" menunjukkan,
kerugian yang diderita Indonesia akibat kondisi sanitasi yang buruk mencapai Rp
58 triliun pertahun atau Rp 265.000 per orang setiap tahun. Penelitian
mengungkapkan lebih dari 94 juta penduduk

Indonesia

tidak memiliki toilet
yang memadai di rumah-rumahnya. Kondisi ini mendorong terjadinya 121.000
kejadian diare yang menyebabkan 50.000 kematian per tahunnya.

Krisis
air dan sanitasi itu, kata Lathifah, bisa diatasi jika pemerintah memiliki
komitmen atas pengelolaan sumber daya air. Komitmen itu antara lain
mengalokasikan anggaran (dari APBN) untuk menyediakan dan memelihara
infrastruktur sumber daya air.

Millennium
Development Goals (MDGs) menargetkan bahwa pada tahun 2015, separoh masyarakat
dunia harus mendapatkan akses terhadap air bersih. Sebagai salah satu negara
yang bergabung dalam komitmen MDGs tersebut, tampaknya pemenuhan terhadap air
bersih masih menjadi isu "seksi" yang harus terus diwartakan.

Intervensi Faktor Lingkungan Cegah 13 Juta Kematian PrintE-mail23 Jun 2006

Lingkungan merupakan salah satu faktor penentu derajat
kesehatan, disamping beberapa variabel lainnya seperti perilaku, keberadaan
pelayanan kesehatan dan herediter. Senada dengan hal tersebut, menurut laporan
terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 24 % dari penyakit global
disebabkan oleh segala jenis faktor lingkungan yang dapat dicegah. Oleh karena
itu, ke depan semakin dibutuhkan upaya yang intensif dan serius dari banyak
pihak terkait untuk melakukan intervensi terahadap faktor lingkungan.

Laporan tersebut juga memperkirakan bahwa lebih dari 13 juta
kematian tiap tahun disebabkan faktor lingkungan yang dapat dicegah. Hampir
sepertiga kematian dan penyakit pada sedikit negara maju disebabkan faktor
lingkungan. Kelompok masyarakat rentan juga tidak luput dari pengaruh
lingkungan terhadap kesehatan mereka. Diestimasikan bahwa lebih dari 33%
penyakit pada balita disebabkan oleh paparan lingkungan. Pencegahan terhadap
faktor risiko lingkungan dapat menyelamatkan sebanyak 4 juta nyawa balita, yang
sebagian besar berada di negara-negara berkembang. Demikian menurut situs resmi
WHO.

Empat
penyakit utama yang disebabkan oleh lingkungan yang buruk adalah diare, infeksi
Saluran Pernapasan Bawah, berbagai jenis luka yang tidak intens, dan malaria.
Lebih dari 40% kematian akibat malaria, dan diperkirakan sekitar 94 % kematian
disebabkan oleh Diare, yang merupakan dua pembunuh anak-anak terbesar di dunia,
dapat dicegah dengan pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Upaya yang dapat
dilakukan untuk mengurangi penyakit akibat lingkungan ini antara lain ;

  • peningkatan persediaan air
         bersih pada rumah tangga
  • higiene lingkungan yang lebih
         baik
  • penggunaan bahan bakar dan
         pembersih yang lebih aman
  • peningkatan keamanan lingkungan
         sehat
  • penggunaan dan pengelolaan
         materi beracun di rumah dan tempat kerja
  • pengelolaan sumber air bersih
         yang lebih baik

Laporan
WHO yang berjudul � Mencegah penyakit melalui penciptaan lingkungan sehat,
perkiraan permasalahan kesehatan di masa depan.�
merupakan studi paling
komprehensif dan sistematis saat ini tentang bagaimana faktor risiko lingkungan
yang dapat dicegah berperan terhadap banyaknya penyakit dan luka-luka. Dengan
menitikberatkan pada penyebab lingkungan, dan bagaimana berbagai penyakit
dipengaruhi oleh faktor lingkungan, para analis menunjukkan hal baru dalam
pemahaman interaksi antara lingkunagn dan kesehatan. Estimasi tersebut
menunjukkan betapa banyak kematian, kesakitan, dan kecacatan dapat dicegah tiap
tahun melalui pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Dr.
Anders Nordstr�m, mewakili Direktur Jenderal WHO mengatakan bahwa kita selalu
mengetahui lingkungan sangat mempengaruhi kesehatan, namun estimasi ini
merupakan yang terbaik hingga saat ini. Hal ini akan membantu kita untuk
menunjukkan bahwa investasi yang bijaksana untuk menciptakan lingkungan yang
baik dapat menjadi strategi yang berhasil dalam meningkatkan kesehatan dan
mencapai pembangunan yang bertahan lama.

"Untuk
pertama kalinya, laporan baru ini menunjukkan bagaimana penyakit dan luka
tertentu dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan dengan kadar berapa
banyak," kata Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan. Dr
Maria Neira. "Laporan itu juga menunjukkan dengan sangat jelas hasil yang
akan diperoleh bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan dengan serangkaian
upaya yang jelas, investasi yang terkoordinir. Kami meminta beberapa Menteri
Kesehatan, lingkungan, dan pihak lain untuk bekerja sama menjamin bahwa tujuan
terhadap kesehatan masayarakat dan lingkungan ini dapat terwujud."
Imbuhnya.

Penelitian
ini melibatkan telaah sistematis dengan berbagai literatur layaknya survey yang
melibatkan 100 pakar lebih di seluruh dunia. Penelitian ini, merumuskan
penyakit-penyakit spesifik yang diakibatkan oleh bahaya dari faktor lingkungan
yang telah dikenal baik, dan berapa besar pengaruhnya. "Penelitian ini
memberikan bukti terbaik yang ada hingga hari ini, mengenai keterkaitan
lingkungan terhadap 85 jenis penyakit dan luka. Sejak penelitian ini
menitikberatkan pada faktor risiko lingkungan yang diyakini dapat dirubah, kita
juga dapat melihat dimana upaya pencegahan kesehatan dirangkai dengan
pengelolaan lingkungan yang lebih baik dan upaya pembersihan dapat memberikan
dampak terbesar."

Kata Dr.

Neira.

Penyakit
dengan jumlah terbesar setiap tahun, dalam konteks kesehatan, kesakitan, dan
kecacatan yang diakibatkan oleh faktor lingkungan antara lain ;

  • Diare sebagian besar disebabkan
         air yang tidak bersih, sanitasi dan hygiene yang buruk
  • Infeksi Saluran pernapasan
         bawah, sebagian besar disebabkan oleh polusi udara, di dalam dan luar
         ruangan.
  • Luka yang tidak intens selain
         luka akibat kecelakaan, sebagian besar disebabkan oleh tata

    kota

    yang buruk atau
         tata rancang lingkungan yang buruk dari sistem transportasi.

  • Malaria, sebagian besar akibat
         sumber air yang buruk, pengelolaan penggunaan lahan dan rumah yang
         memungkinkan keberadaan vektor berkembang biak.
  • Kerusakan paru kronis Chronic
         Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) penyakit yang berkembang perlahan
         diindikasikan dengan hilangnya fungsi paru secara bertahap. (12 juta DALYs
         per tahun; 42% dari seluruh kasus secara global) sebagian besar disebabkan
         paparan debu dan partikulat di tempat kerja serta bentuk lain dari polusi
         udara di dalam dan luar ruangan.
  • Kondisi perinatal

Laporan
WHO menunjukkan bahwa faktor lingkungan berpengaruh secara signifikan terhadap
lebih dari 80 % penyakit-penyakit tersebut. Lebih jauh lagi, nampaknya secara
kuantitatif hanya risiko faktor lingkungan tersebut yang dapat berubah. Dengan
mengoptimalkan langkah terhadap faktor lingkungan, jutaan kematian dapat
dicegah tiap tahun, yang juga patut diperhatikan adalah perlunya kerjasama
dengan sector yang memilki keterkaitan erat dengan faktor lingkungan,

Awalnya
hanya ada 10 rumah yang mempunyai dan memakai jamban.
Munculnya rasa jijik, malu, dan berdosa menjadikan warga Ciseke,
Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, tidak mau lagi membuang kotoran
sembarangan.
    Seorang spesialis sanitasi ling